27. Rencana Indah

1281 Kata

“Umik bilang kamu telah menerima lamaran saya?” Di dalam sana terasa berdesir aku mendengar suara beratnya. Wajahku merona bak tomat rebus. Sikapku malu-malu seperti remaja kasmaran. Beruntung Ulil tidak melihatnya, kami berbicara melalui telepon sehingga aku bersyukur pria itu tidak melihat tingkah konyolku. “Inggih, Kang,” jawabku sambil menggigiti kuku jariku sambil senyum-senyum bak orang tak waras. “Umik juga bilang kalau kamu menyerahkan hari pernikahan sepenuhnya pada saya?” “Inggih, Kang.” “Jadi, kapan pun saya ingin menikahimu, kamu siap?” “InsyaAllah, Kang.” “Baiklah, Salma. Nanti saya telepon lagi. Sekarang, keluarlah sebentar dan ambil sesuatu di pintu seperti kemarin.” Tak dapat menahan senyum, kuambil bungkusan yang tergantung di handel pintu dan mendekapnya ke d**a.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN