Pelan tapi pasti, bola api raksasa itu bergerak menyapaku dari balik jendela. Kilau keemasannya berpendar indah di atas hamparan perkebunan teh. Layu, tatapanku menerawang membalas sapaannya. Duhai senja, tahukah kamu, hatiku sedang dirundung duka? Aduku padanya. Sudah tiga hari Bapak dirawat di rumah sakit dan kondisinya berangsur membaik, meski belum diperbolehkan pulang. Setiap hari aku, Ibu, dan Amira bergantian menjaganya. Terkadang Arman dan Fatiha datang walau sebentar. Wajah Bapak tampak berseri-seri sebelum kutinggalkan pulang. Menghela napas dalam-dalam, kurasakan dadaku sesak oleh rasa yang tak kuinginkan. Keberadaan Rahmat rupanya memberikan suntikan semangat yang sangat besar terhadap Bapak. Pria itu datang setiap hari menjenguk Bapak. Sama seperti hari ini. Selepas Asar

