SEKRETARIS DAN ASISTEN PRIBADI

1343 Kata
Setelah membuatkan kopi yang Rafa inginkan, Ayana langsung menuju ruangan Rafa untuk mengantarkan kopi tersebut. Saat melewati meja kerja Aura, terlihat Aura yang sedang serius dengan komputernya. “Serius banget, Ra?” tanya Ayana saat berhenti di depan meja Aura. “Mumet banget, Mbak. Pak Arka baru ngeselin,” ucap Aura dengan cemberut. “Kenapa emangnya?” tanya Ayana dengan mengerutkan keningnya. “Kayak bocil, Mbak. Dikit-dikit Aura atau Ra. Apa-apa harus banget disiapin. Padahal aslinya dia bisa ngerjain sendiri,” ucap Aura dengan kesal. “Ada-ada aja kamu nih. Namanya juga jadi sekretaris, Ra. Ya memang gitu kerjaannya kita. Iya kan ya?” ucap Ayana dengan tawanya. “Udah satu setengah tahun aku jadi sekretarisnya, Mbak. Lama-lama jadi babu juga ini ntar,” ucap Aura. “Ngawur banget kamu nih ngomongnya. Ntar kalau kedengeran Pak Arka gimana?” ucap Ayana dengan berbisik. “Biarin, Mbak! Biar dia sadar diri. By the way Pak Raka udah bangun ya, Mbak?” ucap Aura. “Oh iya! Malah jadi lupa nganter kopinya. Aku ke ruangan beliau dulu ya, Ra. Semangat kerjanya!,” ucap Ayana dengan tersenyum. . Akhirnya Ayana melangkahkan kakinya kearah ruangan Rafa. Sesampainya di depan pintu ruang kerja Rafa, Ayana mengetuk-ngetuk pintu ruangan Rafa sebentar namun tidak ada balasan dari dalam setelah tiga kali diketuknya. Kemudian ia membuka pintu ruangan tersebut tapi tidak menemukan keberadaan Rafa di dalam ruangan tersebut. Namun setelah ia masuk ke dalam terdengar suara air mengalir dari kamar mandi. Akhirnya ia meletakkan kopi Rafa pada meja kerjanya dan memutuskan keluar ruangan tersebut dan kembali ke meja kerjanya. Tiba-tiba, Rafa keluar dari ruangannya dan berjalan menuju meja Ayana dalam keadaan rambut yang basah dan memakai celana bahan berwarna hitam dan kaos putih. 'Sepertinya beliau baru selesai mandi,' batin Ayana. "Ya, tolong nanti ambilkan baju saya di resepsionis bawah ya! Sopir ibu saya sedang dalam perjalanan ke sini mungkin dua puluh menit lagi sampai. Setelah itu kamu antarkan ke ruangan saya!" ucap Rafa. "Baik, Pak. Nanti saya akan mengambilnya ke bawah. Ada yang Bapak perlukan lagi?" tanya Ayana. "Tidak ada. Kopinya sudah jadi, Ya?" tanya Rafa. "Sudah, Pak. Saya letakkan di meja kerja Bapak tadi karena Bapak sepertinya sedang mandi," jawab Ayana dengan lirih. "Oke. Terimakasih. Meeting nya jam 10.00 WIB kan ya? nanti kamu ikut saya dalam meeting untuk notulensi ya!" ucap Rafa. "Baik, Pak." jawab Ayana sembari mengangguk. "Saya balik ke ruangan dulu. Jangan lupa bajunya, Ya," ungkap Rafa dengan tersenyum. "Siap, Pak." jawab Ayana dengan senyumnya yang nyaris tak pernah luntur. 'Akhirnya dia mulai santai juga. Gila, kenapa manis banget sih senyumnya?' batin Rafa sembari jalan ke ruangannya dan berusaha mengenyahkan pikirannya. Sudah delapan belas menit berlalu, akhirnya Ayana memutuskan menelpon ke bagian resepsionis dan setelah mendapat jawaban bahwa barang tersebut sudah sampai ia langsung turun ke lantai satu untuk ke resepsionis mengambil baju ganti Rafa. Setelah ia memintanya, ia langsung naik ke lantai ruangan Rafa untuk menyerahkan baju ganti tersebut. Setelah sampai di depan ruangan Rafa, ia langsung mengetuk-ngetuk pintu tersebut. Setelah terdengar suara Rafa yang menyuruhnya untuk masuk ia lalu membuka pintu tersebut dan berjalan kearah Rafa yang sedang duduk di sofa ruang tamu ruangannya. Rafa langsung mengalihkan pandangannya dari tablet di pangkuannya ketika mendengar langkah kaki Ayana. Ayana mendekatinya dengan membawa tas berisi baju ganti tersebut dan satu paper bag. Seperti biasanya jika ia menginap di kantor maka mamahnya akan membawakan sarapan juga untuknya. Sarapan tersebut dibungkus dengan plastik dan kertas minyak. “Pak, Ini baju gantinya,” ucap Ayana sambil meletakkan tas dan paper bag tersebut ke meja ruang tamu Rafa. "Terimakasih. Oh iya saya minta tolong yang di paper bag itu kamu siapkan di piring ya. Kamu sudah sarapan? Kalau belum sekalian saja biasanya mamah saya membawakan dalam porsi banyak kok," ucap Rafa. "Saya sudah sarapan di rumah tadi, Pak," jawab ayana. "Ya sudah. saya minta tolong siapin sarapan saya! Saya ganti baju dulu. Jangan lupa air putihnya juga, Ya," ucap Rafa dengan mimik muka yang serius. "Iya, Pak.  Ini dijadikan satu dalam satu piring atau lauk dan nasinya dipisah, Pak?" tanya Ayana. "Dicampur jadi satu saja kalau nggak berkuah," jawab Rafa yang kemudian berjalan ke kamar mandi. Ayana keluar dari ruangan Rafa dengan membawa paper bag berisi sarapan yang disiapkan oleh ibu bosnya tersebut ke pantry untuk menyajikannya di piring. Setelah siap ia mengantarkan sarapan dan air putih tersebut ke ruangan Rafa. Rafa sudah selesai berganti baju. Ia sudah terlihat berpenampilan rapi dan menyemprotkan parfumnya. Namun ia tidak berniat untuk menggunakan dasi dan mengancingkan kancing lengan kemejanya terlebih dahulu karena ia akan sarapan. Ia melipat kemejanya hingga ke siku setelah mencuci tangannya. Akhirnya yang ia tunggu-tunggu datang juga, yaitu sarapannya ia sangat suka sekali dengan masakan ibunya. Betapa senangnya ia saat pintu ruangannya diketuk oleh Ayana. Ia dengan cepat berjalan ke arah pintu dan membukakannya, karena ia tau Ayana mungkin tidak bisa membukanya sendiri karena di kedua tangannya terdapat sarapannya. Benar saja saat Rafa membuka pintu ruangannya terlihat Ayana membawa nampan berisi sarapannya dan segelas air putih. Saat pintu terbuka dari dalam Ayana disambut dengan Rafa yang tersenyum dan mempersilahkan kepadanya untuk masuk. Ayana sangat terkejut dan bingung bagaimana membalas perlakuan Rafa. Akhirnya ia menyetujui ajakan Rafa untuk masuk ke ruangannya dengan anggukannya dan setelah itu ia masuk. Setelah ia masuk terdengar Rafa menutup pintu ruangannya. Ayana meletakkan sarapan dan air putih Rafa di meja ruang tamu ruangan tersebut. Kemudian ia berdiri untuk berpamitan keluar dari ruangan Rafa. "Ada yang bisa saya bantu lagi, Pak?" tanya Ayana. "Oh ya, tolong siapkan bahan untuk meeting jam 10.00!" jawab Rafa sambil memakan sarapannya. "Baik. Ada lagi, Pak?" ucap Diana kembali. "Itu saja, Ya." jawab Rafa singkat, karena ia sedang fokus dengan makanannya. "Baik, setelah ini saya izin sholat dhuha dulu sebentar ya Pak, karena keburu waktunya sudah habis nanti," ucap Ayana meminta izin pada Rafa dengan ragu. "Iya silahkan, Ya. Santai saja dengan saya tidak usah sungkan, yang penting semua pekerjaanmu telah selesai kamu kerjakan, itu tidak jadi suatu masalah," ucap Rafa. Ia tertawa kecil. “Baik, Pak. Terimakasih atas pengertiannya,” ucap Ayana dengan tulus. “Sama-sama,” ucap Rafa dengan senyumnya. 'Parah sih emang gue mah. Kok jadi ngayal pengen punya istri kayak Ayana sih,' batin Rafa. Setelah Ayana menyiapkan bahan yang akan digunakan untuk meeting, Ia keluar dari ruangan Rafa lalu berjalan ke meja kerjanya untuk mengambil mukena dan HP nya agar jika Rafa mencarinya akan lebih mudah. Setelah itu, ia bergegas ke musholla. Setelah Ayana selesai sholat dhuha, ia langsung menuju mejanya untuk menaruh mukenanya dan mengambil buku catatan untuk notulensi meeting bersama Rafa jam 10.00 nanti. Kemudian ia berjalan menuju ruangan Rafa. Setelah mengetuk pintu dan diperbolehkan masuk, ia langsung berjalan ke arah Rafa untuk mengambil piring sarapan yang sudah selesai disantap oleh bosnya itu. Rafa kemudian berdiri dari sofanya lalu mencuci tangannya di wastafel dan menuju meja kerjanya untuk mengambil dasi dan jasnya. Lalu, ia berjalan lagi ke arah sofa dan melihat Ayana yang sedang membersihkan bekas sarapannya dan menumpuknya jadi satu. "Saya boleh minta tolong pasangin dasi, Ya? saya gak bisa masangnya. Biasanya yang masangin Mama atau Rana mantan sekretaris saya," ucap Rafa dengan cengirannya. "Ehm. Boleh, Pak. Sebentar saya cuci tangan dulu," ucap Ayana ragu, ia terkejut dengan permintaan Rafa sembari berjalan ke wastafel. Setelah mencuci tangannya, Ayana berjalan ke arah sofa tersebut dan mengelap tangannya menggunakan tissue yang ada di meja ruang tamu tersebut. Setelah tangannya bersih, ia meminta dasi Rafa yang akan ia simpulkan di leher lelaki tersebut. Akhirnya Ayana mengalungkan dasi tersebut ke leher Rafa dan mulai menyimpulnya dengan serius. Setelah selesai ia menepuk kemeja Rafa dengan reflek untuk merapikan kemeja tersebut. Rafa seperti terhipnotis dengan kegiatan Ayana yang hanya memakaikan dasi untuknya. 'Kok beda ya rasanya dipasangin Rana sama Ayana? Dag dig dug gitu jadinya,' pikir Rafa yang tanpa sadar terkekeh pelan. "Anda, kenapa senyum-senyum dan ketawa sendiri, Pak?" Tanya Ayana dengan gugup memberanikan diri menanyakan sikap Rafa sekarang. "Hehehe, nggak papa, Ya. Rasanya kayak dipasangin istriku aja sekarang," jawab Rafa dengan nada bercanda yang malah membuat pipi Ayana merona malu. Ayana pun hanya menanggapi guyonan Rafa dengan senyum kikuknya. TBC
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN