13. Khimar Kesedihan

1165 Kata

Bersyukur, aku tidak perlu berlama-lama dengan Ulil. Hanya selang tak lebih dari dua menit kemudian Mbah Haji datang. Kupikir Ulil akan segera menyingkir, akan tetapi pria itu justru naik ke atas dinding untuk menjangkau buah yang berada di ketinggian. Sementara aku dan Mbah Haji menanti di bawahnya. “Tangkap, Salma,” pintanya dari atas. Itu adalah kali pertamanya Ulil menyebut namaku. Hal kecil yang sangat sederhana, tetapi mampu meluapkan dadaku. Di dalam sana rasanya seperti ada jutaan bunga bermekaran. Aku merasa sangat bahagia. Menengadahkan kepala, aku bersiap menangkap lemparannya. Tatapan kami bertemu. Duh, Gusti, jika ini dosa aku berharap Engkau mau mengampuni. Kalut oleh pikiranku, benda bulat merah yang melayang ke arahku itu nyaris mengenai kepalaku. Aku tidak dapat menang

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN