Menunduk, aku tidak berani menatap sosok yang berdiri menjulang di teras masjid. Dilanda kegugupan, tanganku meremas ujung baju. Sebelumnya saja aku selalu merasa salah tingkah setiap bertemu dengan Ulil, apa lagi jika menatap matanya yang sekelam malam. Ditambah pembicaraanku dengan Ibu di meja makan saat buka puasa tadi, semakin menambah kegugupanku. “Salma,” panggil Ulil dari atas. “Kesulitan mencari sandalmu?” Aku menundukkan kepala semakin dalam. “Tidak, Kang.” Kurasakan suaraku bergetar. Aku memang tidak pandai menyembunyikan perasaan. Semakin erat tanganku yang dingin meremas ujung baju. Kakiku seperti dipaku di atas tanah, lemas dan susah digerakkan. Seolah mengerti penyebab kegugupanku, Ulil berjalan mendekat. “Apakah sudah kamu tanyakan pada Ibu?” Tidak, aku tidak menanyaka

