Menyambut gembira kepulangan Bapak, aku tiada henti menyunggingkan senyuman melihat sosok ringkih yang telah sepuh tersebut tampak begitu gembira dituntun keluar dari doplak. Senyum di wajah tuanya begitu lepas bersama Rahmat. “Terima kasih banyak, ya, Kang,” ucapku ketika Rahmat selesai membantu Bapak berbaring di kamarnya. Aku memberinya senyum tulus. Rahmat membalas dengan hal serupa. “Sama-sama, Sal. Ngomong-ngomong, boleh kalau aku sering-sering datang menengok Bapak?” Aku mengangguk. Sudah pasti aku tidak keberatan. Kehadirannya menjadi penyemangat untuk Bapak, membuat senyum di wajah tua tersebut selalu merekah dan berseri. Aku tidak akan pernah melarangnya. “Tentu saja, Kang. Bapak pasti sangat gembira. Belakangan yang dibacarakan Kang Rahmat terus, sampai Amira pun cemburu se

