Pagi Ayana hari ini dimulai dengan kesibukan seperti biasanya, yaitu di dapur untuk membantu ibunya menyiapkan sarapan. Hari ini Wafiy juga turut hadir acara sarapan keluarga Ayana karena ia berencana akan mengantar Ayana ke kantornya karena problem kemaren sore. Selama perjalanan ke kantor Ayana, mereka saling bercerita masalah pekerjaan dan kesibukan satu sama lain.
“Hari ini kegiatanmu apa, Ya?” tanya Wafiy.
“Hari ini Pak Rafa ada meeting jam sepuluh, Mas. Jadi Yaya harus ikut,” ucap Ayana.
“Sibuk ya kalo jadi sekretaris. Harus ngikutin pekerjaan Bosnya. Haha,” ucap Wafiy dengan tawanya.
“Ya Bahasa kasarnya kayak babu kalau kata Adit. Kegiatan Mas hari ini apa?” ucap Ayana dengan nada bergurau.
“Hari ini aku mau survey bahan di Bandung, Ya,” ucap Wafiy.
“Berangkat jam berapa Mas? Nginep?” ucap Ayana.
“Palingan jam sembilan, Ya. Nggak kok karena besok ada follow up,” ucap Wafiy.
“Mas nyupir sendiri?” tanya Ayana.
“Nggak. Ntar aku sama dua temenku. Jadinya bisa gantian,” ucap Wafiy.
“Hati-hati ya, Mas. Kalau udah nyampe jangan lupa kabarin Yaya ya,” ucap Ayana dengan lembut.
“Siap. Mas bakal laporan ke ibu negara. Haha,” ucap Wafiy dengan tawanya.
Mobil Wafiy sudah mulai memasuki kawasan perkantoran Ayana. Ayana pun langsung mengambil bekal makan siangnya yang berada di kursi penumpang belakang Wafiy. Setelah mobil tersebut berhenti di depan pos satpam kantor Ayana, Ayana langsung pamit dengan Wafiy dan langsung keluar dari mobil Wafiy.
“Mbak Ayana pagi banget datangnya?” tanya Satpam dengan nametag Asep.
“Iya Pak Asep. Kebetulan hari ini saya diantar dan yang mengantar kantornya lumayan jauh dari kantor sini dan waktunya masuknya jam delapan. Makanya berangkat pagi. Hehe,” ucap Ayana dengan terkekeh.
“Eh Mbak Ayana. Mau ambil kunci motor ya? Sebentar ya saya ambilkan dulu di dalam,” ucap Dedi.
“Nggak papa santai, Pak. Oh iya ini saya bawakan gorengan buat ngemil-ngemil,” ucap Ayana sambil mengangsurkan bungkusan berisi gorengan tersebut pada Asep.
“Wah Alhamdulillah. Makasih Mbak Ayana,” ucap Asep.
“Ini kuncinya, Mbak. Motornya masih di parkiran kok,” ucap Dedi.
“Makasih ya, Pak. Mari saya masuk dulu,” ucap Ayana.
“Iya. Mari, Mbak,” ucap Dedi dan Asep.
Sekarang masih pukul 06.45 WIB. Menurut Ayana sekarang masih cukup awal baginya sudah sampai di kantor sepagi ini. Sebab, jam kerjanya baru akan dimulai pukul 08.00 WIB. Itu artinya Ayana masih punya waktu satu jam untuk sedikit bersantai. Kemudian Ia langsung menuju tempat bekerjanya untuk meletakkan tasnya. Setelah meletakkan tasnya Ayana, ia menuju ruang kerja Rafa untuk merapikan meja kerja Rafa yang juga merupakan salah satu tugas dari asisten pribadi. Namun saat ia membuka pintu kerja Rafa, Ia benar-benar terkejut melihat Rafa tertidur di sofa dengan berkas-berkas yang berserakan di sekitarnya. “Bukannya kemaren beliau pulang?” batinnya. Ia menduga bosnya itu lembur di kantor tadi malam dan malah berakhir ketiduran di sofa saking lelahnya. Ia melihat posisi tidur Rafa yang tampak tidak nyaman, ditambah dengan berkas-berkas yang berserakan di sekitar pria itu, membuat matanya risih. Akhirnya ia menimbang-nimbang untuk membangunkan Rafa sekarang atau menunggunya hingga terbangun sendiri. Akhirnya, Ayana memilih keluar dari ruangan Rafa. Ia memutuskan untuk menunggu Rafa terbangun saja. Ia menunggu Rafa dengan melakukan rutinitas paginya yaitu membaca Al ma'surat. Biasanya ia membacanya setelah sholat subuh. Namun hari ini belum ia lakukan karena sejak semalam Wafiy sudah memberitahunya jika akan mengantarnya ke kantor, Karena jarak kantor Ayana dan Wafiy jauh padahal waktu masuk kantornya sama yaitu jam delapan jadi Ayana harus bersiap lebih pagi agar Wafiy tidak terlambat sampai di kantornya hanya demi mengantarkannya.
Setelah selesai membaca Al ma'surat Ayana menoleh ke arah pintu ruangan Rafa. Ia bertanya-tanya apakah Rafa sudah bangun atau belum di dalam hatinya. Sekarang sudah hampir jam 8.00 namun belum ada tanda-tanda dari Rafa yang terbangun. Ia takut Rafa akan terlambat pada acara meeting jam 10.00 nanti jika sampai sekarang saja ia belum bangun.
“Pagi, Mbak,” sapa Aura yang sedang berjalan kearah Ayana bersama Arka.
“Pagi, Ra. Selamat pagi Pak Arka,” ucap Ayana.
“Pagi,” ucap Arka dengan tanpa ekspresinya.
“Udah datang dari tadi, Mbak?” ucap Aura.
“Iya, Ra. Hehe,” ucap Ayana dengan senyumnya.
“Rafa udah datang kan?” ucap Arka dengan raut serius.
“Tumben banget. Kok Bapak bisa tahu?” ucap Aura dengan penasaran.
“Mobilnya ada di parkiran tadi,” ucap Arka menjelaskan.
“I-ya benar, Pak. Sepertinya Bapak lembur tadi malam,” jawab Ayana dan mendapat tatapan terkejut dari Arka.
“Dia sudah bangun?” tanya Arka dengan kening berkerut.
“Belum, Pak. Saya menunggu beliau bangun,” ucap Ayana dengan ragu.
“Bangunkan saja, Ya. Dia nggak akan bangun-bangun kalau kamu tunggu,’ ucap Arka.
“Ba-baik, Pak,” ucap Ayana.
Setelah Arka dan Aura meninggalkan Ayana menuju ruangan mereka, Ayana memutuskan untuk menyalakan komputer di mejanya untuk membuka schedule Rafa hari ini. Sekarang sudah jam 8.00 tepat. Sudah banyak karyawan kantor yang datang. Namun tidak ada satupun tanda-tanda Rafa yang bangun dari tidurnya. Ayana hanya takut jika ada karyawan lain ada yang ingin berkonsultasi atau ada urusan dengan Rafa namun bosnya tersebut malah masih dalam posisi yang sama seperti yang ia lihat sebelumnya. Akhirnya Ayana memutuskan untuk pergi ke ruangan Rafa kembali. Sesampainya di dalam ruangan Rafa ia langsung mematikan lampu di ruangan tersebut dan membuka tirai yang ada. Setelah itu ia membereskan meja Rafa yang juga berantakan. Kemudian ia mendekat ke arah Rafa untuk membangunkannya. Sembari membereskan berkas-berkas yang ada sembari ia juga memanggil Rafa untuk bangun. Namun bosnya tersebut tidak bergeming sama sekali. Ia akhirnya mendekatkan dirinya pada posisi tidur Rafa dan memanggilnya kembali agak keras. Rafa merasa sedikit terusik dari tidurnya namun belum bangun juga. Akhirnya Ayana mengambil bolpoin yang terdapat di meja kerja Rafa dan menyentuh bahu Rafa dengan bolpoin tersebut dengan sedikit kencang. Rafa akhirnya terbangun dari tidurnya.
“Hmm.. Pegel banget," ucap Rafa masih setengah sadar dengan merenggangkan otot-ototnya.
"Ayo bangun Pak. Sudah jam masuk kantor dan Bapak ada meeting jam sepuluh," ucap Rafa pun langsung terbangun dengan posisi duduk karena keterkejutannya. Di depannya sudah ada Ayana yang rapih dan berkas-berkas yang tadi malam dia baca dan koreksi sudah tidak ada di sekitarnya.
"Jam berapa sekarang, Ya?," tanya Rafa dengan suara yang masih terdengar serak.
"Sekarang jam 8.20, Pak. Mohon maaf saya sudah membangunkan Anda dengan cara yang kurang sopan," jawab Ayana dengan menunduk.
"Nggak apa-apa, Ya. Terimakasih sudah membangunkan saya," ucap Rafa.
"Apa Bapak mau saya buatkan kopi?" tanya Ayana.
"Oh iya saya minta tolong buatkan kopi! Nanti antarkan ke sini ya! dan jika kamu tidak keberatan tolong ambilkan baju saya di rumah. Nanti saya minta ibu saya untuk menyiapkannya," perintah Rafa.
"Baik, Pak. Tapi saya tidak mengetahui alamat Bapak," ucap Ayana dengan canggung.
"Oh iya. Ya sudah saya suruh sopir di rumah saja buat nganter. Kamu bikinin kopi aja, Ya," ucap Rafa dengan tersenyum lembut.
“Baik, Pak. Saya permisi keluar dulu,” ucap Ayana.
Rafa tidak menyangka malah akan ketiduran di kantor tadi malam. Padahal ia hanya berniat mengambil berkas-berkas yang ia butuhkan dan langsung pulang. Namun ternyata ia malah keterusan mengoreksi berkas-berkas tersebut dan tertidur hingga pagi.Untung saja ada Ayana yang membangunkannya. Bahkan ruangannya yang sangat berantakan sudah bersih sekarang. Ia sangat puas dengan hasil kerja Ayana. Menurutnya Ayana benar-benar bisa diandalkan.