Menjelang magrib hujan mulai reda, guntur pun tak lagi terdengar menggelegar. Hanya rintik-rintik gerimis kecil yang masih tersisa di antara kabut tebal yang menyelimuti. Rasanya enggan sekali bangun dari balik selimut hangat andai saja tidak ingat sebentar lagi harus melaksanakan salat magrib. “Perlu saya bantu?” tanya Ulil. Aku menggeleng sambil tersipu. Segera kusibakkan selimut dan seketika aku kehilangan kehangatan. Daster pendek yang kukenakan tidak cukup untuk menghalau hawa dingin. Hujan deras menyisakan hawa dingin yang sangat menggigit. Membayangkan harus mandi menggunakan air dingin, seketika aku merinding. Dalam keadaan biasa saja air di dalam bak penampung rumahku sangatlah dingin, aku yakin setelahnya akan jatuh sakit kalau memaksakan diri mandi dalam cuaca sedingin ini.

