11. Jurang Kebimbangan

1320 Kata
Saling meremas, tanganku terasa dingin. Samar-samar kudengar percakapan di ruang tamu. Tak ikut menemui, aku masuk kembali setelah menyuguhkan minuman dan menunggu di ruang tengah dengan resah. Jantungku berdebar hanya karena ada Ulil di depan sana. Tak seperti ketika Rahmat memberitahuku ingin datang untuk menjenguk Bapak, aku tidak merasakan perasaan apa pun, entah grogi atau merasa bahagia akan kedatangan calon suami. Rahmat tidak mengatakan akan datang bersama Ulil. Dari Amira aku tahu mereka berkawan dekat, tetapi sedekat apa pun apakah perlu ia meminta sahabatnya untuk menemaninya apel ke rumah calon istri? Aku berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepala. Rahmat datang untuk menjenguk Bapak, bukan untuk apel. Tentu saja ia boleh mengajak siapa saja untuk menjenguk orang sakit, asal bukan Ulil. Bagaimana aku akan melupakannya dan berusaha mencintai calon suamiku, kalau orang yang ingin kulupakan justru bergentayangan di dekatku? Entah sudah berapa kali aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya, terus mengulanginya seperti itu untuk menenangkan perasaanku. “Nduk Salma. Nak Rahmat sama Gus Ulil mau pamit.” Terdengar suara Ibu dari depan. Kurasakan tanganku semakin dingin. Kembali menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya, kuangkat tubuhku dari kursi dan bangkit. Sedikit gemetar, kuseret paksa kakiku menuju ruang tamu. Aku tidak berani mengangkat kepala, baik untuk menatap Rahmat apa lagi Ulil. Kutundukkan kepala dalam-dalam. Mereka bangkit, bersalaman dengan Bapak. “Kami pamit, nggih, Pak,” ucap Rahmat. Pria itu mencium tangan Bapak. “Semoga Bapak lekas sehat kembali.” “Terima kasih, Nak Rahmat. Bapak senang sekali dikunjungi calon mantu.” Ringan dan bahagia suara Bapak. Harapan beliau terhadap Rahmat sungguh besar, tapi tanpa Bapak tahu, hatiku justru dimiliki pria lain. “Salma,” panggil Rahmat. Suaranya lebih rendah dari sebelumnya. Aku sama sekali tidak berani menatapnya. Kepalaku masih tertunduk seperti semula. “Inggih, Kang?” “Aku pulang dulu.” “Inggih, Kang.” Hanya itu. Tidak ada kalimat apa pun yang kuucapkan selain itu. Ulil tidak mengucapkan apa pun, pria itu berpamitan pada Bapak dan Ibu dan langsung pergi bersama Rahmat. Memangnya apa yang kamu harapkan darinya, Salma? Sisi hatiku bertanya. Jangan berharap ia juga akan pamitan denganmu seperti yang dilakukan Rahmat. Ulil bukan siapa-siapamu. Itu benar. Harapanku saja yang terlalu ketinggian dan tidak semestinya. Bersama Bapak dan Ibu, aku ikut mengantarkan mereka sampai di depan pintu. Tak berani menatap wajah mereka, sebagai gantinya kutatap punggung keduanya. Namun, sungguh tidak kusangka, pada saat yang bersamaan Ulil menolehkan kepala. Tatapan kami bertemu. Jantungku berpacu kencang, detakannya semakin menggila oleh netra kelamnya yang sepekat malam. Beberapa detik, tak ada satu pun yang berusaha untuk memutus kontak. Kulihat sorot tajam itu tiba-tiba melembut seiring dengan tarikan di kedua sudut bibirnya. Kukedipkan mata beberapa kali, memastikan tidak ada masalah dengan penglihatanku. Ulil tersenyum padaku! Mendadak kakiku seperti jelly. Hanya diberi senyuman olehnya, aku langsung merasa lemas. *** “Bapak senyum-senyum terus, Bu,” bisikku, tetapi masih cukup jelas sampai ke telinga beliau. Kuperhatikan wajah Bapak, sosok sepuh tersebut tampak berseri-seri. “Bapakmu sedang bahagia, Nduk.” Ibu ikut tersenyum lebar. Senyumnya merambat sampai mata hingga kulihat pendar cahaya di dalam sana. Kedua orang tuaku rupanya sedang kompak bahagia. “Nak Rahmat ingin mengajukan hari pernikahan, Nduk,” jawab Bapak. Senyumnya tak sedikit pun lepas dari bibirnya. “Kapan, Pak?” tanyaku. “Sebelumnya, ibunya Nak Rahmat sudah pernah mengatakan pada Ibu, katanya pernikahan akan dilaksanakan dua hari setelah lebaran. Namun, rupanya Nak Rahmat sudah tidak sabar.” Ibu tertawa kecil. Tangannya terulur mengusap lembut kepalaku. “Dia datang ingin memajukan hari pernikahan, Nduk. Nak Rahmat meminta pendapat Bapak, bagaimana kalau pernikahan dilaksanakan seminggu sebelum lebaran. Yang penting sah dulu, urusan resepsi bisa dilangsungkan setelah lebaran.” “Terus, Bapak jawab apa?” “Tentu saja Bapak dan ibumu setuju, tapi yang mau menjalankan bukan kami, melainkan kamu. Jadi, Bapak ingin meminta pendapatmu terlebih dahulu sebelum memutuskan. Menurutmu bagaimana?” Aku terdiam. Termenung. Ada jurang kebimbangan yang menganga lebar. Di satu sisi aku masih ingin memantapkan perasaanku terlebih dahulu agar sepenuhnya dapat menerima Rahmat tanpa sedikit pun menyimpan perasaan untuk pria lain. Namun, di sisi lain aku menginginkannya. Bukankah akan lebih baik kalau pernikahan semakin dipercepat agar aku lebih mudah belajar mencintainya? Ada pepatah yang mengatakan, witting tresna jalaran saka kulina. Cinta berawal dari kebiasaan. Terbiasa akan kehadirannya, kurasa akan semakin memudahkan hatiku untuk mencintainya. Perlahan, aku yakin nama Ulil akan terkikis dengan sendirinya digantikan olehnya. “Tidak perlu dijawab sekarang, Nduk. Nak Rahmat minta agar kamu memikirkannya matang-matang terlebih dahulu. Sehari atau dua hari sambil istikharah.” “Tapi aku mau, Bu,” jawabku. Keinginan untuk melupakan Ulil membuatku cepat mengambil keputusan. “Sungguh, Nduk?” Bapak menatapku dengan pijar pengharapan. Aku menarik napas panjang dan mengangguk. Kebahagiaan pria yang teramat kusayang inilah yang menjadi prioritasku. Aku tidak akan memudarkan cahaya di dalam matanya. “Kalau begitu Bapak akan memberitahu Nak Rahmat.” “Iya, Pak. Tapi sekarang sebaiknya Bapak istirahat saja, ya. Sudah malam. Bapak harus sehat agar dapat menikahkanku nanti.” Menyunggingkan senyum terbaikku, aku meraih tangan Bapak dan menciumnya. Bapak menggenggam tanganku dan balas tersenyum haru. “Bapak janji akan menjaga kesehatan agar dapat menikahkah putri kesayangan Bapak.” “Ya, sudah. Bapak tidur sekarang, biar Salma masuk ke kamarnya.” Ibu menata bantal untuk Bapak. Kulepas genggaman tangan Bapak, kemudian bangkit dan berjalan keluar. *** Aku terbangun dengan napas terengah tepat saat suara Rahmat menggema merdu dari pengeras suara. Bergantian dengan Ulil, pria itu mengumandangkan tarhim membangunkan orang-orang untuk sahur. Namun, bukan karena itu aku terbangun dengan keringat membanjir. Sebelum tidur, aku melaksanakan salat istikharah untuk meminta petunjuk kepada Allah. Jika memang Rahmat adalah jodohku, aku memohon agar hatiku yang meragu segera dimantapkan. Dalam tidurku aku bermimpi Rahmat datang dengan colt doplaknya untuk mengangkut sayuran. “Salma,” panggilnya begitu turun dari doplak. Pria itu menghampiriku dengan wajah berseri-seri. “Mau ambil sayuran lagi, Kang?” “Iya. Selama puasa permintaan sayur meningkat tajam.” Aku mengangguk dan mencatat sayuran yang akan dibawanya. Setelah itu kuminta salah satu pekerja Bapak untuk mengangkutnya ke atas doplak yang dibawa pria tersebut. Sambil menunggu muatannya, Rahmat mengajakku ngobrol ringan. “Sal, kamu tahu yang paling membahagiakan dalam hidup?” tanyanya tiba-tiba. Tanganku yang sedang menghitung jumlah pesanannya menggunakan kalkulator terhenti. Kuangkat kepala dan menatapnya. “Bersyukur,” jawabku meski tidak tahu untuk apa tiba-tiba ia memberiku pertayaan seperti itu. “Mengapa?” “Dengan bersyukur aku merasa bahagia. Punya uang pas-pasan bersyukur, jodoh gak datang-datang, ya aku tetap bersyukur. Kalau semua dikeluhkan, hidup tidak akan bahagia.” Rahmat tergelak mendengar jawabku, tetapi kemudian ia mengangguk-anggukan kepala. Matanya tampak menerawang jauh. “Mengapa tiba-tiba bertanya seperti itu?” “Ah, tidak apa-apa. Hanya ingin tahu saja. Jadi, berapa totalnya?” Ia mengeluarkan dompet dari tas selempangnya. “Dua juta tujuh ratus, Kang.” Kusodorkan kalkulator padanya. Rahmat mengangguk dan mengeluarkan sejumlah uang untuk membayar sayuran yang diambilnya, kemudian pamit. Namun, tak lama kemudian pria itu turun lagi dari doplaknya dan menghampiriku. “Ada yang ketinggalan, Kang?” “Aku melupakan sesuatu.” Rahmat menyerahkan sebuah besek anyaman besar kepadaku. “Kuserahkan ini padamu. Rawat baik-baik, ya.” “Apa ini, Kang?” “Buka saja di dalam. Aku pergi dulu.” Ia melangkah mundur. “Baiklah. Terima kasih, Kang.” “Sampai jumpa, Salma.” Kubalas lambaian tangannya seraya tersenyum lebar. Rahmat kembali masuk ke dalam doplaknya. Perlahan kendaraan yang mengangkut banyak sayuran itu meninggalkan halaman rumahku. Masuk ke dalam rumah, aku membuka bingkisan pemberian Rahmat dan terkejut mendapati sebuah merpati putih di dalamnya. Kuulurkan tangan menyentuh bulu-bulu indahnya. Mata hitam merpati tersebut menatapku tajam. Selain putih bersih, bulu-bulunya terasa lembut di tanganku. Aku tersenyum, menyukainya. Kuhembuskan napas kasar seraya menyeka butiran keringan di dahi. Kembali bermimpi diberi merpati sukses membangkitkan kecemasan. Hatiku semakin dilanda kembimbangan. Untuk apa calon suamiku memberiku merpati? Suara Rahmat dari pengeras digantikan oleh suara Ulil. Rahmat pasti sedang sahur. Mereka memang selalu bergantian mengumandangkan tarhim. Bergerak turun dari tempat tidur, kuputuskan untuk mengambil air wudlu dan melaksanakan salat Tahajud sebelum sahur. Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN