Good Job

1230 Kata
Satu Minggu kemudian. Hari ini tepat satu bulan Rica menyelesaikan pekerjaan merajutnya. Binar bahagia diwajahnya tak mampu ia sembunyikan saat melihat hasil kerja kerasnya selama sebulan ini. Ia berencana memberikannya kepada Dito besok hari Minggu. Semoga saja Dito suka. Sudah banyak waktu yang sudah ia korbankan untuk membuat satu Sweeter rajut ini. Darah akibat tak sengaja tertusuk jarum dan keringat lelah pun juga sempat terkorban dalam project kali ini. Belum lagi sakit pinggang dan sakit punggung yang ia rasakan karena duduk berjam-jam untuk merajut. Semua itu terbayar setimpal saat Rica melihat hasil kerja kerasnya ini jadi dengan rapi dan bagus. "Uni, makasih ya Ni udah sabar ngajarin Rica ngerajut.. Rica seneng banget akhirnya jadi juga" Rica memeluk Asisten Rumah Tangganya yang sedang mencuci piring tersebut dari belakang. Mengucapkan banyak terimakasih pada Uni yang mau sukarela mengajarinya merajut sampai bisa disela sibuk akan pekerjaan wanita itu. "Yo santai saja Ca. Uni juga pertama belajar gagal terus, makanya belajar dan yang mengajarkan harus sama-sama sabar" Uni membalas ucapan Rica yang masih menempe dibelakangnya. "Iya juga ya Ni. Uhmm.. Uni lagi pengen makan apa?" Rica melepaskan pelukannya dan berpindah posisi menjadi disamping Uni. "Loh ndak usah, Ca. Uni ikhlas kok ngajarin Rica" Uni menolak tawaran Rica. "Gapapa, Rica mau keluar soalnya nanti sama Nino. Uni mau nitip apa?" "Yo ndak usah lah Ca" Uni terus menolak tawaran Rica. Sampai akhirnya karena Rica terus mendesak menanyakan ia sedang pingin apa, Uni hanya menjawab asal. "Yang makanan Korea itu aja lah, Ca. Yang pas dimakan keluar asap" Rica mengerutkan keningnya heran Mendengar ucapan Uni. Makanan keluar asap? Apa itu? "Daging asap?" Tanya Rica memastikan? "Loh bukan.. itu loh dia itu kayak ciki, tapi ada asapnya" Lama Rica berpikir keras mencari tahu apa yang dimaksud Asisten Rumah Tangganya ini. Makanan Korea? Ciki? Keluar asap? Aha! Pongpong Korean Snack? "Oohh pongpong ya, Ni?" Tanya Rica memastikan. "Ya mana Uni tahu" Dengan cepat Rica mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan pada Uni gambar dari Pong Pong. Begitu Uni mengangguk, Rica langsung bergegas membeli apa yang Uni mau. *** Rica memasukan hasil karyanya tersebut kedalam tasnya. Ia sangat excited untuk menunjukkan hasil karyanya kepada para sahabatnya. Ya. Rica akan meminta penilaian dari para sahabatnya dulu. Apakah sudah bagus, atau harus ditambahkan apa lagi agar Sweeter rajut ini terlihat lebih cantik. Ia juga akan membeli kotak, paper bag dan pita untum mempermanis tampilan hadiah yang akan ia beri pada Dito. Hope Dito like it. Rica kembali merapikan rambutnya dan menatap pantulan bayangan dirinya dicermin. Saat dirasa semua sudah pas. Ia keluar dari kamarnya dan mulai akan merusuh dikamar Nino. "No, buruan.. anter gue kerumah Elisa" Rica menarik selimut Nino yang membalut tubuh jangkung adiknya itu. Berusaha membangunkannya dengan cara apapun. "Kak Rica lo kenapa sih ah" "Buruan bangun udah siang" Rica membuka gorden kamar Nino secara paksa, membuat cahaya matahari pagi masuk kedalam kamar pria itu dan menyebabkan tidur Nino benar-benar terganggu akan silaunya. "YaAllah, Ya Robbi.. ampunilah dosa hamba ya Allah" seraya duduk, Nino mengacak-acak rambutnya kesal karena tingkah kakaknya ini yang selalu semena-mena akan dirinya. Demi apapun ia sangat mengantuk sekarang. Insomnia yang tiap malam menyerangnya benar-benar membuat Nino kesulitan mengatur jadwal hariannya. Tadi selepas sholat subuh ia baru tidur, dan sekarang Rica datang membangunkannya untuk minta diantar. "Cepetan, No.. temen-temen gue nungguin" "Sepuluh menit.. kasih gue waktu sepuluh menit buat cuci muka" Nino mengusap wajahnya kasar, antara kesal dan pasrah. "Oiya, ini duit beliin Pong Pong aja semuanya" Rica menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan kepada Nino yang langsung remaja itu ambil dengan wajah bingung. "Banyak amat" "Iya buat Uni. Nanti pas lo balik nganter gue aja. Lo boleh ambil satu kok" Setelah mengatakan titah tersebut, dengan entengnya Rica berlalu dari kamar Nino. Meninggalkan Nino yang sudah hampir meledak karena kesal. "Gue ga akan mampir ke mall kalo belum mandi yaa.." Nino berteriak kesal saat mendengar perintah Rica kali ini. Ia diminta membeli pongpong yang notabenenya ada di dalam mall. Dan kondisinya sekarang ia pun belum mandi. "Delapan menit lagi, No. Buruu" "Ahhhh!!!" Nino berteriak frustasi saat mendengar suara Rica yang meneriakinya dari lantai bawah agar cepat-cepat bersiap. Kakaknya ini benar-benar membuat hidupnya makin rumit. Untung saja ia sayang. *** "Haii" Rica memasuki kamar Elisa dengan wajah semringah dan ceria. Ditangan kanannya ada kresek sedang berisi minuman dengan toping Boba favorit mereka. "Nih, Boba favorit kalian" Rica membagikan minuman tersebut satu persatu kepada sahabatnya. "Gue persen pizza nih, bentar lagi masnya sampe" Sahut Chika seraya menyisir rambutnya dipojok kamar. "Itu cemilan makan aja" Rena menunjuk paper bag besar yang tadi ia bawa berisi banyak makanan ringan. Hari ini mereka akan melakukan quality time bersama. Mulai dari sesi curhat, menonton film, skincare-an bersama dan sebagainya. "Kalian mau apa nih entar gue pesenin. Elisa baru saja keluar dari kamar mandi kamarnya dengan handuk yang melilit dikepalanya. "Kayaknya ini cukup deh, Sa. Lo mau minjemin kamar lo aja kita udah syukur banget" Chika terkekeh diakhir kalimatnya. "Iya dirumah gue gaada apa-apa soalnya. Paling cuma ada stock samyang Kak Deon. Masak aja kalo kalian mau" "Boleh tuh.. bikin samyang challenge yuk?" Usul Chika semangat. Di otak anak itu sekarang adalah ' wah konten bagus nih'. Apalagi Rena dan Rica menyetujui ajakan tersebut. "Eh by the way tadi gue ketemu Kakak lo dibawah. Ga dinas dia?" Tanya Rica yang sekarang sedang sibuk membuka cemilan yang tadi dibawa oleh Rena. "Iya, dia sekarang tugasnya malem. Soalnya kalo tugas siang malah suka buat macet kata komandannya" jawaban Elisa membuat ketiga temannya mengerutkan dahi bingung. Kurang menangkap arti yang Elisa bicarakan. "Enghh.. Kakak lo kan polisi lalu lintas. Ya kali buat macet" Rena mengutarakan kebingungannya "Lo lupa ya? Kakak gue kan lagi viral di i********:. Banyak yang minta foto gitu jadi yaa macet dan ga kondusif lalu lintasnya" Rica, Rena dan Chika terbahak keras mendengar penuturan Elisa. Mereka tak habis pikir, the power of social media sampai segitunya bagi orang good looking macam kakak Elisa. *** "Jadi gini loh.. Taraa" Rica menunjukan hasil kerja kerasnya selama satu bulan ini kepada sahabatnya dengan bangga. Setelah mereka mengadakan samyang challenge dan membuat vlog untuk YouTube Chika, sekarang mereka kembali bersantai seraya menikmati cemilan. Masker dengan beda varian dan fungsi juga melekat diwajah mereka masing-masing. "Udah jadi ya? Wahh keren banget" ketiga sahabat Rica semakin mendekat kearah Rica untuk mengamati hasil kerja salah satu sahabatnya itu. Wajah kagum yang tak tampak dibuat-buat sangat terlihat diwajah ketiga sahabat Rica. Dan Rica senang akan itu. "Kira-kira bagus dikasih apalagi? Aksen bunga bagus ga?" Tanya Rica. "Ga usah dikasih apa-apa, Ca. Ini udah bagus banget tau. Polos gini aja udah" Saran Rena. "Iya, entar kesannya malah norak kalo ditambah kembang rajut" Elisa ikut menimpali yang diamini Chika juga. "Gue pulang ini mau beli paper bag sama pita sih biar cantik pas ngasih" Rica terkekeh geli diakhir kalimatnya. Ia sudah membayangkan betapa manisnya Sweeter ini ketika dibungkus. "Iya gapapa sih, asal jangan berlebihan aja pitanya, entar jatohnya norak. Lo kan mau ngasih hadiah buat cowok" komentar Chika panjang lebar. "Iya mau satu aja kok buat hiasan paperbag nya" Jawab Rica menyetujui komentar Chika. "Doain yaa.. semoga Om Dito suka sama hadiahnya" Rica kembali membuka suara. "Iya kita doain. Kabarin yaa kalo berhasil. Kalo ga berhasil juga kabarin. Kita bakal ada kok buat lo, Ca" Rena tersenyum tulus seraya menepuk-nepuk pundak Rica seolah memberi semangat. *** Visa Ranico Prabumulih, Sumatera Selatan
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN