19. Ambigu

1437 Kata

Belum genap 24 jam Bapak dimakamkan. Rasanya seperti mimpi, aku masih begitu ingat jelas senyum lebarnya ketika mencoba kemeja batik barunya yang akan digunakan untuk menikahkan aku. Mati-matian aku menahan air mata agar tidak jatuh di atas tanah makamnya. Di antara ketiga putrinya, akulah yang paling dekat dengan Bapak. Meski sudah mengikhlaskannya, tetapi kepergiannya menyisakan duka yang begitu dalam. Aku merasa sangat kehilangan. Aku sedang dilanda kerapuhan. Tidak hanya bersedih oleh kepergian Bapak, tetapi juga atas musibah yang menimpa calon suamiku. Dalam keadaan seperti ini, biasanya Bapaklah yang akan menepuk bahuku lembut. Beliau akan tersenyum menguatkan sambil memberikan beberapa kalimat wejangan yang mampu mendongkrak kembali semangatku. Namun, kini aku sendiri. Bapak tid

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN