Mendengar isak tangis dari dalam, kuurungkan niatku untuk mengetuk pintu kamar Fatiha. Ibu dan Amira sedang salat berjamaah di rumah. Berhubung sedang berhalangan, aku tidak ikut salat. Kutekan handel pintu kamar dan mengintip ke dalam melalui celah. Hatiku berdesir melihat pemandangan di sana. Fatiha tengah menangis di atas sajadah. Masih mengenakan mukena. Perceraian dengan Arman pasti mengguncangnya. Memang, mereka belum resmi cerai secara negara, tetapi talak tiga yang diucapkan Arman mau tak mau membuat mereka harus berpisah dan tidak dapat kembali lagi dengan mudah. Meski ingin sekali aku memeluknya untuk sedikit meringankan kesedihannya, tetapi aku bertahan di tempat. Tak mau mengganggunya, aku menunggu tangis Fatiha hingga reda dengan sendirinya. Terkadang, dengan menumpahkan ai

