Meeting pun akhirnya selesai tepat pada jam istirahat makan siang. Rafa dan Ayana berjalan beriringan keluar dari ruang meeting tersebut. Setelah mereka berpisah Rafa masuk ke ruangannya dan Ayana menuju ke meja kerjanya, tiba-tiba Rafa ingin makan siang di luar kantor. Tapi ia merasa tidak enak juga jika makan sendiri. Akhirnya ia memutuskan untuk mengajak Ayana. Ia menghampiri meja Ayana namun ternyata pemiliknya tidak berada di tempat. Ia melihat flatshoes Ayana terdapat di dekat meja tersebut.
"Berarti Ayana sedang sholat dhuhur," Pikir Rafa. Ia memutuskan untuk menunggu Ayana hingga selesai sholat dengan duduk di meja kerja Ayana. Setelah itu sepuluh menit kemudian akhirnya Ayana datang berjalan dari musholla dengan menenteng mukenanya. Dari kejauhan Ayana dapat melihat Rafa yang sedang duduk di kursi yang terdapat di meja kerjanya sedang fokus memandangi ponselnya. Ia bingung kenapa Rafa berada di kursinya. Lalu ia bergegas melangkahkan kakinya ke meja kerjanya.
‘Mungkin beliau membutuhkan bantuan. Tapi apakah ada kerjaan lagi sehingga ia harus merelakan waktu makan siangnya?' Pikir Ayana dalam hatinya.
Setengah hari ini ia sudah bersama Rafa dari membangunkannya tidur sampai menyiapkan sarapan. Ia jadi memikirkan perkataan Rafa mengenai istri tadi. Tapi ia langsung membuang jauh-jauh pikiran itu karena ia teringat perkataan Wafiy padanya dan janjinya untuk bersikap profesional terhadap bosnya tersebut. Ia tidak mau terbawa perasaan dengan sikap Rafa hari ini.
'Mungkin saja sifatnya dia memang begitu,' batin Ayana. Ia dan Rafa dulu memang pernah satu organisasi saat SMA tapi mereka hanya sebatas kenal saja karena dulu posisi Rafa adalah senior di organisasinya dan Ayana juga menjaga jarak dengan teman laki-lakinya. Namun Rafa dulu bisa dibilang sangat famous di Sekolahnya karena ia menjabat sebagai ketua OSIS dan ia masuk ke dalam club basket sekolah. Jangan lupakan juga dengan parasnya makanya banyak perempuan yang tertarik dengannya.
Setelah Ayana sampai di meja kerjanya. Ia langsung menaruh mukenanya di meja dan Rafa langsung bangun dari posisi duduknya dan mempersilahkan Ayana untuk duduk di kursinya. Ayana langsung duduk di kursinya dan memakai sepatunya. Hal itu tak luput dari pandangan Rafa. Ia berniat menunggu Ayana hingga selesai dengan sepatunya dan setelah itu barulah mengatakan maksudnya pada Ayana.
“Ada apa ya, Pak?” tanya Ayana dengan mengarahkan pandangannya pada Rafa.
"Ya, saya ingin makan siang di luar tapi kok rasanya tidak enak jika hanya makan sendirian. Bagaimana jika dengan kamu saja?" ucap Rafa saat Ayana sudah selesai dengan sepatunya . Ayana terkejut dengan permintaan Rafa. Ia hanya merencanakan untuk makan siang di mejanya hari ini karena ia membawa bekal dari rumah.
“Maaf, Pak. Saya sudah membawa bekal dari rumah,” ucap Ayana dengan menunduk.
“Yah. Gimana kalau kamu temani saja tapi kamu makan bekalmu nggak papa. Saya kok merasa sumpek dengan ruangan saya. Hehe,” ucap Rafa dengan tawanya.
"Ba-baik, Pak. Tapi apa nggak papa kalau saya bawa bekal saya?” ucap Ayana dengan gugup.
“Kan saya beli makanan disitu juga, Ya. Kita nggak cari gratisan juga kok. Masa sih nggak boleh? Haha,” ucap Rafa
“Kalau begitu baik, Pak. Ehmm, Bapak sudah sholat dhuhur?" tanya Ayana dengan spontan. Ia hanya kepikiran saja jika mau makan di luar kantor otomatis akan memakan waktu yang cukup banyak dan sebenarnya ia masih berusaha ingin menghindari permintaan itu, karena yang jelas akan membuat mereka dalam posisi hanya berduaan saja. Bukannya ia terlalu percaya diri tapi ia hanya ingin menghindari yang ditakutkan oleh Wafiy dan takut hubungannya malah tidak menjadi profesional walaupun mereka dulunya sudah kenal.
"Ah, belum. Sebelum atau setelah makan saja nanti mampir di masjid yang kita lewati. Bagaimana?" ujar Rafa dengan enteng sembari duduk di pinggiran meja kerja Ayana.
"Memangnya bisa, Pak? Tapi jam satu bukannya kita sudah harus kembali ke kantor lagi karena sudah jam masuk lagi, Pak?" tanya Ayana yang masih berusaha berkilah..
"Santai aja, Ya. Toh juga kamu perginya dengan CEO dari perusahaan ini jadi kamu gak usah khawatir. Haha," jawab Rafa dengan candanya.
"Tapi ini baru beberapa hari saya bekerja di sini, tidak enak jika terlihat longgar sekali peraturan untuk saya. Saya nggak enak dengan karyawan yang lain," jawab Ayana dengan menunduk.
"Oke, berarti kamu cuma takut kita terlambat kembali ke kantor kan?" tanya Rafa dengan senyum mengembangnya.
"Yah kurang lebih seperti itu. Mohon maaf jika saya lancang, Pak," ucap Ayana dengan lirih dan menunduk.
"Ya sudah deh, gini aja. Saya sholat dulu sebentar lalu kamu turun ke kantin untuk memesankan saya makan siang terlebih dahulu. Toh kamu juga bisa makan bekalmu dengan leluasa. Nanti aku akan menyusul ke bawah setelah selesai sholat. Gimana, Ya?" ucap Rafa berusaha menawarkan solusi pada Ayana.
"Hmm. Boleh Pak. Anda sholat di musholla roof top atau dibawah sekalian saja, Pak?" tanya Ayana dengan pasrah meng-iyakan ucapan Rafa.
"Enaknya sholat di mana yang bisa cepat selesai ya, Ya?" tanya Rafa balik.
"Kalau di roof top biasanya yang memakai hanya orang-orang dari lantai kita dan lantai lima atau enam jadi kemungkinan lebih sepi, kalau di musholla bawah mungkin akan lebih ramai karena lebih banyak pegawai yang memakai dari lantai satu sampai empat Pak," Ucap Ayana menimbang-nimbang pendapatnya.
"Kamu mau menunggu saya selesai sholat atau ke bawah duluan untuk memesan makanan di kantin Ya?" tanya Rafa.
"Saya terserah Bapak saja inginnya bagaimana," jawab Ayana dengan cepat.
"Oke.Tunggu aku sholat lebih dulu ya. Kamu tunggu disini saja! Nanti saya turun kesini lagi," jawab Rafa akhirnya.
"Baik, Pak." jawab Ayana sekenanya. Kemudian Rafa meninggalkan meja kerjanya untuk ke musholla. Ia akhirnya berinisiatif untuk menyiapkan bekalnya dan minumnya pada tote bag.
Rafa terlihat sudah selesai dengan sholatnya dan sekarang sedang melangkah kearah meja Ayana dengan Mamat yaitu office boy pada lantai tempat Ayana dan Rafa bekerja dengan kemeja yang ia gulung hingga siku dengan rambut basahnya.
"Ayo turun ke kantin, Ya! Saya sudah lapar," ucap Rafa dengan tangan yang mengusap perutnya saat sudah sampai di depan meja kerja Ayana.
“Baik, Pak,” ucap Ayana dengan tersenyum mendengar aduan Rafa. Rafa terlihat seperti anak kecil yang sedang mengadu pada ibunya. Akhirnya mereka tiba di kantin. Kantin tersebut terlihat telah ramai oleh para pegawai. Banyak pegawai yang menyapa Rafa dan dibalas anggukan kepala olehnya. Banyak juga pegawai yang menawarkan untuk satu meja dengan Rafa dan Ayana. Namun Rafa enggan untuk bergabung karena yang menawari meja kepada mereka rata-rata pegawai wanita. Dia hanya tidak ingin terlihat dan menjadi satu dengan wanita-wanita tukang gosip.
"Kamu pesan makanan dulu saja, Ya. Saya yang mencari meja makan. Nanti Saya w******p posisi saya dimana kalau sudah dapat mejanya. Bagaimana?" ucap Rafa sambil mencari-cari meja kosong dengan pandangannya.
"Baik, Pak. Anda mau dipesankan makanan dan minum apa?" tanya Ayana.
"Soto sapi dengan nasi dan jus alpukat saja. Jangan dibayar dulu nanti! Biar saya saja yang membayarnya di kasir saat sudah selesai makan," ucap Rafa.
"Baik, Pak. Ada pesanan tambahan lagi?" ucap Ayana.
"Air mineral saja deh, Ya. Oh iya bekalmu saya bawakan saja,” ucap Rafa.
Ayana kemudian ia berjalan ke konter penjual makanan dan Rafa yang berjalan mencari meja makan yang kosong.
TBC