30 juz di hari ke lima bulan Ramadhan telah berhasil kukhatamkan. Setiap selesai salat lima waktu, rutin aku membacanya. Ditambah setelah Duha atau Tahajud. Keinginanku untuk mengkhatamnya sebanyak lima kali begitu besar. Setelah ini aku akan mulai menambah bacaan lagi untuk memudahkanku ketika nanti mendapatkan halangan berupa tamu bulanan.
Tak seperti Amira yang padat aktifitas mengisi kajian-kajian pesantren kilat dan kegiatan sosial bersama teman-temannya, aku justru tidak memiliki kegiatan apa pun. Semua kegiatanku mengajar sekolah formal di pesantren libur total selama bulan Ramadhan, karena itu kumanfaatkan waktuku untuk mengaji. Mengulang-ulang kalamNya dan meresapi setiap makna.
Menjadikan membaca Alquran sebagai candu merupakan salah satu tujuan hidupku yang masih terus berusaha kuraih. Aku mencintainya dan tak bisa lama-lama meningalkannya. Gersang hatiku tanpa membacanya. Kebiasaan itu sudah melekat sejak SD, mengikuti wejangan Mbah Haji sebagai guru ngajiku semasa kecil.
“Jangan pernah meninggalkan Alquran, Nduk,” pesannya saat aku berhasil mengkhatam 30 juz untuk pertama kalinya. “Jangan pernah bosan membacanya dan ulang kembali sesudah khatam. Begitu seterusnya.”
Mbah Haji bahkan membuatkan syukuran berupa nasi kuning yang dibagikan untuk teman-teman ngajiku yang lain. Sejak saat itu aku sangat mencintai Alquran dan membacanya setiap usai salat.
Kucium mushaf dengan penuh perasaan. Benda kecil yang selalu kumuliakan itu telah menemaniku lebih dari separuh usiaku. Hadiah dari Bapak ketika aku wisuda TPQ. Kedamaian kurasakan dalam setiap helaan napasku.
Dentingan pesan masuk di atas nakas mengalihkan perhatianku. Aku bangkit meletakkan mushaf di dalam lemari rak paling atas, kemudian mengambil benda pipih persegi tersebut dan membuka aplikasi hijau. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.
Assalamu’alaikum, Salma.
Jariku bergerak membalas salamnya. Belum sempat menekan tombol kirim, pesan itu datang lagi. Ini Rahmat.
Jariku berhenti di atas papan ketik. Dari mana ia mendapatkan nomorku? Ia tak lagi memanggilku mbak seperti saat mencegatku untuk mengembalikan sandal milik Ulil.
Menggigit bibir, aku mikir kalimat untuk membalasnya. Kuputuskan menekan tombol kirim jawaban salam yang sudah kuketik terlebih dahulu. Langsung centang dua biru.
Aku : Ada apa?
Rahmat : Bapak sehat?
Aku : Belakangan agak menurun kesehatannya.
Rahmat : Boleh aku menjenguknya?
Aku : Tentu.
Rahmat : Baiklah, nanti malam usai tarawih.
Tak lagi membalasnya, aku meletakkan kembali ponselku dan merenung. Rahmat hendak menjenguk Bapak, tetapi kalimat terakhirnya terdengar seperti ingin mengajakku janjian.
Andai dapat memilih, aku ingin jatuh cinta pada Rahmat dan memberikan seluruh hatiku kepadanya, alih-alih menyimpan perasaan untuk pria lain. Namun, hatiku tak kuasa menolak. Perasaan ini hadir dengan sendirinya tanpa kuinginkan. Walau berusaha mengingkari, tapi hatiku tidak dapat kudustai.
Menghela napas dalam-dalam, aku ingin berusaha lebih keras lagi untuk melupakan Ulil berikut perasaanku padanya. Tunas-tunas yang baru saja tumbuh di dalam sana harus segera kucabut paksa sebelum mengakar kuat dan sulit dienyahkan.
***
Sejak beberapa bulan terakhir kondisi kesehatan Bapak sering menurun. Tak sebatas radang sendi seperti yang biasa beliau keluhkan setiap meneleponku, kali ini beliau mengeluh sesak napas. Asam lambungnya pasti kumat.
Kutata bantal pada kepala ranjang, kemudian membantu Bapak duduk menyandar di sana dan sedikit membungkukkan tubuhnya ke depan untuk merilekskan dan membuat pernapasan lebih mudah.
Dada Bapak naik-turun tidak teratur, napasnya tersengal dan kempas-kempis. Terenyuh hatiku, merasa tidak tega melihat wajah tuanya dipenuhi gurat kesakitan.
“Bapak batalkan saja puasanya, ya?” ucap Ibu sembari membaluri d**a Bapak dengan minyak angin.
Tanganku membelai punggung kurusnya. Terasa dingin dari balik kaos oblong kebesarannya. Keringat dingin mulai bermunculan.
Bapak menggeleng lemah dan menjawab berbisik, “Nanggung, Bu.”
“Kalu sudah tidak kuat tidak boleh dipaksakan, Pak.” Lembut, kuseka butiran keringat dingin di keningnya. “Bapak harus segera sehat, nanti malam ‘kan mau ketemu calon menantunya,” ujarku sengaja memberinya semangat.
Di antara kerut kesakitannya, kulihat bibir Bapak tersenyum. Membicarakan Rahmat selalu membuat Bapak bahagia. Aku tahu, harapan beliau terhadap pria itu begitu besar.
“Rahmat mau datang, Nduk?” tanya Ibu.
“Inggih, Bu. Dia bilang ingin menjenguk Bapak.”
Tarikan di bibir Bapak semakin lebar. Beliau berbisik lirih, “Bapak akan bertemu dengannya.”
“Iya. Makanya Bapak harus cepat pulih. Ibu buatkan teh panas, ya, biar lega dadanya?”
Bapak menggeleng kecil. “Bapak masih kuat, Bu. Bapak merasa lebih baik mendengar Rahmat akan datang menjenguk.”
Kusentuh tangan Ibu dan mengangguk. “Tidak apa-apa, Bu, biar Bapak istirahat saja.”
“Ya, sudah, kamu gantikan Ibu masak, ya, Nduk. Ibu tidak tega ninggalin Bapak sendirian.”
“Inggih, Bu.”
***
Agak mengherankan melihat Fatiha sudah didapur berkutat mengerjakan sesuatu. Biasanya mana pernah ia mau terjun ke dapur.
“Masak, Ti?” tanyaku seraya mendekat. Rupanya ia tengah memasak mi instan. “Kamu tidak puasa?”
“Batal,” jawabnya ketus.
Meski sudah jarang mengajakku ribut, tapi sikapnya belum juga berubah. Belakangan ini lebih parah. Semakin ketus. Sejak terakhir pertengkaran hebat denganku, Bapak dengan tegas meminta Fatiha dan Arman untuk pindah menempati ruang bagian belakang. Masih satu rumah, tetapi terpisah dari rumah utama dan memiliki akses pintu keluar sendiri. Kelakuan Armanlah yang penyebabnya.
Bapak menyadari keberadaan Arman dapat memicu keributan mengingat sikap pria itu begitu sembrono. Tak hanya sekedar memuji-muji kecantikanku di depan Fatiha, tapi juga berani masuk ke dalam kamarku, ruangan pribadi yang tidak boleh sembarangan dimasuki oleh pria.
Bapak sekalipun selalu mengetuk dan menungguku di luar jika ada keperluan. Namun, pria semborono itu berani sekali nyelonong begitu saja tanpa permisi.
Keputusan Bapak membuat Fatiha berang. Ia menyalahkanku dan menganggap Bapak lebih menyayangiku daripadanya. Fatiha merasa diusir, padahal Bapak justru memberinya tempat yang jauh lebih baik dari kamar yang sebelumnya ia tempati.
Ruangan yang sebelumnya digunakan untuk menyimpan sementara hasil panen sebelum dibawa oleh pemborong, tiga kali lebih luas dari kamar Fatiha. Sebelum ditempati, terlebih dahulu Bapak meminta orang membersihkannya dan menjadikannya tempat yang nyaman untuk ditinggali. Namun, kemarahan Fatiha sama sekali tidak meluntur. Ia tetap merasa tersisih dari keluarganya sendiri gara-gara aku.
Pertengkaran demi pertengkaran kerap kudengar mewarnai rumah tangganya. Arman ternyata seorang pria mata keranjang. Gemar menggoda perempuan di luaran. Meski sudah tahu begitu, akan tetapi Fatiha masih saja menyalahkanku alih-alih menyalahkan suaminya. Ia seperti sengaja melampiaskan segala kekesalannya padaku.
“Bantu Mbak Salma masak, ya, Ti. Amira ada kegiatan bagi-bagi takjil sama teman-temannya sekalian buka bersama. Mbak Salma masak sendirian.”
Menuang mi ke dalam mangkuk, Fatiha memasang wajah tak bersahabat. “Masak saja sendiri, aku mau makan!” jawabnya seraya meletakkan panci ke bak cuci piring. Gerakannya yang kasar menimbulkan bunyi nyaring. Mengangkat mangkuknya, ia segera berlalu dari dapur.
Aku menghela napas panjang. Tidak mudah menghadapi sikap buruknya, aku harus selalu menyiapkan banyak stok kesabaran.
***
Baru saja melepas mukena usai pulang tarawih, kudengar ketukan disertai ucapan salam. Aku tahu, itu pasti Rahmat. Sepertinya pri itu langsung datang kemari begitu keluar dari Masjid.
Kusambar kerudung dan mengenakannya sambil berjalan. Menjawab ucapan salamnya, aku bergegas membukakan pintu. Namun, tubuhku terpaku di tempat begitu pintu terkuak lebar.
Mendadak jantungku berdegup kencang, padahal sejak tadi normal-normal saja. Berdiri di sana, Rahmat tak sendirian, melainkan ada Ulil bersamanya.
Bersambung …