Ayana baru menjawab pesan Rafa dengan jawaban “Iya Pak” setelah ia bangun untuk sholat tahajud. Setelah menjawab pesan tersebut, Ayana langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan mukanya dan berwudhu. Ia melaksanakan sholat tahajud dan membaca al qur’an hingga adzan subuh berkumandang. Setelah adzan selesai ia melaksanakan sholat fajar. Lalu ia keluar dari kamarnya untuk sholat subuh berjamaah bersama keluarganya.
Pukul 06.00 WIB Ayana sudah siap dengan baju rapinya. Zaidan hari ini tidak bermanja ria padanya dan berakhir bermanja ria dengan ibunya. Akhirnya ia melangkah ke dapur untuk menggantikan ibunya dalam menyiapkan sarapan.
“Mbak, tumben banget udah siap jam segini? Dijemput Mas Wafiy?” tanya Adit dengan mengerutkan keningnya.
“Nggak, Dit. Hari ini Mbak mau naik Oh-jek,” ucap Ayana yang masih sibuk membuatkan nasi goreng.
“Mas Wafiy kemana emangnya? Sibuk?” tanya Adit dengan datar.
“Iya. Kasihan juga dia capek habis dari Bandung kemaren. Motornya ibu juga mau dipake katanya hari ini,” ucap Ayana menjelaskan.
“Masa sibuk terus sih. Harusnya sih mengusahakan ada waktu buat Mbak dong,” ucap Adit dengan datar namun terlihat serius.
“Hehe. Dia kadang ngeluangin waktu buat Mbak kok, Dit. Kamu tenang aja,” ucap Ayana dengan lembut. Ia tahu bahwa adik pertamanya tersebut tidak terlalu cocok dengan Wafiy. Namun sebisa mungkin ia ingin membuat adiknya tersebut paling tidak berubah pikiran sedikit saja tentang Wafiy.
“Belain aja terus, Mbak. Aku nggak habis pikir aja kok bisa Bapak suka orang yang kayak gitu buat jadi mantu anak perempuan satu-satunya,” ucap Adit dengan cemberut.
“Sudah ya, Dit. Kamu sekarang bantu Mbak buat nyiapin piring di meja makan. Nasi gorengnya udah siap nih,” ucap Ayana menyudahi percakapan tentang Wafiy tersebut.
“Hmm,” ucap Adit sambil berjalan ke rak piring dan mengambil enam piring. Lalu meletakkannya di meja makan. Kemudian ia kembali lagi ke rak tersebut untuk mengambil gelas.
Sarapan pagi ini berjalan dengan hening seperti biasanya. Hanya ada celotehan Zaidan yang minta disuapi ibunya. Setelah semua selesai menyantap nasi goreng tersebut, Ayana langsung menumpuk bekas piring-piring tersebut dan membawanya ke wastafel dapur untuk ia cuci.
“Biar Ibu saja yang nyuci. Kamu siap-siap berangkat kerja saja,” ucap Nayla dengan lembut.
“Nggak papa kok, Bu. Ini sudah mau selesai juga,” ucap Ayana dengan senyumnya.
“Kamu sudah pesan Oh-jek?” tanya Nayla.
“Belum, Bu. Setelah ini Yaya pesan Oh-jeknya,” ucap Ayana dengan cengirannya.
“Sudah ini biar ibu selesaikan saja nyuci piringnya. Kamu pesen Oh-jeknya sekarang. Jam segini tuh baru macet-macetnya lho, Ya. Nanti kamu malah kena macet dan nunggu abangnya kelamaan juga malah jadi telat,” ucap Nayla dengan serius.
“Ya sudah, Bu,” ucap Ayana dengan membilas tangannya yang masih bersabun.
Setelah mengeringkan tangannya Ayana langsung naik ke kamarnya untuk mengambil tas kerjanya dan ponselnya. Saat ia akan memesan Oh-jek tiba-tiba ada notifikasi pesan w******p masuk dari Rafa yang menjawab “oke” dari pesan yang Ayana kirimkan sebelumnya. Ayana tidak membuka pesan dari Rafa karena ia bingung akan membalas apalagi untuk jawaban singkat tersebut.
Pukul 06.45 WIB keluarga Ayana sudah berangkat ke tujuannya masing-masing kecuali ibunya yang memilik acara jam 9.00 WIB nanti. Ayana masih menunggu sang abang Oh-jek yang sudah meluncur ke rumahnya untuk menjemput dan mengantarkannya ke kantor. Tak berselang lama Abang Oh-jek yang Ayana tunggu-tunggu akhirnya tiba di depan pagar rumahnya.
“Bu, Yaya pamit berangkat ke kantor,” ucap Ayana pada ibunya yang sedang duduk di ruang tamu dengan membaca koran.
“Sudah sampai ya abangnya?” tanya Nayla sambil melipat koran tersebut.
“Sudah, Bu. Itu udah di depan gerbang,” ucap Ayana.
“Ya sudah hati-hati di jalan,” ucap Nayla sambil mengantarkan anaknya ke teras.
“Iya, Bu,” ucap Ayana dengan menjabat tangan ibunya untuk ia cium, “Assalamu’alaikum”.
“Wa’alaikumsalam,” jawab Nayla lalu masuk ke dalam rumah kembali setelah Ayana meninggalkan pelataran rumahnya.
Ayana tiba di kantor pada pukul 07.30 WIB. Ia turun dari motor abang Oh-jek dan menyerahkan helmnya kepada abang Oh-jek tersebut. Lalu ia membayar ongkos Oh-jeknya.
“Lho Mbak Ayana! Kok dianter Oh-jek?” ucap Asep yang sedang berdiri di depan pos satpam.
“Hehe, Iya Pak Asep,” ucap Ayana dengan cengirannya.
“Rajin banget, Mbak. Pagi banget lho ini masihan,” ucap Asep saat melihat jam tangannya.
“Iya, Pak. Nggak papa daripada saya malah telat. Hehe,” ucap Ayana dengan senyum canggungnya.
“Hehe, iya juga sih, Mbak,” ucap Asep dengan cengirannya.
“Mari, Pak. Saya masuk ke dalam dulu ya,” ucap Ayana sembari menganggukkan kepalanya.
“Oh. Siap Mbak! Sok atuh,” ucap Asep sambil mempersilahkan Ayana dengan tangannya.
Saat Ayana sudah sampai di lantai tempat kerjanya ia lalu berjalan ke arah meja kerjanya dan meletakkan tasnya pada meja tersebut. Kemudian ia duduk di kursinya dan menyalakan komputernya untuk melihat jadwal Rafa hari ini. Setelah selesai melihat dan mencatat jadwal Rafa ia langsung menuju ke ruangan Rafa untuk membuka gorden ruangan tersebut dan membereskan barang-barang yang sekiranya berantakan. Saat ia membuka pintu ruangan Rafa untuk keluar dari ruangan tersebut ia benar-benar terkaget dengan kehadiran Rafa yang ada dibalik pintu.
“Hai, Ya,” sapa Rafa setelah Ayana keluar dari ruangannya dan sedang berhadapan dengannya saat ini.
“I-iya, Pak. Maaf tadi saya tidak tahu kalau Bapak akan masuk,” ucap Ayana dengan menunduk.
“Santai aja, Ya. Hehe,” ucap Rafa dengan terkekeh.
“Ba-baik, Pak. Bapak mau minum kopi sekarang?” ucap Ayana dengan canggung.
“Boleh. Tolong buatkan kopinya ya! Saya tunggu di dalam,” ucap Rafa dengan tersenyum lalu membuka pintu ruang kerjanya.
Ayana langsung menuju ke pantry untuk membuatkan kopi tersebut. Entah kenapa sekarang ia jadi merasa canggung dan bingung dalam bersikap di depan Rafa. Belum lagi ia masih penasaran dengan hubungan Rafa dan Dara. Namun ia juga tidak mau menanyakan kepada Rafa. Setelah selesai dengan membuat kopinya ia lalu berjalan ke ruangan Rafa untuk mengantarkan kopi tersebut.
Ayana mengetuk pintu ruangan tersebut dan setelah mendengar jawaban dari Rafa untuk masuk. Ia lalu membuka pintu tersebut dan berjalan ke arah Rafa yang sedang duduk di ruang tamu ruangannya.
“Pak, Ini kopinya,” ucap Ayana sembari meletakkan kopi tersebut di meja.
“Terimakasih, Ya. Hari ini jadwal saya apa saja?” ucap Rafa.
“Hari ini Bapak kedatangan tamu dari Yehara Group jam 10.00 WIB. Setelah itu kosong, Pak,” ucap Ayana menjelaskan.
“Oke. Nanti kamu notulensi lagi sama pesankan snack dan buatkan minum untuk tamunya. Kamu nanti koordinasi saja dengan Aura,” Perintah Rafa dengan runtut.
“Baik, Pak. Ada yang bisa saya bantu lagi?” ucap Ayana.
“Sudah cukup, Ya. Oh iya ada yang ingin saya tanyakan,” ucap Rafa dengan dahi berkerut.
“Tentang apa ya, Pak?” tanya Ayana dengan canggung.
“Ehmm, Kamu kenal Yura dimana?” tanya Rafa.
“A-ah itu- Saya dulu teman kuliah Yura. Kenapa ya, Pak?” ucap Ayana dengan gugup.
“Lho, berarti kita satu universitas juga dong,” ucap Rafa dengan kaget.
“Maksudnya, Pak? Bapak juga alumni Universitas Mancara Citra?” tanya Ayana dengan bingung.
“Iya. Saya dulu jurusan Teknik Industri angkatan atas persis kalian berdua,” ucap Rafa dengan cengirannya, “Kamu satu kelas sama Yura ya?”.
“Mungkin karena beda fakultas, Pak. Jadi kita nggak kenal, Hehe,” ucap Ayana dengan kekehan canggungnya.
“Haha. Iya ya. Tapi dunia sempit juga ya. Kamu tahu Yura itu adek sepupunya Arka dari jalur ibunya,” ucap Rafa dengan tawanya.
Ayana benar-benar syok dengan perkataan Rafa. Ya, Allah sempit sekali dunia ini. Ternyata Yura memiliki hubungan dekat dengan Arka yang otomatis juga kenal dengan Rafa karena pria itu pun menanyakan hubungan pertemanan Ayana dengan Yura. Ayana seperti terjebak di dalam Pandora sekarang. Ia tidak menyangka bahwa semua ini akan terjadi sebelumnya. Bahkan Rafa pun ternyata dulu juga satu Universitas dengannya.
TBC