Setelah mendapatkan perintah dari Rafa, Ayana langsung mendatangi meja Aura untuk mendiskusikan perihal kunjungan tamu tersebut. Saat masih melangkah kearah meja Aura, Ayana melihat Arka juga berada di meja tersebut. Namun mereka Arka dan Aura terlihat hanya saling diam saja. Ayana akhirnya memutuskan untuk kembali ke mejanya terlebih dulu saja untuk melaksanakan sholat dhuha.
Ia melepaskan sepatunya dan menggantinya dengan sandal. Lalu mengambil mukena yang berada di dalam tasnya. Saat ia berjalan ke arah tangga untuk menuju musholla yang berada di Roof top tepat di belakang Ayana terdengar adanya langkah kaki. Ayana lalu membalikkan badannya. Benar tebakannya dalam hati tadi. Orang yang ada di belakang Ayana adalah Arka.
“Maaf, Pak. Kalau saya menutupi jalan,” ucap Ayana sembari bergeser memberikan akses jalan untuk Arka mendahului dirinya.
“Nggak papa, Ya. Saya tidak terburu-buru kok,” ucap Arka dengan datar.
“Baik, Pak,” ucap Ayana dengan menunduk. Ia bingung sekarang. ‘Apakah aku harus mendahului Arka kembali atau menunggu Arka untuk berjalan terlebih dahulu?’ batinnya.
“Kamu sudah tahu kalau hari ini ada kunjungan Yehara Group?” tanya Arka sambil berjalan mengimbangi posisi Ayana sekarang.
“Sudah, Pak. Pak Rafa tadi meminta saya untuk berkoordinasi dengan Aura untuk masalah persiapan konsumsi dll,” ucap Ayana menjelaskan.
“Oke. Kalau begitu saya minta tolong bujuk kan Aura agar mau menangani ini ya,” ucap Arka
“Baik, Pak. Setelah sholat saya akan menemui Aura,” ucap Ayana.
‘Bukannya tadi Arka ada di meja Aura?’ batin Ayana dengan mengernyitkan dahinya.
Mereka berdua telah sampai di Musholla, kemudian Ayana langsung berjalan menuju ke arah bagian wanita dan Arka menuju ke bagian pria. Kebetulan di Musholla tersebut hanya terdapat 3 orang dan menjadi 5 orang saat mereka berdua hadir. Ayana lalu mengambil air wudhu dan setelah selesai berwudhu ia lalu melaksanakan sholat Dhuha nya.
“Ra, Kenapa kok cemberut gitu?” tanya Ayana saat menghampiri meja Aura setelah menyelesaikan sholatnya.
“Kesel aku Mbak sama Pak Arka. Dia baru bilang pagi ini pas di kantor lagi! kalau akan ada meeting dengan Yehara Group nanti jam 10.00 sedangkan kita belum persiapan apa-apa. Ini udah jam 9 sekarang. Mbak udah tahu kalau bakal ada meeting?” ucap Aura dengan menghela nafas.
“Pantesan tadi Pak Arka memintaku untuk membujukmu. Aku udah tahu dari kemaren sih, Ra. Kemaren sebelum pulang Pak Rafa bilang bahwa untuk schedule hari ini akan ditambah dengan meeting dari Yehara Group karena beliau lenggang waktunya,” ucap Ayana menjelaskan.
“Dia selalu gitu, Mbak. Sukanya kelupaan. Ya udah Mbak, Ayok kita siapin,” ucap Aura.
“Ayok! Biasanya untuk snack gimana, Ra?” tanya Ayana.
“Biasanya dulu aku sama Mbak Rana beli di Cava Cakery di deket lampu merah situ tuh, Mbak,” ucap Aura sambil menunjukkan jarinya ke arah barat.
“Okelah. Beli sekarang aja yuk!” ucap Ayana.
“Ayok, Mbak Udah ada uangnya dari Pak Rafa?” tanya Aura sambil berdiri dari tempatnya duduknya dengan menjinjing dompet dan ponselnya.
“Belum sih tadi. Tapi aku nyimpen duit kembalian Pak Rafa sih kemaren ada 70.000,” ucap Ayana dengan mengingat kembali uang tersebut.
“Ya sudah kalau gitu Mbak. Ntar kita talangin dulu kekurangannya,” ucap Aura sembari menggandeng tangan Ayana untuk berjalan bersama.
Mereka memutuskan berjalan kaki saja untuk menuju ke Cava Cakery. Jarak kantor Ardi Manunggal dengan Cava Cakery hanya sekitar 200 meter jadi tidak terlalu jauh dan tidak perlu ribet untuk memakai kendaraan.
“Eh Mbak Aura. Berapa kotak nih?” tanya penjaga toko roti dengan name tag Ayu.
“8 kotak ya, Yu. Isinya kayak biasanya aja,” ucap Aura sembari melihat-lihat menu roti pada rak roti yang berjajar.
“Oke siap, Mbak. Tumben nggak sama Mbak Rana nih?” tanya Ayu sembari menyiapkan 8 kotak pada meja.
“Mbak Rana udah resign, Yu. Ini Mbak Yaya penggantinya,” ucap Aura mengenalkan Ayana.
“Yaya,” ucap Ayana sambil bersalaman dengan Ayu.
“Wah gila. Beda 180 derajat banget sama Mbak Rana ya Mbak Ra. MasyaAllah Mbak Yaya cantik banget, Mana muslimah pula,” ucap Ayu kepada Aura sambil menatap Ayana dari atas hingga bawah.
“Haha. Iya emang, Yu,” ucap Aura, “Aku minta dua box yang paketan isi 6 dong ntar, Yu!”.
“Oke ambil aja ya, Mbak,” ucap Ayu yang tangannya sedang cekatan mengepack pesanan Aura.
“Mbak nggak mau beli roti buat orang rumah?” tanya Aura sambil menatap Ayana yang dari tadi hanya mengamati Ayu yang sedang menata pesanan mereka.
“Kamu beli buat orang rumah, Ra?” tanya Ayana yang tersadar dari lamunannya.
“Iya Mbak. Sama buat keluarganya Pak Arka,” ucap Aura sambil berjalan kearah rak roti untuk memilih roti yang akan ia beli.
“Oh begitu. Ya sudah aku beli juga deh,” ucap Ayana. Ia mengambil nampan dan berjalan kearah rak untuk memilih roti yang ia inginkan. Ia juga berencana untuk membelikan Rafa. Itung-itung untuk membalas kebaikan bosnya tersebut selama beberapa hari ini.
Setelah selesai dari Cava Cakery, Ayana dan Aura berbagi tugas. Ayana membantu Rafa dan Arka dalam merapikan dan menyiapkan ruangan meeting. Kemudian Aura menerima tamu dan mengarahkannya ke ruang meeting dari lobby.
Rapat pun akhirnya selesai saat jam makan siang. Akhirnya Aura memesankan Oh-food untuk mereka berempat. Aura yang sedang tidak sholat menunggu abang Oh-food di lobby. Sedangkan Ayana, Rafa, dan Arka menuju Musholla untuk melaksanakan sholat dhuhur.
Ayana selesai sholat lebih dulu dan disusul dengan Rafa yang sekarang berjalan sejajar dengannya. Setelah sampai di meja kerjanya, Ayana langsung berpamitan dengan Rafa untuk memakai sepatunya terlebih dahulu dan dibalas anggukan oleh Rafa.
“Nanti kalau Aura sudah membawa makanannya suruh bawa ke ruangan saya saja. Kita makan bareng berempat,” ucap Rafa dengan senyumnya.
“Baik, Pak. Oh iya maaf, ini tadi saya membelikan Bapak roti untuk dibawa pulang,” ucap Ayana dengan gugup sembari mengambilkan box roti untuk Rafa dan memberikannya.
“Wah. Terimakasih, Ya. Tadi habis berapa jadinya?” ucap Rafa dengan cengirannya.
“Ini notanya, Pak. Kemaren uang Bapak masih ada 70.000 ribu di saya,” ucap Ayana dengan mengeluarkan nota tersebut dari dompetnya dan menunjukkannya pada Rafa.
“Oke.Nanti saya tukar. Saya masuk dulu ya,” ucap Rafa meninggalkan meja kerja Ayana dan berjalan ke ruangannya.
Ayana memutuskan untuk menyusul Aura di Lobby untuk membantu membawakan pesanan mereka. Beruntung sekali Aura masih berada di kursi tunggu Lobby yang sedang fokus dengan mengamati ponselnya.
“Belum datang ya, Ra?” tanya Ayana saat mendekati tempat Aura duduk.
“Iya nih,Mbak. Tapi udah deket kok kalau di mapsnya, Mbak,” ucap Aura.
“Okey. Kita tunggu aja. Oh iya Pak Rafa minta makan siang bareng berempat di ruangannya,” ucap Ayana.
“Hadeuh. Tadi Pak Arka udah selesai sholat belum, Mbak? Soalnya beliau ngeh nya kita makan masing-masing,” tanya Aura dengan dengusannya.
“Tadi sih belum, Ra. Tapi nggak tahu kalau sekarang,” ucap Ayana.
Aura langsung mencari nomor Arka pada kontak di ponselnya dan langsung menelponnya. Ayana akhirnya mengamati pelataran Lobby untuk mengetahui apakah abang Oh-food sudah tiba atau belum.
“Halo,” ucap Aura saat panggilannya sudah Arka angkat.
“Iya. Assalamu’alaikum. Mas, Dimana sekarang?” ucap Aura dengan datar. Namun membuat Ayana auto melengos padanya. ‘Mas’ batin Ayana.
“Di ruangan. Kenapa?” ucap Arka.
“Pak Rafa minta makan bareng di ruangannya,” ucap Aura.
“Oke. Aku kesana. Kamu bisa bawanya nggak?” ucap Arka.
“Ini ada Mbak Yaya. Sudah ya,” ucap Aura.
5 menit kemudian abang Oh-food datang mengantarkan pesanan makan siang mereka. Setelah membayar pesanan dan membawa pesanan mereka untuk ke ruangan Rafa.
TBC