20. Debaran Cinta

1194 Kata

Aku melihat motor besar Ulil terparkir di halaman rumahku yang luas, tepat di bawah teduhnya pohon mangga. Namun, aku sama sekali tidak mendapati keberadaan pemiliknya. Masuk ke dalam rumah, aku hanya melihat keranjang berisi sayur dan umbi-umbian yang tadi dibawakannya berada di dapur. “Kang Ulil ke mana, Mir?” tanyaku pada Amira. Si bungsu tersebut sedang mengupas umbi bersama Yu Lasmi—tetangga baik hati yang selalu menemani Ibu—untuk diolah menjadi jajan jaburan. “Tadi dia yang nganterin keranjang itu kemari, kan?” “Lagi diminta tolong petik kelapa sama Ibu, Mbak.” “Yang bener, Mir? Kenapa Ibu tidak minta tolong sama Arman saja, sih, masak putranya Abah Yai Islamil diminta petik kelapa!” “Gus Ulil sendiri yang menawarkan diri, Mbak. Ibu sudah melarang, tapi dia bilang tidak apa-ap

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN