Setelah memesan makanan dan telah diberi nota serta nomer pesanan, Ayana langsung melihat pesan WA dari Rafa yang mengabari meja makan mereka. Lalu ia bergegas ke meja yang Rafa maksud. Ia melihat Rafa yang sedang menatap ponselnya dengan sibuk hingga tidak mengetahui jika Ayana sudah berjalan menuju ke arah mejanya. Ayana lalu menempatkan diri untuk duduk di bagian seberang Rafa atau menjadi berhadapan dengan Rafa. Setelah itu ia menarik kursi yang ingin dia duduki hingga berderit, dan barulah Rafa menyadari keberadaannya.
"Sudah pesannya?" Tanya Rafa basa-basi karena di atas meja mereka hanya ada nomer pesanan mereka saja dan meletakkan ponselnya pada meja. Ia bermaksud untuk meminta nota yang akan dibayarnya di kasir nanti.
"Sudah, Pak. Oh iya saya lupa notanya belum saya berikan pada Bapak," Jawab Ayana sembari mengeluarkan nota pesanan Rafa dari dompetnya.
"Haha. Santai kok, Ya. Ntar habis makan juga nggak papa," ucap Rafa dengan cengirannya.
"Ehmm, Nggak papa kok, Pak. Mumpung tangan saya juga belum kotor karena makanan," ucap Ayana dengan senyum tipisnya.
"Oh iya kalau kamu mau makan duluan nggak papa kok," Ucap Rafa dengan tersenyum. Akhirnya Ayana membuka paper bag nya dan mengeluarkan dua buah kotak makan serta satu botol minum.
“Pak saya cuci tangan dulu ya,” ucap Ayana.
“Iya. Nanti gantian,” ucap Rafa.
Setelah Ayana kembali dari mencuci tangannya ternyata makanan dan minuman Rafa sudah datang. Rafa yang mengetahui Ayana yang sudah kembali dari mencuci tangannya langsung berdiri dan bergantian untuk mencuci tangannya di wastafel.
Setelah selesai makan siang, Mereka berjalan ke kasir untuk membayar pesanan yang telah Rafa santap tadi. Terlihat terdapat antrean mengular di kasir tersebut, mengingat sebentar lagi jam masuk kantor tiba. Para karyawan yang mengantri mulai menyapa dan tersenyum ramah pada Rafa, mereka membiarkan Rafa menyerobot antrean mereka. Namun Rafa malah merasa risih terhadap sikap para pegawai perempuannya yang terlihat terlalu over kepadanya. Hal tersebut juga dapat dirasakan oleh Ayana dan akhirnya Rafa hanya menanggapi mereka dengan senyum tipisnya. Ia memang ramah terhadap semua pegawai tapi ia hanya dekat dengan pegawai yang ia kenal saja. Itulah salah satu yang menjadi alasannya malas untuk makan di kantin kantor.
"Kamu yang antre ya, Ya! Ini nota sama uangnya. Aku tunggu di meja situ ya?" ucap Rafa akhirnya karena ia risih dengan pegawai-pegawai wanita yang sedang memandanginya.
"Baik, Pak." ucap Ayana sembari berjalan dan mulai mengambil antrean paling belakang. Rafa yang melihat Ayana mengantre di antrian belakang tersebut langsung berdiri dari duduknya dan memanfaatkan pegawai-pegawai wanita yang sedang ganjen padanya untuk menyerobot antrean.
"Mbak, sekretaris saya biar mengantri di sini sesuai tawaran tadi ya?" Ucap Rafa dengan senyum tipisnya. Sontak pegawai tersebut langsung meng-iyakan perkataan Rafa dengan anggukannya. Menurut para pegawai perempuan di kantor tersebut, Rafa adalah lelaki idaman bagi mereka. Karena pria itu begitu baik, murah senyum, dan tidak sombong dengan pegawainya, bahkan terhadap seorang OB sekali pun. Belum lagi visualnya yang menyerupai orang Arab dengan ketampanannya dan lesung pipi yang manis, kulitnya yang putih serta postur tubuh yang tinggi dan tegap. So Perfect. Apalagi pria itu masih melajang di usianya yang semakin mendekati kepala tiga.
"Antre dari situ saja, Ya!" ucap Rafa saat menghampiri Ayana yang masih mengantri di belakang. .
"Ta-tapi, Pak, tidak enak menyerobot antrean orang," ucap Ayana dengan tergagap. Jujur dia masih ada rasa takut saja dengan pegawai lain yang notabenenya lebih senior darinya di kantor tersebut. Ia tidak mau dicap yang aneh-aneh oleh para seniornya.
"Tidak apa-apa. Saya sudah izin ke dia," ucap Rafa sambil mengarahkan Ayana ke tempat yang ia minta pada pegawainya tersebut.
"Tidak apa-apa, Mbak. Sini antre di depan saya, Mbak," Ucap pegawai yang akan didahului antreannya oleh Ayana. Akhirnya Ayana maju ke posisi antrean yang telah Rafa booking kan untuknya. Setelah itu Rafa mengucapkan terima kasih kepada pegawainya yang mau mengalah itu dan duduk kembali di meja tempat ia menunggu Ayana tadi.
"Maaf ya, Mbak, sudah menyela antreannya," ucap Ayana kepada pegawai wanita tersebut.
"Iya nggak papa, Mbak. Mbak, penggantinya Mbak Rana ya?" tanya pegawai wanita di belakangnya dengan senyumnya.
"Iya, Mbak. Ini baru beberapa hari saya bekerja dengan Pak Rafa," jawab Ayana dengan nada agak canggung.
"Santai aja, Mbak ngobrolnya nggak usah takut, hehe" tanya pegawai itu tadi, "oh iya, by the way kita belum kenalan tadi. Kenalin aku Faya dari departemen keuangan. Nama kamu siapa?" lanjut pegawai perempuan tersebut kemudian dengan mengulurkan jabatan tangannya.
"Salam kenal. Nama saya Ayana, Mbak. Jangan manggil saya "Mbak" ya, Mbak. Saya kok malah nggak enak sama Mbak, karena Mbak Faya ini lebih senior daripada saya," jawab Ayana dengan senyumnya sembari menerima jabatan tangan perempuan bernama Faya tersebut. Ternyata Faya sangat baik, dia sama sekali tidak mengedepankan sikap senioritasnya,
"oh iya, umurku 26 kelihatan tuanya ya. Kelihatannya kamu lebih muda dari aku deh, haha" ucap Faya dengan tawanya.
"Umur saya 24, Mbak. Jadi seharusnya memang saya yang memanggil Anda dengan sebutan "Mbak". Hehe," jawab Ayana sembari tertawa.
"Kupikir kamu tadi lebih muda lagi lho, Dek. Masih kayak freshgraduate gitu, hehe," ucap Faya dengan senyumnya.
"Masa sih, Mbak? Jadi malu saya, Hehe" Tanya Ayana dengan tersipu malu sambil melihat antrian di depannya, '4 orang lagi,' batinnya.
"Pantesan ya Pak Rafa akhirnya mau keluar dari sarangnya sekarang. Sekretarisnya cantik gini mana ramah pula. Tahu nggak sih Dek, Dulu waktu sama Mbak Rana boro-boro beliau keluar ke kantin kalau nggak sama Aura dan Pak Arka, bahkan makan siang pun sering di ruangannya. Kalau pun makan di luar ruangan, ya ke restoran luar. Kami yang pegawainya aja sampai jarang bertemu Beliau. Berkat kamu deh kayaknya Pak Rafa jadi mau makan di kantin ini. Makanya banyak pegawai wanita yang caper padanya," jawab Raya dengan mata yang mengerling menggoda Ayana. Ayana yang tiba-tiba menundukkan kepalanya karena ia yakin sepertinya pipinya akan menjadi merona. Ia sangat kaget dengan lontaran omongan Ayana tentang hal tersebut. Ia masih berusaha berpikir positif saja. Ia tidak mau kege-eran.
"Ehm, tadi Pak Rafa mau makan di luar, Mbak. Tapi karena setelah makan siang katanya ada kerjaan jadi tadi mengajak saya untuk makan siang di kantin saja, " ucap Ayana berusaha memberikan jawaban senetral mungkin. Ia melihat kembali antrean di depannya karena ingin segera menghindari percakapan yang semakin kemana-mana dengan Faya. Untungnya antrean di depannya tinggal dua orang lagi.
"Beda tau. Dulu pas sekretarisnya masih Mbak Rana beliau cuma nyuruh Mbak Rana buat membelikan pesanannya aja dan akhirnya dimakan di ruangannya," ucap Faya dengan mengerutkan keningnya.
"Mungkin hari ini beliau pengen suasana yang berbeda Mbak, saya bayar dulu ya," ucap Ayana sembari maju ke depan kasir yang sudah memberikan kembaliannya kepada pelanggan sebelumnya.
Setelah selesai melakukan pembayaran, Ayana langsung berpamitan dengan Raya yang ada dibelakangnya. Kemudian ia segera menuju meja tempat Rafa menunggunya. Terlihat Rafa yang sedang mengamati layar ponselnya.
"Sudah, Pak. Ini kembaliannya," ucap Ayana sambil menyodorkan kembalian di depan Rafa.
"Kamu simpan dulu aja kembaliannya! Siapa tahu besok saya minta tolong untuk membelikan makan siang lagi," ucap Rafa disertai kekehannya. Kemudian Mereka berjalan berdampingan kembali ke lantai enam tempat mereka bekerja. Banyak pegawai yang menatap interaksi dan keberadaan mereka. Ada yang menanggapi dengan senang, ada yang sedih, ada yang malah menjadi shipper dadakan mereka. Hal ini dapat terjadi karena mayoritas pegawai di kantor Rafa adalah wanita dengan umur rata-rata 20-30an. Serta banyak juga yang statusnya masih melajang. Tak ayal banyak pegawai wanita yang genit terhadap Rafa ataupun memberi perhatian berlebih padanya. Rafa juga tak merasa heran kenapa mereka bisa jadi seperti itu kepadanya. Dia juga tahu jika banyak karyawannya yang sering menggosipkan dirinya. Khususnya pegawainya yang merupakan kaum hawa. Namun, hari ini terlihat sekali jika ada banyak perbedaan pada Rafa dibandingkan hari-hari sebelumnya. Senyum tidak pernah lepas dari bibirnya. Sepertinya Ayana yang berperan banyak akan hal itu. Hal yang paling membuat Rafa heran adalah dari mudahnya dia mau disuruh untuk sholat beberapa hari ini. Apakah Ayana akan memiliki peran besar dalam hidupnya?
TBC