16. Menorehkan Luka

1191 Kata

Pada senja kuadukan sakit yang kurasa. Hatiku tergores, terluka sebab peduli. Entahlah, aku tidak bisa berhenti peduli meski berkali-kali telah disakiti. Aku menyayangi Fatiha meski sikapnya tak pernah bersahabat. Kepedulianku padanya murni dari ketulusan hati. Namun, Fatiha menganggap kepedulianku hanyalah modus semata, salah satu cara untuk mengambil simpati seluruh keluarga. “Tidak usah sok berhati malaikat, deh, Mbak. Kamu sengaja, kan?” tuduhnya berapi-api. Aku sampai ingin menangis melihat tatapannya yang dilumuri kebencian. “Jangan percaya, Sayang. Kakakmu hanya sedang membalas dendam pada kita. Dia masih sakit hati aku lebih memilih menikahimu daripada menikahinya,” bual Arman. Pria itu merangkul bahu Fatiha mesra. “Kata siapa? Mbak Salma justru bahagia lepas dari laki-laki se

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN