Perjuangan Merajut

1119 Kata
"Maghrib banget kamu pulang yaa.. Bagus banget bebas kalo gaada Papa kamu dirumah" begitu memasuki rumah Rica langsung disambut oleh ocehan Laila. Mamanya itu sekarang tengah duduk di ruang tamu dengan gadget ditangannya. Senyum lebar yang terpatri diwajah cantik Rica pun tiba-tiba luntur ketika melihat Laila yang seolah siap marah-marah dengannya. "Tadi ada tugas, Ma" Rica memejamkan matanya takut karena sudah berbohong. Demi apapun ia sangat benci untuk berkata bohong. Entah mengapa setelah selesai berbohong hatinya akan merasa tak enakan. Seperti ada beban yang sangat besar. "Jangan bohong kamu," Jawab Laila menyelidik. Ia sangat tahu anak gadisnya ini. Rica adalah anak yang paling tidak bisa berbohong diantara Rio dan Nino. Mungkin diantara semua orang yang ada di komplek ini. "Iya, kok" jawaban Ragu dari Rica semakin menguatkan Laila untuk mendesak putrinya itu berkata jujur. "Mau ngaku sekarang atau-?" "Iya.. iya.. Rica baru pulang dari rumah Om Dito," belum selesai Laila bicara, Rica sudah lebih dulu mengakui kesalahannya. 'kan sudah Laila bilang, putrinya ini adalah orang paling jujur yang pernah ia lahirkan. "Ngapain sampe se-sore ini?" Laila kembali bertanya untuk mengorek informasi dari Rica. "Rica main sama anaknya lah, ngajarin anaknya main sepeda juga" "Mama ga suka ya kamu pulang Maghrib-maghrib begini demi Dito dan anaknya. Kalau benar kamu mau pulang Maghrib dari sekolah dengan alasan tugas, mama ga masalah. Tapi kalau untuk alasan 'Perjuangan' kamu untuk pria itu, Mama ga suka!" Nada bicara Laila terdengar serius, membuat Rica hanya diam, enggan membalas. "Perjuangan itu ada batasnya, nak. Ga harus mengorbankan waktu sekolah dan 'me time' kamu sendiri." "Rica janji, ga akan pulang Magrib lagi" hanya itu kata yang terlontar dari mulut Rica. Ia bingung mau menjawab apa. Salah jawab bisa semakin panjang obrolan ini. Dan ia sudah lelah. "Sana mandi, terus turun makan malam" Laila kembali mengalihkan fokusnya pada gadget yang tadi sempat ia anggurkan karena memarahi Rica. Sebelum beranjak ke kamarnya, Rica justru mendekat kearah Laila dan mencium pipi wanita paruh baya itu sekilas. "Maafin Rica ya, Ma" "Iya, kamu mending mandi. Bau keringet Mama ga suka" jawaban Laila membuat Rica tertawa kecil dan segera beranjak dari sana. Tak lupa sebelum masuk ke kamarnya ia mampir dulu kedapur untuk memasukan es krim miliknya kedalam kulkas. *** Seusai mandi dan sholat Maghrib, Rica langsung membereskan daftar pelajaran yang akan ia bawa besok. Ia tidak akan turun makan malam karena malam ini ia sudah kenyang memakan es krim yang tadi Dito belikan dan juga omelan Mamanya. Rica menepuk dahinya kuat ketika tak sengaja membuka buku Biologinya tepat di bagian kertas yang terlipat. Dipojok halaman kertas yang terlipat itu ada tulisan yang menyatakan besok adalah hari pengumpulan tugas. Dengan cepat Rica mengambil pulpen dan bukunya dan langsung mengerjakan Pekerjaan Rumah tersebut dengan sedikit terburu-buru. Rica selesai mengerjakan tugasnya tepat jam sembilan malam. Ia merenggangkan sendi-sendinya yang terasa kaku, lantas kembali menyusun perlengkapan sekolahnya yang akan dibawa besok. Setelah semua persiapannya selesai, Rica kembali meraih Sweeter rajut yang baru terlihat setengah jadi tersebut dan kembali meneruskan pekerjaan merajutnya. Sesekali ia meringis kesakitan kala ujung jarum rajut yang ia pakai menusuk kulit tangannya. Kesalahan Rica adalah menggunakan jarum rajut dengan ujung yang tajam. Karena ketidak tahuannya dalam dunia rajut merajut, jadi ia hanya asal membeli saja. Dan ketika sudah sampai dirumah pun sudah Uni peringatkan untuk membeli jarum rajut dengan ujung tumpul saja. Namun dengan kekeuhnya karena ingin cepat belajar, Rica memutuskan untuk tetap memakai jarum tersebut. Alhasil, sudah banyak bekas tusukan jarum yang ada ditangannya. Dan darah yang keluar pun hanya Rica lap menggunakan tisu biasa, kemudian melanjutkan pekerjaannya seperti biasanya. Ditengah pekerjaannya merajut Sweeter, Rica teringat akan sesuatu yang sangat krusial. Ia belum mengirim ucapan selamat malam hari ini untuk Dito. Dengan meninggalkan pekerjaannya sejenak kemudian mencari ponselnya. Cukup lama ia mencari ponselnya tersebut hingga ia sendiri kesal karena lupa menaruhnya dimana. Bahkan, ia rela mengetuk kamar Nino yang ada disebelahnya untuk minta tolong menelpon ponselnya. "Gila, ya lo Kak! Ketuk dulu kenapa?!" Nino berdecak kesal melihat keberadaan Rica yang datang dengan cara yang sangat mengagetkan. Bahkan saking kagetnya ia refleks memencet tombol memutuskan sambungan video call. Padahal ia tadi sedang sangat santai melakukan panggilan video bersama 'temannya'. "Pinjem hp lo" Rica merampas ponsel Nino yang sedang adiknya itu pegang. Melihatnya, mata Nino terbelalak lebar saat mengira jika Rica akan menginspeksi ponselnya yang baru saja melakukan video call dengan temannya tersebut. "Kak!" Nino mengulurkan tangannya hendak merebut kembali ponsel miliknya yang ada ditangan Rica. "Gue mau nelpon hp gue, bentar doang" seraya menempelkan ponsel tersebut ketelinganya, Rica berjalan kembali ke kamarnya untuk mengikuti sumber suara dari ponselnya tersebut. Setelah ketemu gadis itu kembali ke kamar Nino untuk mengembalikan ponselnya Adiknya tersebut. "Tuh ada yang w******p, 'kenapa mati?' " Rica tertawa setelah mengembalikan ponsel milik Nino. Mendengar ledekan dari kakaknya tersebut, Nino berteriak kesal mengumpati Rica yang baru saja berlalu dibalik pintu kamarnya. Rica mengetikkan beberapa kata ucapan selamat malam untuk Dito. Ia tahu kok pesannya ini tak akan Dito balas. Dibaca pun mungkin tidak. Tapi Rica tetap optimis menetesi 'batu' keras ini dengan cinta dan kasih sayang tanpa batas darinya. Ia sangat menyukai Dito. Terlepas dari sikap kasar pria itu padanya. Setelah mengirim pesan tersebut, Rica kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda. Di raihnya kembali Sweeter setengah jadi tersebut dan lanjut merajut lagi. Rica menghilangkan rasa kantuknya dengan mengingat kembali kejadian hari ini. Kejadian dimana Dito dengan baik hatinya mau mengantarkan ia pulang dan membelikannya sekantung es krim. Yah, walaupun sudah dimarahi dulu sebelumnya karena lancang mengajari Leon mengendarai sepeda. Tapi hal tersebut tak mampu menghilangkan senyum Rica yang saat ini terpatri. Senang rasanya diperlakukan baik seperti itu. Ia berharap, sikap Dito untuk saat yang akan datang berikutnya tetap seperti itu padanya. Tidak kasar lagi dan mau menerima dirinya. Yaa doa'kan saja dulu. Manusia kan hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan. Tuhan maha pembolak-balik hati. Ia yakin, suatu saat Tuhan berbaik hati dengan membolak-balik kan hati Dito untuknya. Membuat rasa sayang pria itu akan dirinya muncul. "Ahh.." ringisan kecil kembali keluar dari bibir Rica untuk yang kesekian kalinya. Ya. Ia tertusuk jarum rajut lagi. Darah kembali keluar sedikit dan dengan cepat Rica lap menggunakan tisu yang sudah stand by diatas nakas samping tempat tidurnya. Seraya mengelap darah yang keluar dari jarinya, Rica melirik jam dinding yang ada diatas pintu kamarnya. Jarum jam sekarang menunjukan pukul setengah sebelas. Ia berjanji akan tidur sepuluh menit lagi. Dengan cepat, Rica kembali meraih pekerjaannya dan kembali merajut. Padahal ia sudah beberapa kali menguap dengan kepala hampir jatuh saking mengantuknya. Memang dasar Rica keras kepala. Alhasil ia mampu menahan kantuknya dua puluh menit lebih lama dari plan awal gadis itu. Ya, Rica memilih menyudahi pekerjaannya dan pergi tidur di pukul sebelas malam. *** Visa Ranico Prabumulih, Sumatera Selatan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN