Kubawa bungkusan berisi wajik klethik, jenang dodol, dan beberapa jenis kue tradisonal lainnya ke rumah Mbah Haji. Amira benar-benar kukuh menolak mengantarkannya. Kenakalan terakhinya yang memalukan rupanya sangat membekas.
Kelas dua SMP Amira kedapatan mencuri delima di halaman belakang rumah Mbah Haji. Masih mengenakan seragam, sepulang dari sekolah mantan gadis nakal itu menaiki pagar untuk menggapai buah kemerahan yang sangat menggoda tersebut. Dulu, halaman rumah Mbah Haji masih menggunakan pagar bambu, jauh sebelum diganti pagar baja ringan yang kokoh.
Mbah Haji memergokinya. Amira yang kaget sontak terjatuh, kakinya terkilir hingga tidak dapat berjalan. Sebelum menggedong dan mengantarkannya pulang, Mbah Haji menasehatinya untuk tidak mencuri. Lebih baik Amira memintanya. Sungguh lengkap kesialannya, sudah malu ketahuan, kakinya cedera hingga harus dibawa ke tukang urut, ditambah pula omelan dari Ibu.
Sejak saat itu Amira tidak pernah berani menampakkan diri di depan Mbah Haji. Ia selalu ngumpet setiap melihatnya. Kejadian itu sering kugunakan untuk mengoloknya. Senang sekali setiap melihat wajahnya cemberut.
Kuketuk pintu rumah Mbah Haji sambil mengucap salam. Aku menunggu beberapa saat sebelum terdengar langkah-langkah dari dalam. Dadaku tiba-tiba berdegup kencang begitu pintu terbuka menampakkan sosok Ulil di sana.
Sejenak aku terpaku, merasa asing dengan perasaan aneh yang menjalar secara perlahan di dalam sana. Ulil terlihat sangat tampan dalam pakaian santai. Pria itu mengenakan sarung dengan kaos polos berlengan pendek yang membungkus tubuh tegapnya.
Resah, sebelah tanganku meremas ujung baju. Mata tajamnya menatapku lekat, aku sampai harus menahan napas agar tidak menampakkan kegugupan. Entahlah, rasanya baru kali ini aku dibuat gugup oleh seorang pria. Sikapku tidak terlihat seperti wanita dewasa yang sebentar lagi akan meninggalkan usia tiga puluh.
Netra kelam itu begitu gelap, seolah ingin menenggelamkanku di sana dan tersesat dalam kepekatannya.
“Mbah—Mbah Haji ada, Kang?” Aku bahkan dapat merasakan suaraku seperti tercekik. Perasaan aneh disertai rasa gugup menyedot habis kendali diriku.
“Ada,” jawabnya. Singkat dan datar. Ia melebarkan pintu, mempersilakan masuk. “Di dapur.”
“Mm, aku hanya sebentar, Kang,” ucapku ragu-ragu. “Hanya mengantarkan pesanan dari Ibu.”
Kusodorkan bungkusan dalan kresek tersebut padanya. Ulil tak langsung menerima, pria itu menatapku dan bungkusan di tanganku secara bergantian.
“Masuk saja, berikan langsung pada Simbah. Saya rasa beliau akan senang mendapat kunjungan.” Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah diucapkannya padaku.
Tak punya pilihan lain, aku melangkah masuk mengekorinya ke dapur. Samar-samar inderaku dapat menangkap aroma parfumnya. Ringan, namun memabukkan. Kepalaku mendadak pening olehnya.
Kulihat Mbah Haji sedang mengerjakan sesuatu di dapur. Namun, ada pemandangan lain yang membuatku terkejut. Ulil bergerak ke meja makan, meninggalkanku terpaku di pintu dapur.
Di meja makan, pria itu tak sendirian. Ada pula Rahmat di sana, tengah menikmati makanan dengan tenang. Aku menggigit bibir merasa bersalah, jantungku bahkan tidak berdebar melihatnya. Namun, melihat Ulil justru membuatku seperti remaja kasmaran.
“Mbah, ada tamu.” Kudengar Ulil berujar. Pria itu pasti menyadari aku hanya berdiri terpaku.
“Sopo tho, Lil?” Mbah Haji menghentikan kesibukannya dan menoleh. Matanya berbinar begitu melihatku.
“Salma? Sini, sini!” Beliau selalu seantusias itu setiap bertemu denganku. “Kebetuan sekali, calon suamimu ada di sini.”
Aku tersenyum—lebih menyerupai ringisan. “Inggih, Mbah.”
“Simbah ikut senang mendengar kabar pertunanganmu dengan Rahmat. Kapan pernikahannya, Nduk?” tanyanya sambil berjalan menghampiriku.
Kulihat tiba-tiba Ulil tersedak, pria itu menyemburkan minumannya dan terbatuk-batuk.
“Kamu bertunangan?” tanyanya setelah batuknya reda. Rahmat mengangguk. “Dan tidak memberitahu saya?”
“Dadakan, Gus.”
“Akan segera menikah?”
“Insya Allah setelah lebaran.”
Hatiku tercubit. Rahmat akan menikahiku setelah lebaran, tapi aku justru memikirkan pernikahan dengan pria lain. Sungguh aku merasa berdosa sekali oleh perasaan asing yang mulai hadir bersemayam di dalam hatiku.
Membiarkan dua pria saling berbincang sambil makan, Mbah Haji mengajakku ke depan. Duduk di sofa ruang tamu, Mbah Haji menepuk bahuku lembut. “Simbah sangat mengenal Rahmat, Nduk. Dia pria yang sangat baik dan saleh. Tanggung jawab dan baktinya kepada orang tua membuat Simbah sangat kagum. Beruntung sekali yang menjadi istrinya.”
“Inggih, Mbah.” Tapi aku justru memikirkan cucu panjengengan, Mbah. Lanjutku dalam hati, dan rasa bersalah kembali menghantamku.
“Simbah sempat berpikir ingin menjodohkanmu dengan Ulil. Sudah setahun menduda, dia belum juga mau disuruh nikah lagi. Padahal ibunya sangat berharap Ulil nikah lagi dan memiliki keturunan. Tapi mendengar kamu sudah dilamar oleh Rahmat, simbah sangat senang. Kalian serasi, Rahmat masih bujang dan kamu perawan.”
Aku menyunggingkan senyum terpaksa. Hatiku justru sedih mendengar penuturan Mbah Haji. Meski berusaha kutepis, tapi perasaan itu seperti mengakar kuat di dalam sana.
“Jangan lama-lama, ya, Nduk. Niat baik harus disegerakan. Benar setelah lebaran kalian akan melangsungkan pernikahan?”
“Insya Allah, Mbah. Pangestunipun.”
Mbah Haji mengangguk-angguk, beliau tersenyum lembut sambil mengelus bahuku. “Doa dan restu Simbah akan selalu menyertimu, Nduk. Simbah sudah menganggap kamu seperti cucu sendiri. Kebahagiaanmu juga kebahagiaan Simbah.”
Aku tersenyum dan segera pamit. Mbah Haji menahanku untuk tinggal lebih lama, tetapi aku menolaknya halus. Keberadaan dua pria di meja makan jelas menjadi penyebabnya.
***
Bersama Ibu, aku sudah bangun terlebih dahulu sebelum tarhim sahur terdengar dari masjid. Sekarang aku tahu, pemilik suara merdu yang selalu membangunkan orang-orang untuk sahur tersebut ternyata milik calon suamiku.
Menunggui tungku untuk menghangatkan diri sambil menjaga nasi yang sedang kuliwet, kucoba meresapi bait demi bait yang dikumandangkan oleh suara merdunya.
Isyrabuu wa’ajjiluu faqad qarubasshabaah
Qad da’aunaaka bithaaha almusthafaa
Shalliyaa rabbi ‘alaihi syarafaa
Wa’alaaa aalihimuu ahla alwafaa
Wa shahaa bi maa taghnaa zuu aljanaahi
Isyrabuu wa’ajjiluu faqad qarubasshabaah
Tasaharuu! Radziyallaahu ankum
Tasaharuu! Ghafarallaahu lakum
Tasaharuu! Taaballaahu ‘alaikum
Tasaharuu! Taqabbalallaahu minna wa minkum
Suara merdunya terus mengumandangkan tarhim. Hatiku bergetar mendengarnya, akan tetapi jantungku tak berdetak kencang seperti yang kurasakan pada Ulil. Perasaanku padanya datar saja.
Seharusnya tidak susah mencintai pria seperti Rahmat. Meski tidak setampan Ulil, tapi ia memiliki banyak kelebihan. Namun, entah mengapa hatiku seperti enggan menyingkirkan nama Ulil dari sana.
“Nduk! Kok, malah melamun,” tegur Ibu. Aku langsung gelagapan. “Apinya keluar, itu!”
Buru-buru kudorong masuk kayu ke dalam tungku. Suara merdu Rahmat terus terdengar, mengingatkanku akan rasa bersalah yang semakin besar.
Bersambung …