Akhirnya waktu pulang pun tiba. Ayana sedang menunggu Wafiy menjemputnya di lobby. Ia memainkan ponselnya untuk membunuh waktu. Saking sibuknya ia tidak peduli dengan pegawai lain yang lalu lalang dihadapannya. Tiba-tiba ponselnya berdering tanda ada panggilan masuk dari Adit. “Tumben Adit nelpon,” batinnya. Ia langsung menjawab telpon dari adik pertamanya tersebut.
“Assalamu’alaikum, Dit,” ucap Ayana.
“Wa’alaikumsalam, Mbak. Mbak ini udah pulang jam kantor kan?” ucap Adit.
“Iya. Kenapa?” tanya Ayana dengan heran.
“Mbak pulangnya di jemput Mas Wafiy?” tanya Adit.
Pertanyaan tersebut sontak langsung menyadarkan Ayana bahwa ia hari ini berangkat menggunakan motor.
“Ya Allah. Mbak lupa kalau bawa motor. Tapi Mas Wafiy mau jemput kesini. Gimana nih, Dit?” ucap Ayana dengan panik.
“Nah itu, Mbak. Aku sebenarnya mau minta tolong jemputin Akmal di sekolahnya. Soalnya aku ada pertandingan futsal sore ini ngelawan universitas lain. Aku tadi mau minta tolong Ibu tapi katanya motornya dibawa Mbak Yaya. Kalau minta tolong Ayah nggak enak karena beda arah banget,” terang Adit.
“Wahduh. Okelah ntar Mbak coba kontak Mas Wafiy dulu bisa jemput atau nggak,” ucap Ayana. Semoga saja Wafiy belum sampai sekitar sini karena kantor Wafiy dan Akmal satu arah.
“Ya sudah. Maaf ya, Mbak. Soalnya dikasih taunya dadakan tadi sama ketuaku. Makasih,” ucap Adit
“Nggak papa, Dit. Kamu udah ijin sama Ayah?” tanya Ayana.
“Belum, Mbak. Minta tolong ijinin sekalian ya. Adit takut kena marah. Tadi udah disemprot Ibu juga soalnya. Hehe,” ucap Adit dengan kekehannya.
“Ya sudah deh. Ntar Mbak izinin kalau sudah sampai rumah. Hati-hati kamu mainnya!” ucap Ayana dengan tegas.
“Siap, Mbak. Assalamu’alaikum,” ucap Adit.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Ayana.
Ayana memutuskan langsung menelpon Wafiy setelah telponnya dengan Adit terputus. Telpon pertamanya tidak diangkat. Ia mencoba menelpon kembali namun masih belum ada jawaban. Ia benar-benar bingung harus bagaimana sekarang. Ditengah-tengah kepanikannya tiba-tiba Rafa muncul dihadapannya dengan memandanginya heran.
“Kenapa, Ya?” tanya Rafa saat melihat Ayana yang sedang sibuk menghubungi seseorang.
“A-ah. Iya, Pak?” jawab Ayana yang terkaget baru sadar ada Rafa dihadapannya.
“Kamu kenapa? Ada masalah kah? Panik banget kayaknya,” ucap Rafa dengan mengangkat satu alisnya.
“Nggak papa, Pak,” ucap Ayana dengan ragu.
“Perasaan kamu udah turun dari tadi, Ya. Kenapa masih disini? Masih nunggu jemputan?” ucap Rafa.
“A-anu, Pak. Saya menunggu jemputan dan orangnya sudah jalan kesini. Tapi saya juga lupa kalau tadi pagi berangkat naik motor ke sini,” ucap Ayana dengan lirih. Ia malu sekali dengan Rafa.
“Hahahaha. Lucu banget kamu, Ya. Orangnya yang jemput sudah sampai mana?” ucap Rafa dengan gelak tawanya.
“Tidak tahu, Pak. Ini saya coba telpon dari tadi tapi nggak diangkat-angkat,” ucap Ayana dengan menundukkan kepalanya dan meremas ponselnya.
“Ya sudah. Kalau kayak gitu motornya kamu tinggal aja, Ya,” ucap Rafa masih dengan tawanya.
“Tapi Pak, Apa boleh? Saya nggak enak sama Pak Satpamnya,” ucap Ayana dengan ragu.
“Saya bantu ngomongnya saja. Ayo keluar!” ucap Rafa yang dengan reflek mengulurkan tangannya kearah Ayana.
“Maaf, Pak,” ucap Ayana sambil berdiri saat menolak uluran tangan Rafa.
“A-ah. Iya ya. Saya lupa,” ucap Rafa dengan mengusap tengkuknya.
Akhirnya mereka berdua berjalan berdampingan ke pos satpam kantor Rafa. Saat telah sampai di dekat pos satpam tersebut. Terlihat dua lelaki mengenakan seragam satpam sedang membntu para karyawan yang akan keluar dari kantor Rafa agar kondusif karena kantor Rafa berada di jalur yang ramai saat jam pulang kerja. Saat Rafa dan Ayana sudah sampai di Pos Satpam tersebut salah satu Satpam yang tadi sedang mengatur lalu lintas langsung menghampiri mereka berdua.
“Selamat sore Pak Rafa dan Mbak Ayana,” ucap Dedi yang dibalas anggukan kepala oleh Ayana dan Rafa
“Sore, Di. Macet ya di depan?” ucap Rafa.
“Iya, Pak. Seperti biasanya lah karena memang banyak perkantoran disekitar sini. Ada apa ya Pak?” ucap Dedi dengan heran.
“Itu, Di. Ayana mau titip motornya buat nginap semalam disini. Bisa kan?” ucap Rafa sambil menatap Ayana yang sedang menunduk.
“Ealah. Boleh-boleh aja, Pak. Biasanya juga banyak yang pada nitip kok, Pak,” ucap Dedi dengan terkekeh.
“Motornya parkir disini atau tetep di parkiran aja Di?” ucap Rafa.
“Ngikut aja saya, Pak. Mbak Ayana pulang bareng Bapak ya?” ucap Dedi dengan senyumnya.
“Ng-gak, Pak. Saya ada yang jemput Hehe,” ucap Ayana dengan kikuk.
“Tak pikir iya lho, Mbak. Soalnya yang ngizinin Pak Rafa. Hehe,” ucap Dedi dengan kekehannya.
“Kuncinya saya tinggal aja ya, Pak,” ucap Ayana pada Dedi.
“Sok atuh, Mbak. Santai aja Mah,” ucap Dedi dengan tawanya.
Tiba-tiba ponsel ayana berdering dan tertera panggilan dari Wafiy. Saat Ayana melihat kearah luar ternyata sudah ada mobil Yaris berwarna hitam milik Wafiy terparkir di pinggir jalan. Ayana tidak menjawab panggilan tersebut. Ia langsung mencari kunci motornya dan memberikannya pada Dedi.
“Makasih ya, Pak. Saya titip motornya,” ucap Ayana, “Terimakasih Pak Rafa. Maaf saya sudah merepotkan Bapak.”
“Sama-sama, Mbak. Itu jemputannya ya?” ucap Dedi dengan menunjuk mobil Wafiy.
“Sama-sama, Ya. Lain kali nggak usah sungkan minta tolong sama saya ataupun pegawai yang lainnya ya. Buruan udah. Bukannya saya ngusir ya. Tapi itu daripada bikin tambah macet. Hehe,” ucap Rafa.
“Iya, Pak. Mari!” ucap Ayana sambil menundukkan kepalanya pada Dedi dan Rafa.
Ayana langsung berlari kearah mobil Wafiy. Wafiy memandangnya dengan heran dari mobil. Wafiy memutuskan untuk keluar dari mobilnya dan membantu membukakan pintu untuk Ayana. Setelah mereka masuk ke dalam mobil ia langsung melajukan mobilnya di jalanan.
“Kenapa kok tadi lari-lari dari pos satpam, Ya?” ucap Wafiy.
“Ng-nggak papa, Mas,” ucap Ayana dengan gugup.
“Kok kamu nunggunya disana? Katanya tadi di lobby. Disitu tadi kamu juga ngobrol sama Pak Satpam dan satu laki-laki,” ucap Wafiy dengan heran.
“E-emmm. Aku lupa Mas kalau hari ini berangkat naik motor dan tadi Mas wafiy aku hubungin nggak diangkat-angkat. Terus tadi ketemu bosku dan dia yang bantu Ayana ngomong ke Pak Satpam buat nitip motor Mas,” ucap Ayana dengan menunduk.
“Ya Allah. Kok bisa lupa sih, Ya?” ucap Wafiy dengan tawanya.
“I-iya, Mas. Hari ini jadwalnya padet banget. Itu aja Ayana baru inget karena Adit tadi telpon minta tolong jemput Akmal soalnya dia ada pertandingan futsal sore ini. Jadi nggak bisa jemput,” ucap Ayana menjelaskan.
“Emang kegiatan hari ini apa aja, Ya?” ucap Wafiy.
“Tadi bantuin bos Yaya ngeberesin berkas-berkas terus habis itu meeting diluar ketemu klien. Makanya tadi siang Yaya batalin janji makan siang kita. Maaf ya, Mas,” ucap Ayana dengan menunduk.
“Bos kamu di departemen? Kok nggak nyuruh sekretarisnya aja?” ucap Wafiy dengan heran.
“Bukan, Mas. Sebenarnya Ayana diterima sebagai sekretaris CEO dari perusahaan Ardi Manunggal Mas,” ucap Ayana dengan ragu. Ia takut Wafiy marah karena Ayana tidak jujur dengan Wafiy dia mendapatkan posisi apa di tempat kerjanya.
“Kok bisa? Kan kamu nggak ngelamar di bidang itu,” ucap wafiy dengnan mengerutkan keningnya.
“Jadi sekretaris beliau mengundurkan diri karena hamil Mas. Terus karena posisi yang Yaya lamar udah terisi semua tiba-tiba Yaya diarahkan jadi sekretaris Pak Rafa oleh HRDnya,” ucap Ayana.
“Kok kamu nggak bilang sama Mas?” ucap Wafiy dengan datar.
“Yaya kira Mas nggak perlu tahu juga karena Yaya juga bersikap profesional kok dengan Pak Rafa,” ucap Ayana menjelaskan dengan halus.
“Seprofesional nya kalian berdua tapi pekerjaan itu mengharuskan kamu akan sering berdua dengan dia,” ucap Wafiy.
“Yaya akan berusaha, Mas. Toh beliau juga dulu kakak kelas Yaya saat SMA jadi kami sudah kenal dan memaklumi satu sama lain,” ucap Ayana menenangkan Wafiy.
“Lain kali kalau ada apa-apa bilang ke Mas, Ya. Biar Mas nggak salah paham. Mas tahu kamu pasti bakal bersikap profesional. Tapi Mas Cuma pesan satu hal sama kamu. Kamu kan pasti sudah tau batasan pergaulan antara wanita dan lelaki yang bukan mahramnya kan? Mas cuma mau kamu ingat itu. Mas nggak mau kamu terlalu dekat dengan lelaki itu, lebih dari yang seharusnya," ungkap Wafiy dengan halus.
TBC