Hari Senin pekan ini Jadwal Rafa tidak padat dan tidak memiliki janji temu atau meeting dengan kolega. Pada siang hari Ayana memiliki janji untuk makan siang dengan Wafiy. Setelah keluar dari ruangan Rafa untuk berpamitan, Ayana segera mengambil tasnya. Aura yang tengah membereskan berkas-berkas yang tadi sedang ia kerjakan pun tersenyum ketika melihat Ayana yang begitu tergesa-gesa.
"Buru-buru ya, Mbak?" tanya Aura dengan tersenyum saat melangkah ke kamar mandi yang melewati meja kerja Ayana.
"Iya, Ra. Kebetulan ada janji makan siang diluar sama Pak Rafa tadi titip untuk dibelikan makan siang sekalian. Tapi restorannya berbeda dengan yang mau aku kunjungi," ucap Ayana sambil beranjak dari mejanya. Ia tetap menyempatkan untuk menjawab pertanyaan Aura meskipun ia sedang buru-buru.
"Ya sudah, Mbak makan di tempat Pak Rafa request aja biar nggak mondar-mandir," saran Aura. Ayana terdiam sesaat. Bukan ide yang buruk.
"Coba nanti aku tanyakan dengan rekanku lagi deh, Ra. Ya sudah, Aku duluan ya? Assalamu'alaikum," pamit Ayana yang kemudian berpisah dengan Aura untuk melangkahkan kakinya ke lift sedangkan Aura ke kamar mandi.
Ayana memencet tombol satu yang ada di dalam lift. Sesampainya di lantai satu, Ayana berbelok ke kiri, menuju sebuah mushola kecil yang terletak di ujung bangunan kantornya.
Seusai melaksanakan sholat dzuhur, Ayana pun bergegas memakai sepatunya lagi kemudian berjalan cepat keluar dari kantor. Ia baru ingat jika belum mengabari Wafiy bahwa ia sudah selesai sholat dan akan menunggu di lobby. Tapi, sebelum ia sempat menghubungi Wafiy, ternyata laki-laki itu sudah mengirim pesan padanya bahwa ia sudah menunggunya di depan kantor Ayana.
"Assalamu'alaikum," sapa Wafiy yang berhasil menyejukkan hati Ayana dalam beberapa detik.
"Wa'alaikumsalam. Ayo Mas! Kalau kita makan di Café Arata gimana? Soalnya bos Ayana titip pesenin makan siang disitu," ucap Ayana. Wafiy membimbing Ayana untuk melangkah menuju ke arah dimana mobilnya terparkir.
"Oke, lagian Café itu malah nggak jauh dari sini. Jadi kamu nanti nggak telat juga buat balik kantornya," Ucap Wafiy dengan tersenyum. Ayana mengangguk menyetujui perkataan Wafiy.
"Hari ini kegiatanmu apa aja, Ya?" ucap Wafiy setelah keduanya masuk ke dalam mobil dan ia mulai menjalankan mobilnya untuk keluar dari pelataran kantor Ayana.
"Hari ini Yaya cuma bantuan Pak Rafa buat ngerjain rekapan data pengeluaran dan pemasukan. Kalau Mas hari ini ngapain? Tumben nggak sibuk. Hehe," ucap Ayana dengan cengirannya.
"Hari ini aku hanya mengerjakan laporan hasil survey ke Bandung kemaren, Ya," jawab Wafiy yang masih fokus dengan jalanan yang ada dihadapannya .
"Mas nggak apa-apa kan kalau kita makan di Café Atara?” tanya Ayana yang tiba-tiba teringat bahwa ia belum pernah kesana dan bagaimana jika ternyata makanan disana harganya mahal-mahal? Karena saat kemaren ia mengikuti Rafa meeting diluar restoran tersebut memberikan harga yang fantastis untuk menu yang sebenarnya sederhana. Ayana jadi sungkan pada Wafiy yang selalu membayarkan makanan mereka. Ayana mengecek saat terdengar bunyi pesan yang baru masuk pada ponselnya. Ada dua buah pesan baru dari Rafa. Berisi pin ATM dan pesan pengingat agar Ayana tidak lupa membelikan orang itu makan siang.
"Memangnya kenapa kalau kita makan disana?" tanya Wafiy dengan dahi yang mengernyit.
"Ng-gak papa sih, Mas. Tapi kalau harganya mahal gimana?” tanya Ayana yang langsung disambut dengan tawa dari Wafiy.
"Haha. Lucu banget kamu, Ya. Nanti tinggal dibayar aja tagihannya,” ucap Wafiy. Ayana kembali menimbang-nimbang.
"Mas, tapi Yaya tidak tau tempat makan seperti apa itu," Wafiy tertawa kecil mendengar ucapan polos calon istri idamannya itu.
"Tenang saja, Ya. InsyaAllah makanan di sana halal semua kok. Aku sudah pernah beberapa kali ke sana," ujar Wafiy menenangkan Ayana.
"Bukan itu. Tapi soal harga makanannya. Yaya masih tidak yakin dengan harganya apakah masih dalam batas wajar normal. Kalau setara dengan selera bos Ayana, berarti kemungkinan restoran mahal dong, Mas?" ucap Ayana. Wafiy kembali tertawa.
"Tenang aja, Ya. Nanti Mas yang bayar. Kamu tinggal pilih, lalu makan aja," ucap Wafiy. Ayana malah semakin tidak enak setelah mendengar ucapan Wafiy.
"Mas-"
"Sssttt... sudah tidak apa-apa. Mending kita langsung ke sana saja, biar bisa agak santai kamu makannya nanti," potong Wafiy. Ayana meringis, setengah tidak enak hati pada Wafiy. Oke. ia bertekad untuk membayar tagihannya nanti dan harus berhasil ia bayar sendiri.
Sementara Wafiy masih terus tersenyum dan mulai melajukan mobilnya. Dia selalu tenang saat bersama Ayana. Ia selalu nyaman dan bahagia ketika gadis itu ada di sampingnya. Ya, dia begitu sempurna. Dia selalu bisa membuat hati Wafiy bahagia dengan segala kesederhanaannya.
Ayana terlihat begitu bingung memilih makanan untuk Rafa. Ada begitu banyak menu yang tidak ia ketahui seperti apa wujudnya karena ternyata Restoran tersebut adalah Restoran dengan menu makanan Spanyol. Ia tidak begitu tau seperti apa selera Rafa. Ia ingin bertanya pada Rafa, namun ia takut akan mengganggu Rafa yang kemungkinan besar sekarang masih sibuk berkutat di meja kerjanya.
"Ya, Kamu belum tau juga mau pesan apa?" tanya Wafiy.
"Untuk aku sih sudah, Mas. Untuk Pak Rafa yang Yaya masih bingung akan memesankan apa," jawab Ayana yang masih asyik menyimak satu persatu isi menu di depannya.
"Beliau tadi menginginkan pesan apa?" tanya Wafiy yang tampaknya ingin membantu.
"Terserah katanya, yang penting pesan di Cafe Atara. Kalau aku samain sama pesananku saja gimana menurut, Mas?" tanya Ayana sambil melirik Wafiy. Wafiy tersenyum, kemudian mengangguk kecil.
"Iya, disamakan saja! Kan dia juga bilang terserah," ucap Wafiy.
"Aduh, tapi aku takut kalau salah. Kalau tidak sesuai dengan selera Beliau bagaimana?" ucap Ayana. Wafiy menarik pelan menu di tangan Ayana, lalu menutupnya.
"Biasanya, laki-laki tidak terlalu pemilih dalam hal makanan kok, Ya. Kalau Beliau bilang terserah, itu artinya Beliau benar-benar bisa memakan apa saja yang kamu belikan," terang Wafiy. Ayana sedikit lega setelah mendengar ucapan Wafiy.
"Ya sudah, Mbak, saya mau Paella sama lemon tea masing-masing dua, tapi yang satu dibungkus ya?" ucap Ayana.
"Baik, Mbak. Mohon ditunggu sebentar pesanannya. Permisi," Setelah pelayan itu pergi, baik Ayana maupun Wafiy sama-sama terdiam. Terkadang memang masih ada kecanggungan diantara keduanya meskipun mereka sama-sama sudah tau perasaan masing-masing. Setelah beberapa menit berada dalam kesunyian, akhirnya Wafiy duluan yang mulai angkat bicara,
"Yang jemput Zaidan pulang sekolah siapa, Ya?" tanya Wafiy.
"Ibu, Mas. Kasian juga kalau dia nungguin Ayah pulang dari kantor karena udah kesorean," terang Ayana.
Zaidan dan Akmal memang disekolahkan di sekolah khusus keagamaan yang jaraknya cukup jauh dari rumah dan kedua sekolah mereka memiliki arah yang berbeda. Jika Akmal bisa memesan Oh-jek untuk mengantarnya pulang, Namun hal tersebut tidak berlaku untuk Zaidan yang masih kecil. Jadi biasanya Ayana atau sang Ibu yang akan menjemput Zaidan.
"Besok ini, biar Mas aja yang jemput. Mas pengen ngajak jalan-jalan Idan. Udah lama nggak ketemu. Sekalian kita juga refreshing dari penatnya kerja," ucap Wafiy.
"Eh, tidak usah, Mas. Mas Wafiy kan sibuk. Aku nggak enak kalau terus-terus ngerepotin Mas kayak gini," ucap Ayana.
"Tidak merepotkan, Ya. Dengan adanya Zaidan juga bisa menghindarkan kita dari fitnah kan? Lagian kita juga sudah lama tidak bepergian bersama," ucap Wafiy dengan senyumnya. Kali ini Ayana mengangguk setuju. Tapi tetap saja rasanya ia sungkan.
"Tapi aku nggak enak. Memangnya Mas beneran tidak sibuk? Kalau sibuk nggak usah dipaksakan ya Mas," ucap Ayana.
"Tidak. Kerjaan Mas nggak sepadat itu kok. Kalau cuma buat jemput Zaidan dan pergi sama kamu, Mas masih bisa meluangkan waktu saat sore hari," ucap Wafiy. Ayana begitu tersentuh dengan ucapan Wafiy yang selalu bisa menenangkannya. Tak lama kemudian, pesanan mereka datang dan setelah itu mereka menyantapnya.
TBC