8. Merpati Putih dari Calon Suami

1127 Kata
Siapa yang dapat menyangka, kemarin aku masih berdebat dengannya soal sandal yang tertukar, ia kukuh menuduhku mengambil sandal milik Ulil, akan tetapi malam ini justru telah resmi menjadi calon suamiku. Rahmat Hidayatullah, aku bahkan baru tahu namanya meski hampir setiap hari kami bertemu. Rahmat dikenal sebagai salah satu pengurus masjid. Tidak ragukan lagi kesalehannya. Dulu, ketika aku masih sering membantu Ibu mengurus ladang, ia kerap datang dengan doplak colt-nya mengambil sayuran. Sudah menjadi salah satu pelanggan tetap. Kesehariannya adalah ngedropi sayuran kepada bakul-bakul di pasar. Ia tidak pernah mengajakku bicara selain urusan dagangan. Sekedar basa-basi pun tidak pernah. Rahmat memang bukan sosok yang pendiam, tetapi ia benar-benar menjaga ketika berhadapan dengan lawan jenisnya. “Apa kubilang? Mbak Salma tidak akan menyesal menerimanya,” ujar Amira saat melihatku senyam-senyum sendirian seperti orang kurang waras. “Kemarin kami baru saja debat soal sandal, Mir. Tidak menyangka sekarang sudah menjadi calon suamiku.” “Debat soal sandal gimana?” “Kang Rahmat ini tiba-tiba mencegatku dan memintaku untuk mengembalikan sandal yang kupakai. Aku terkejut sekali, dia menuduhku menukar sandal dengan milik jamaah lain. Kami berdebat, aku merasa tidak terima dituduh menukar—" “Palingan caper biar bisa ngobrol sama Mbak Salma. Kata Mas Arham, Kang Rahmat itu udah sejak lama pengen kenalan sama Mbak Salma,” potong Amira sambil terkikik. “Belum selesai, Mir! Ternyata memang aku yang salah. Secara tidak sengaja aku menukarnya dengan milik Kang Ulil. Sandal kami sama persis, hanya saja punya Kang Ulil masih bagus. Aku malu sekali, rasanya pengen menghilang saat itu juga.” “Ulil, Gus Ulil maksud Mbak Salma?” “Cucunya Mbah Haji.” “Nah, mereka itu ce-es, Mbak! Kang Rahmat dekat sekali dengan Gus Ulil. Dulu sebelum Gus Ulil pindah dan menetap ke Jakarta, Kang Rahmat itu salah satu abdi ndalemnya Abah Yai Ismail.” Jujur aku terkejut. Hal tersebut merupakan informasi baru untukku. Entah mengapa mendadak seperti ada ketidaknyamanan yang datang menyerbu. Aku pernah berharap orang yang akan dijodohkan denganku adalah Ulil, dan diam-diam hatiku yang tak tahu malu itu terus mengharapkannya. Sekarang, misteri telah tersingkap. Sosok itu bukanlah Ulil, melainkan Rahmat, sahabat sekaligus khadim keluarganya. Lalu, apakah aku merasa kecewa? Menggelengkan kepala kuat-kuat, aku menolak pemikiran tersebut. Ulil terlalu tinggi untuk dijangkau orang biasa sepertiku. Tidak pantas aku mengharapkan putra seorang kyai tersohor. Aku harus mengusirnya segera dari dalam benakku. Calon suamiku adalah Rahmat. *** Tanpa terasa, Ramadhan telah memasuki hari ke empat. Sejak Rahmat melamarku, hari-hariku jauh lebih tenang dibandingkan sebelumnya. Fatiha mulai jarang mengajak bersitegang, meski wajahnya selalu mengerut tidak suka setiap berbicara denganku. Selalu berusaha mengindarinya, aku lebih sering menghabiskan waktu di luar. Hari ini, sejak pagi aku membantu Ibu di ladang, menyiram bibit daun bawang yang baru saja disemai. Terkadang Amira ikut jika ia tidak ada undangan kegiatan pesantren kilat. Adikku itu sering mengisi kajian keagamaan di sekolah-sekolah selama bulan Ramadhan. Akan tetapi Ibu lebih sering melarangku, hanya sesekali aku diperbolehkan ke ladang, itu pun hanya sebentar. Ibu akan segera mengusirku pulang ketika matahari sudah mulai beranjak meninggi. Beliau beralasan sudah menggaji orang untuk melakukannya. Tentu saja itu sudah sejak dulu. Ladangnya sangat luas, tidak mungkin Ibu mengerjakan semuanya sendiri. “Sudah, tidak usah dilanjutkan. Kamu pulang saja biar dikerjakan Lik Warso, nanti kulitmu menghitam lagi!” larang Ibu. “Dari dulu juga kulitku sudah hitam, Bu.” “Kulitmu hitam karena sering membantu Ibu di ladang, Sal. Sekarang sudah putih dan cantik, jangan dibuat buluk lagi. Ibu tidak mau Nak Rahmat terkaget-kaget calon istrinya berubah jadi areng,” selorohnya. Namun, dari situ aku tahu, Ibu hanya tidak ingin putrinya berat jodoh karena penampilan buluknya. Mungkin Ibu berpikir, selama ini tidak ada pria yang mendekatiku lantaran aku tidak secantik kedua adikku. Tak ingin mendebatnya, kuputuskan untuk segera pulang. “Bawa ini, ya. Sekalian antarkan ke tempat Mbah Haji.” Ibu menyodorkan sekeranjang berisi beberapa jenis sayuran yang telah dipetiknya. Menenteng keranjang, aku menyusuri pematang. Sudah hampir pukul 11, langit yang semula mendung perlahan mulai menampakkan keceriannya. Matahari muncul walau redup. Segera kuantar sayuran ke rumah Mbah Haji, setelah itu kembali ke rumah dan merebahkan diri. Walau menyenangkan, tapi bekerja di ladang sungguh melelahkan. Padahal yang kulakukan hanyalah menyirami bibit yang baru disemai. Tidak mencangkul dan memupuk seperti yang dilakukan Lik Warso. Tanpa menunggu lama, kelopak mataku yang terasa berat segera tertutup. Hanya dalam sekejap aku terbang ke alam mimpi. Dalam tidurku, aku memimpikan Rahmat. Pria itu menyerahkan sebuah merpati putih kepadaku. Auranya berseri-seri. Senyumnya mengembang lebar. Pakaiannya yang serba putih tampak mencorong bercahaya. “Ini untuk apa, Kang?” tanyaku, bergantian menatap sosoknya dan merpati putih di tanganku. “Untukmu, Sal. Rawat dengan baik, ya,” ujarnya. Kemudian ia mundur menjauh. Perlahan sosoknya memudar. Aku terbangun dengan keringat membanjir. Berkali-kali, bibirku spontan mengucap istigfar. Hatiku mendadak diliputi kecemasan. Merpati putih dari calon suamiku, sungguh mimpi yang tidak biasa. *** “Ada kiriman dari keluarganya Nak Rahmat, Nduk,” kata Ibu. “Ciee, kiriman dari calon mertua,” goda Amira. Tangannya menyenggol lenganku. Aku cuek saja menyeruput es dawet buatanku sendiri. “Biar aku yang buka, Bu.” Dalam urusan jodohku, Amira memang paling semangat. Tangan gadis itu mulai membongkar dua bungkusan yang dibawa Ibu. Aku hanya mengamatinya sambil menandaskan isi gelas. “Baju!” serunya. Matanya berbinar menatap benda berwana coklat tua di dalam boksnya. Kemudian ia berpindah ke besek anyaman besar yang ditali menggunakan tali goni. Kulihat isinya wajik klethik, jenang dodol, dan beberapa jenis kue tradisional lainnya. “Ibunya Nak Rahmat berpesan pada Ibu, katanya pernikahan kalian sebaiknya dipercepat.” “Tapi ini, kan masih bulan Ramadhan, Bu,” komentar Amira. “Maksudnya nanti setelah lebaran tho, Nduk. Mereka akan datang lagi dalam waktu dekat untuk menentukan tanggal pernikahan. Bagaimana menurutmu, Sal?” Kuucap hamdalah begitu es dawet segar itu telah sepenuhnya berpindah ke lambungku. “Aku mau, Bu.” “Baguslah kalau begitu.” “Bu, kue sebanyak ini siapa yang mau makan?” tanya Amira. Tangan gadis itu mencomot irisan jenang dan memasukkannya ke dalam mulut. “Bagi-bagi ke tetangga, Nduk. Minta tolong kamu anter ke rumah Mbah Haji dan tetangga lainnya, ya, Mir.” “Mbak Salma saja yang ke rumah Mbah Haji, Mira sungkan dan pekewuh, Bu. Mbak Salma ‘kan yang sudah akrab. Biar Mira yang ke rumah tetangga lainnya.” “Bilang saja kamu malu, dulu suka mencuri delima di halaman rumahnya,” ujarku sengaja mengoloknya. Gadis manis itu sontak cemberut. “Tidak perlu diungkit-ungkit, Mbak. Dulu aku masih bocah!” sungutnya. Aku tertawa dan beranjak membawa gelas bekas es dawet ke bak cucian. “Menyesal aku, malunya sampai sekarang tidak hilang-hilang.” Meski Mbah Haji maklum pada kenakalannya semasa kecil, tetapi Amira selalu mengingatnya dan merasa sungkan sampai sekarang. “Ya, sudah, sebentar lagi kuantarkan ke sana,” ujarku sambil mencuci gelas. Bersambung …
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN