Jerit tangis Amira masih terdengar. Air mataku meleleh kian deras, membanjir menganak sungai di kedua pipiku. Aku menangis tanpa suara, hanya saja bahuku terguncang hebat. Rumahku sudah ramai oleh para tetangga yang datang untuk bertakziah. Mencoba tegar, kulihat Ibu berkali-kali mengelus d**a sambil menarik napas dalam-dalam. Aku tidak bisa seperti beliau. Kepergian salah satu orang yang paling kusayangi membuatku begitu terpukul. Tidak ada pernikahan, tidak ada lagi senyumnya yang merekah indah. Yang ada kini hanyalah kesedihan yang mendalam. Nelangsa batinku menatap sosok yang terbujur di atas kasur lipat di ruang tengah dengan kain jarik menutup seluruh tubuhnya. Tidak hanya mencabut senyum di wajahnya, berita buruk yang menimpa calon menantunya membuat tubuh rentanya tidak sanggup

