“Jangan melamun, nanti kesambet penunggu ladang.” Kusenggol lengan Fatiha dan meraih keranjang di tangannya. Fatiha terlonjak kaget. Ia benar-benar melamun. Keranjangnya pun masih kosong meski ia berdiri sejak tadi di depan tanaman cabe yang berbuah lebat. “Mbak Salma ngagetin aja!” “Biar kuteruskan. Kamu tunggu di gubuk saja.” “Nggak usah, Mbak. Aku butuh kesibukan.” Kuhela napas dalam-dalam. Aku tahu ia sedang sedih, wajahnya terlihat murung. Matanya redup, menyorot kosong tak bercahaya. “Sebenarnya kamu mengambil uang Arman apa, Ti, sampai-sampai dia begitu marah padamu?” “Aku mengosongkan tabungan miliknya, Mbak.” Memetik cabe denga nasal-asalan, Fatiha memasukkannya ke dalam keranjang di tanganku. “Dia tidak pernah memberiku nafkah. Setiap kerja, uangnya entah digunakan untuk a

