17. Permainan Takdir

1213 Kata

Entah bagaimana harus kulukiskan kebahagiaan yang tengah dirasakan oleh keluargaku. Tak hanya Amira yang berlama-lama berdiri di depan cermin sambil mengenakan gamis barunya, Bapak pun begitu sumringah mencoba batiknya. “Bagus, ya, Nduk? Bapak jadi merasa kembali muda dan tampan,” selorohnya. Tawaku sontak menyembur keluar. “Wes, tha, dilepas, Pak. Nanti dipakai pas hari H saja,” tegur Ibu. Beliau turut senyam-senyum melihat kebahagiaan Bapak. “Iya, Bu. Bapak itu sudah tidak sabar. Padahal tinggal besok saja, tapi rasanya lama sekali.” Benar, besok usai salat tarawih pernikahanku dengan Rahmat akan digelar. Hanya akad nikah, tetapi Ibu dan Bapak begitu gembira mempersiapkan diri. Ibu bahkan sudah tiga hari tidak ke ladang, beliau memasrahkan ladangnya yang sangat luas kepada para peke

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN