'Sedikit' kebaikan Dito

1626 Kata
Dito pulang kerumah lebih cepat dari biasanya. Yang biasanya setelah maghrib, namun saat ini ia pulang sebelum Maghrib. Atau seperti jam pulang kantor karyawan biasa pada umumnya, yaitu jam lima sore. Ia sangat tak suka akan sikap Rica yang mulai seenaknya. Apa yang dilakukan gadis itu benar-benar lancang. Tidak ada permintaan maupun persetujuan dari gadis itu untuk mengajari Leon bersepeda kepadanya. Padahal ia sudah menjadwalkan waktu untuk mengajari puteranya tersebut mengendarai sepeda diakhir pekan ini. Untuk urusan puteranya, Dito memang akan menjadi lebih sensitif dan protektif. Rica benar-benar memancing kemarahannya. Baru saja Dito sampai didepan gerbang rumahnya, ia sudah dikagetkan dengan pemandangan yang sangat membuatnya khawatir. Apa yang ia lihat didepan sana adalah puteranya yang sedang fokus mengendarai sepeda tanpa roda bantu. Dan baru berjalan beberapa meter Leon terjatuh. Buru-buru Dito keluar dari mobilnya dan menghampiri Leon. Meninggalkan mobilnya di depan gerbang rumahnya. "Kalau dia belum bisa, jangan kamu lepas roda bantunya!" Dito menatap Rica geram saat telah mendekati Leon. Rica yang tadinya tersenyum hendak menyemangati Leon yang terjatuh, terkejut bukan main saat mendengar bentakan dari Dito tersebut. Senyumnya tiba-tiba luntur saat tahu Dito sudah ada didepannya. "Tapi tadi dia udah bisa kok. Dia cepet belajarnya. Itu cuma lagi jatuh aja" Rica mengeluarkan pembelaan saat mendengar ucapan Dito. Ya, semua pembelaan yang dikeluarkan Rica adalah benar. Leon sangat cepat dalam proses belajarnya. Di percobaan pertama tadi saja bocah itu hanya menggunakan satu roda bantu. Dito menghiraukan penjelasan Rica. Ia hanya membantu Leon berdiri dan membersihkan celana anaknya dari rumput yang menempel. Dito melepas helm sepeda yang dikenakan Leon dan juga decker pelindung siku dan lutut bocah itu. Pria itu berdecak kesal saat melihat penampilan Leon yang lusuh akan keringat dan beberapa rumput kering yang menempel di badan anak itu. Apalagi saat melihat goresan dilengan Leon, membuat perasaan marah Dito semakin ingin meledak. "Lebih baik kamu pulang sekarang juga," "Rica minta maaf, Om Dito" Rica menundukkan kepalanya saat meminta maaf. "Ayah, Leon udah bisa kok pake sepeda. Kak Rica hebat banget ngajarin Leon" Senyuman tipis terbit dibibir Rica saat mendengar pembelaan dari Leon. Kepalanya yang tadi menunduk bergerak menatap Leon dengan tatapan bangga. "Kamu sekarang masuk kedalam Leon, mandi sama Bi Aya. Terus obatin luka baret dilengan kamu" Dito menatap Leon serius. Putera tunggalnya ini sekarang sudah mulai bebas karena bermain bersama Rica. Leon mengangguk saja dan langsung melaksanakan apa yang Ayahnya tersebut perintahkan. Ia sangat tau jika Dito sudah marah, maka yang harus ia lakukan hanyalah menurut. "Kak Rica, makasih yaa.. nanti kita main lagi oke?" Leon melambaikan tangannya ketika bocah itu berlalu dan melewati Rica. Melihatnya, Rica hanya tersenyum dan mengacungkan kedua jempolnya kearah Leon. "Sekarang kamu pulang," Melihat Leon yang sudah pergi masuk kedalam, Dito kembali memberikan atensinya pada gadis yang masih mengenakan seragam sekolahnya ini. "Udah sore banget. Apa ga mau nganter Om?" Rica tersenyum menggoda kearah Dito yang langsung pria itu sambung dengan pelototan tajam andalannya. "Pulang sendiri!" *** Rica berjalan keluar dari komplek perumahan Dito sudah hampir memasuki waktu Maghrib. Ia sudah janjian dengan ojol yang ia pesan untuk menunggunya didepan gerbang utama komplek saja. Selain karena memang ia sudah disuruh pulang oleh Dito. Rica hanya tidak ingin mood pria itu semakin hancur karena keberadaannya disana lebih lama. Sesekali kakinya menendang kerikil yang menghalangi jalannya. Memikirkan nasib perjuangan cintanya benar-benar membuat Rica lelah. Apa yang menurut Rica baik ia lakukan untuk pria itu ternyata buruk bagi pria itu. Rica bingung dengan sikap Dito. Pria itu benar-benar punya pribadi yang tak gampang tertebak. Rasanya ingin menyerah saja mendapatkan hati pria itu. Tapi hatinya tak rela jika tidak berhubungan lagi dengan pria itu. Terutama Leon. Ia sudah terlanjur menyayangi anak lucu itu. Saat sudah hampir sampai di gerbang utama komplek, Rica dikejutkan akan mobil yang berhenti disampingnya. "Ayo saya antar," Mata Rica terbelalak lebar melihat siapa yang menawarinya tumpangan. Tak sadar, tangan Rica bergerak menepuk pipinya sendiri. Menyadarkan diri sendiri apa ini mimpi atau bukan. "Aww.." ringisan kecil keluar dari bibir Rica saat merasakan sakit akibat tamparannya sendiri. Tapi sedetik kemudian Rica malah langsung tersenyum. Itu artinya ini nyata. Dito menawarinya tumpangan untuk pulang. Ralat.. Dito sengaja mengantarnya pulang karena rumah mereka tentu tidak searah. "Lima detik belum masuk, saya putar balik-" BLAM!! Dito tersentak kaget. Saat ia belum menyelesaikan ucapannya, Rica sudah lebih dulu masuk kedalam mobilnya dan menutup pintu keras. Sedikit speechless saat melihat tingkah ajaib gadis ini. Entah mengapa hal yang ada di diri Rica sungguh sangat kontra dengan apa yang ada di dirinya ini. "Ayo," Rica tersenyum lebar menatap Dito. Namun perlahan senyuman lebar tersebut luntur kala Dito hanya diam saja menatapnya dengan tatapan aneh. Mata Rica berkedip-kedip polos saat merasa ditatap seperti itu. Ada yang salah dengan dirinya? "Kamu makan apa sebenarnya?" Double combo! Senyuman Rica tak mampu ia tahan. Secepat ini kah akhir perjuangannya? Haruskah ia mengadakan acara syukuran dirumahnya besok? "Kamu kenapa senyum?" Selidik Dito aneh. Dito yakin sekali jika apa yang ada di otak kecil Rica tersebut adalah sesuatu yang bodoh. Gadis itu kan lebih sering salah pahamnya dari pada tepat menebak. But, exactly! Rica mengira jika pertanyaan dari Dito tersebut tersebut adalah sebuah ajakan makan malam. Padahal sudah jelas maksud pertanyaan yang Dito lemparkan untuk Rica. Gadis itu saja yang lamban memahami. "Aku biasa makan malam dirumah sih, Om" Rica tersenyum malu-malu sesaat setelah mengatakannya. Mendengar hal tersebut, Dito hanya mengerutkan dahinya merasa aneh dengan ucapan Rica. Tepat sekali kan apa yang Dito pikirkan. Kalau gadis ini sudah salah paham akan maksudnya pasti membuat mood Dito kembali rusak. Padahal tadi ia sudah sedikit berbaik hati untuk mengantarkan Rica pulang kerumahnya. "Kamu pikir saya ngajak kamu makan malam?" Tanya Dito santai seraya menarik pedal gas dan mulai menjalankan mobilnya. "Tadi pertanyaannya?" Jawab Rica polos "Saya nanya, sebenernya kamu ini makannya apa? Kenapa kuat sekali menutup pintu mobil" Mendengar penjelasan Dito, Rica mengerucutkan bibirnya kesal. Sial. Ia pikir pria itu mau mengajaknya dinner. Kenapa ekspektasinya akan pria ini selalu tidak tepat sih? "Rumah kamu dimana?" Tanya Dito tanpa melirik Rica sedikit pun. "Nanti dari sini, Kan tembus ke jalan Veter-" "Masukan saja alamatnya disana" Dito menunjuk tablet miliknya yang tergeletak di atas dasbor yang menggunakan dagunya. Suasana hening di mobil tersebut pecah saat suara ponsel Rica mengagetkan mereka berdua. Nomor tak dikenal? "Iya, Waalaikumsalam?" "Astaga! Maaf, Pak. Iya-iya saya lupa. Bapak dimana sekarang?" "Oke tunggu disana ya, Pak" Rica menutup sambungan telepon dan segera menatap kearah Dito dengan tatapan memelas . "Apa?" Dito bertanya saat ditatap begitu. " Om Dito, Putar balik kedepan gerbang komplek please" Dito mendengus kesal. Bisa-bisanya gadis ini lupa jika ia sedang memesan ojol untuk pulang kerumah. Tanpa bicara, Dito dengan cepat mencari U-Turn. Pria itu langsung putar balik mengikuti permintaan Rica. Tak butuh waktu lama, mereka akhirnya sampai di depan gerbang komplek perumahan Dito tadi. Disana sudah ada seorang ojol yang duduk sendirian diatas motornya. Dengan cepat rica berlari keluar dari mobil Dito dan menghampiri ojol tersebut. "Pak, Jiman?" Tanya Rica terengah-engah. "Ini yang lupa mesen tadi ya?" Rica tersentak saat mendengar suara ojol didepannya ini sedikit meninggi, nyaris membentak. Demi apapun Rica sangat benci dibentak seseorang. "Iya Pak, maaf ya Pak saya cancel. Saya lebihin ini bayarnya" Rica langsung mengeluarkan dompetnya dan memberikan selembar uang lima puluh ribuan kepada ojol tersebut. "Lain kali lihat situasi dulu neng kalo mau mesen," Ojol tersebut bergegas pergi meninggalkan Rica. Selepas ojol tersebut pergi, Rica berjalan kearah mobil Dito lemas. Please, ia sangat tidak suka dibentak. Hal tersebut pasti akan membuatnya murung. Dito yang melihat hal tersebut menjadi penasaran dengan apa yang telah terjadi. Ia masih menahan untuk tidak bertanya. Namun saat sudah setengah perjalanan, Dito tak tahan berada dikeadaan hening dengan Rica yang terus murung begini. "Bapak-bapak tadi bilang apa?" Rica menggelengkan kepalanya menanggapi pertanyaan Dito. Dialihkannya pandangan kearah kaca jendela mobil disampingnya. Menatap kelap-kelip lampu mobil diluar sana. Rica benar-benar sedang tidak dalam mood yang bagus sekarang. Rica menoleh kearah Dito bingung saat tiba-tiba mobil pria itu berhenti didepan gerbang utama komplek perumahannya. Namun sesaat ia tersadar, ternyata Dito hanya ingin mengantarnya sampai disini saja. "Makasih ya Om Dito udah mau nganterin, Rica pulang dulu" "Tunggu disini, jangan keluar dulu" Sesaat setelah mengatakannya Dito dengan cepat melepas seatbelt dan keluar dari mobilnya. Rica mengerutkan keningnya heran ketika melihat pria itu memasuki minimarket yang ada didepan gerbang utama komplek perumahannya ini. Tak lama, Dito kembali masuk ke mobilnya dengan membawa kantung kresek berlabel minimarket tersebut. "Ambil," Dito mengulurkan kantung kresek tersebut kepada Rica. "Minta dipegangin aja atau buat saya, Om?" "Buat kamu," Ucapan Dito tersebut membuat Rica membelalakkan matanya tak percaya. Sebelum Dito kembali hilang mood, Rica buru-buru mengambil kantung tersebut dan melihat isinya. Mata Rica semakin berbinar ketika melihat isi dari kantung kresek tersebut. Es krim. Ya, Dito membelikan Rica seplastik Eskrim dengan varian rasa dan brand yang berbeda untuk Rica. Ini sedang tidak halu. "Buat Rica semuanya nih?" Rica kembali bertanya guna memastikan. Namun hanya anggukan kepala saja yang ia dapati dari Dito yang sekarang sedang sibuk memundurkan mobilnya untuk kembali memulai perjalanan. "Anda telah sampai ditujuan" suara dari pemandu google maps di tablet Dito menghentikan kegiatan Rica menjilati es krimnya. Gadis itu melihat keluar jendela dan mendesah kesal. Kenapa bisa secepat ini sih sampainya. "Sudah sampai. Silahkan turun" "Makasih ya Om Dito udah nganterin Rica sampai rumah, makasih juga es krimnya.. duh jadi tambah sayang deh" Rica terkikih kecil diakhir kalimatnya. Ia sendiri geli mendengar apa yang ia ucapkan. "Silahkan turun Rica" ulang Dito geram. Gadis ini memang pantang diberi kebaikan ternyata. "Iya, iya aku turun sekarang" Rica melepas safety belt nya dan meraih kantung kresek berisi eskrim tersebut. "Dah Om Dito, Good night" Rica mengucapkan salam perpisahan sebelum menutup pintu mobil Dito, dan pulang dengan senyum yang merekah sempurna dibibirnya. *** Visa Ranico, Prabumulih, Sumatera Selatan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN