12. Getaran Cinta

1262 Kata
Bermimpi akan burung merpati putih memiliki arti yang baik, karena merpati putih merupakan simbol dari kepolosan dan kemurnian hidup. Banyak yang menafsirkan, bahwa mimpi tentang merpati putih adalah pertanda akan mendapatkan sahabat baik dalam hidup, atau boleh dibilang jodoh. Terutama jika mimpi tersebut dialami oleh seseorang yang belum memiliki pasangan. Bagi seorang gadis tua sepertiku yang mengharap akan datangnya jodoh, mimpi diberi merpati putih harusnya merasa bahagia, akan tetapi hatiku justru dilanda keresahan. Bagaimana tidak, merpati tersebut diberikan oleh sosok yang dalam hitungan minggu akan segera menjadi suamiku. Memang, tidak bisa diyakini seratus persen kebenarannya, bisa saja mimpi tersebut hanyalah bunga tidur. Namun, berkali-kali mencoba mendistraksi, mimpi itu justru semakin mempengaruhi pikiranku. Hatiku kian gundah. Saking tidak fokusnya, aku bahkan tidak menyadari tengah melewati dua pria yang sedang duduk-duduk di teras masjid. Sengaja pulang akhir, langkah kakiku menuruni undakan teras masjid dengan pikiran terbang ke awang-awang. Tanpa melihat, kupakai sandal jepit yang kubeli kemarin dan masih tampak baru. Sebuah suara menegurku. Pikiranku yang berada di awang-awang sontak terjun bebas. “Sepertinya memang hobi sekali menukar sandal.” Aku menengadah, seketika wajahku memerah. Di teras masjid, kulihat Rahmat dan Ulil duduk bersisian. Keduanya menatap ke arahku. “Jangan mengambil sandal yang bukan milikmu, Salma.” Suara Rahmat kembali terdengar. Aku menunduk, menatap sandal japit yang kupakai. Ini milikku. Seperti orang linglung, aku kembali menengadah dan menatap pria itu bingung. Rahmat bangkit dari duduknya dan menghampiriku. Sarungnya bergerak-gerak mengikuti langkahnya. “Ini milikku,” ujarku pelan. “Salma, ada apa?” tanyanya. Aku menangkap nada cemas dalam suaranya. Menelan ludah, aku tidak tahu apakah perasaanku saat ini jelas terbaca olehnya. “Maksudmu?” “Kamu terlihat tidak fokus. Ada yang mengganggu pikiranmu?” Benar. Mimpi tentangmu sungguh mengganggu pikiranku, batinku resah. Meski berusaha menyimpannya untuk diri sendiri, tapi sepertinya kegundahanku dapat terbaca jelas oleh Rahmat. Mungkin juga oleh orang lain. “Mm, tidak ada,” jawabku ragu-ragu. “Bapak baik-baik saja, kan?” Aku mengangguk. Mungkin ia berpikir aku sedang memikirkan kesehatan Bapak yang belakangan sering sakit-sakitan. “Tapi kamu tidak terlihat baik-baik saja. Aku mencemaskanmu, Sal.” Nyut! Alih-alih berbunga-bunga, hatiku justru terasa seperti ada yang mencubitnya. Lihatlah, betapa baiknya pria ini. Ia tidak kurang apa pun, akan tetapi mengapa sulit sekali melabuhkan hatiku padanya? Menggigit bibir, aku membuang muka. Namun, sialnya justru ke tempat yang salah. Mataku kini bertabrakan dengan sepasang mata tajam milik Ulil. Pria itu tetap duduk di tempatnya sambil menatapku. Begitu intens, nyaris tanpa kedip. Hatiku semakin tak karuan. Antara gugup dan merasa bersalah. Buru-buru kutundukkan pandangan menghindarinya. “Tidak apa-apa, Kang. Aku merasa baik-baik saja.” Tak ingin berlama-lama terjebak dalam situasi ini bersama dua pria tersebut, aku segera membalikkan badan untuk angkat kaki dari sana dan pulang. Namun, Rahmat memanggilku. Aku terpaksa menoleh. “Kalau ada apa-apa, jangan ragu cerita. Nomorku kamu simpan, kan?” “Inggih, Kang. Terima kasih.” Kuayunkan kaki kembali, akan tetapi baru selangkah Rahmat kembali memanggilku. “Salma Nadya Asnawati.” Lengkap ia menyebut namaku. Aku kembali menoleh dan berujar, “Ada apa lagi, Kang?” “Kamu salah mengambil sandal.” Lagi-lagi sandal! Aku menatap sandal yang kukenakan dan yakin sekali tidak tertukar. Aku membelinya untuk Bapak sebagai ganti yang buluk yang telah kuhilangkan. “Ini sandalku, Kang. Aku baru membelinya,” sanggahku. “Bukan. Itu milikku, milikmu ada di sana.” Rahmat menunjuk sebuah sandal yang sama persis seperti yang kukenakan. Pandanganku mengikuti arah yang ditunjuk. Sandal itu tepat berada di depan tempat Ulil duduk. “Kalau tidak percaya, coba dilihat. Ada sayatan kecil di bagian belakangnya. Aku juga baru membelinya.” Benar. Ada sayatan kecil membentuk huruf V di bagian balakang. Sontak wajahku memanas. Lagi-lagi kejadian memalukan ini terulang. Sungguh malunya setengah mati. “Maaf, Kang, maaf. Aku tidak tahu,” ujarku panik. Buru-buru kulepaskan sandal tersebut dan bergerak untuk mengambil milikku. Namun, langkahku terhenti. Di depan sana ada Ulil, seperti sengaja menunggui sandalku. Memberanikan diri, aku melanjutkan langkah sambil menundukkan kepala. Pria itu masih menatapku tajam, tetapi sebelum menundukkan kepala aku sempat melihat kilatan geli dalam netra hitamnya. “Karena itu aku bertanya, mungkin ada yang sedang mengganggu pikiranmu.” “Terlalu banyak sandal yang sama di masjid ini, Kang,” jawabku membela diri. Meremas ujung baju, aku buru-buru mengenakan sandalku tanpa sedikit pun berani mengangkat kepala. Aku tahu, tepat di depanku yang hanya berjarak tidak lebih dari semeter, Ulil tengah memerhatikan gerak-gerikku. “Sekali lagi aku minta maaf, Kang,” lanjutku. Kemudian berbalik dengan cepat dan setengah berlari meninggalkan mereka. Masih sempat kudengar kekehan geli Rahmat disertai suara Ulil. “Gadis tukang menukar sandal.” Wajahku semakin memanas, pasti sudah merah merona. Sebelumnya tertukar dengan milik Ulil, sekarang punya Rahmat. Sungguh aku malu sekali. Sepertinya besok-besok aku harus memakai sepatu ke masjid untuk menghindari peristiwa sandal tertukar yang memalukan. Terlalu banyak sandal japit seperti ini bertebaran di masjid. *** Pagi-pagi sekali bersama Amira aku membantu Ibu memanen jeruk nipis yang tumbuh subur di belakang rumahku. Ada lima pohon dan semuanya berbuah lebat. Ibu berencana membawanya ke pasar untuk dijual. Dari lima pohon tersebut, penuh munjung satu cepon besar. “Ibu bisa membawanya sebanyak ini sendirian? Apa perlu kutemani, Bu?” “Tidak usah, Nduk. Ibu nebeng doplaknya Nak Rahmat.” “Tapi bawaan Ibu tidak hanya jeruk, kan? Katanya habis panen mentimun juga?” “Tidak apa-apa. Nak Rahmat yang bawa mentimunnya, sudah diborong dia. Kamu bantu Ibu petik delima di tempat Mbah Haji saja, mau sekalian Ibu bawa. Pecuma minta bantuan Mira, pasti nolak mentah-mentah.” “Delima yang dulu dicuri Mira, Bu?” tanyaku pura-pura bodoh. Sengaja untuk melihat wajah cemberut adikku. Benar saja, Amira langsung menekuk wajahnya. Aku sontak tergelak bahagia. “Ungkit terus sampai kiamat, Mbak!” serunya sebal. Ia melempariku menggunakan sebutir jeruk, tetapi meleset. Aku berhasil menghindarinya. “Sekarang, Bu?” “Iya, sebelum Nak Rahmat datang. Tinggalkan saja jeruknya, biar Ibu sama Mira yang melanjutkan.” “Inggih, Bu.” Memasukkan beberapa butir jeruk yang baru kupetik, ke dalam cepon, bergegas aku beranjak meninggalkan halaman belakang. Masih sangat pagi, aku berharap Ulil tertidur usai subuh dan belum bangun sehingga aku tidak perlu bertemu dengannya. Namun, harapanku sia-sia. Pria itu justru yang membukakan pintu ketika aku datang ke sana. Hatiku jungkir balik tak karuan. Tidak hanya perasaanku padanya yang tak kunjung hilang, tetapi mengingat kejadian memalukan semalam juga menjadi penyebabnya. “Simbah sedang ngaji subuhan di tempat Abah. Sebentar lagi pulang, tapi tadi sudah berpesan kalau kamu akan datang,” ujarnya datar. Pria itu keluar dan memberiku isyarat untuk mengikutinya. Berjalan di belakangnya, Ulil membawaku menyusuri teras samping yang tembus langsung ke halaman belakang. Indah, halaman belakang rumah Mbah Haji sangat indah. Memiliki taman yang sangat rapi dengan berbagai jenis tanaman hias, baik yang di dalam pot maupun langsung ditanam di atas tanah. Dua buah pohon delima tumbuh di dekat pagar dan berbuah lebat. Sebagian dedaunannya menjuntai keluar dari pagar. Satu delima merah, yang satunya delima putih. “Kamu bisa memetiknya?” tanyanya dengan suara rendah. Aku bergumam ragu. Datang dengan tangan kosong, aku tidak yakin mampu menjangkau semua buah yang berada di ketinggian. Sepertinya Ulil melihat keraguanku dan berinisiatif membantu. “Biar saya bantu,” ujarnya. Pria itu bergerak mendahuluiku dan mulai menjangkau buah-buah ranum tersebut. “Ayo!” ajaknya begitu melihat aku masih terpaku di tempat. Jantungku sontak bersalto ria berserobok dengan netra kelamnya yang menghanyutkan. Tergagap, aku cepat-cepat mengiyakannya Bersama Ulil, aku memanen buah delima sambil berdoa semoga jantungku tidak meloncat keluar saking kencang detakannya. Resah, rasa itu kian kuat mengakar di dalam sana. Getarannya seirama dengan detak jantungku yang berpacu cepat. Ya Allah, berdosakah aku? Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN