Hijaunya pepohonan dan sejuk udara pagi mampu mendistraksiku. Kutarik napas dalam-dalam, membiarkan udara segar memenuhi paru-paruku. Mengenakan gamis berbahan ceruty yang mengembang lebar, langkahku sedikit terseok memasuki jalan berbatu menuju pemakaman. Merasa kesulitan, tangan kananku membawa keranjang berisi bunga sementara tangan kiri menarik gamis agar tidak kotor oleh tanah. Menyadari hal tersebut, Ulil meraih keranjang di tanganku dan membawakannya. Pria itu menyodorkan lengannya, memintaku untuk berpegangan. Malu-malu aku melakukannya. Menautkan tanganku pada lengannya. Aku sudah mulai nyaman dengannya, tetapi tetap saja masih ada rasa malu ketika dekat dengannya. Seperti halnya semalam, saat Ulil tidur di sisiku. Aku sampai menahan napas dalam dekapannya. Setiap mengingatnya,

