Aile keluar dari kamar dan menutup pintu di belakangnya. Ia tak langsung melangkah, namun tetap di sana sembari mematung sejenak. Satu tangannya terangkat, meraba pelan keningnya yang telah dikecup oleh Asra. Ia lantas merinding pelan dan menggosok-gosokkan tangan seolah hendak menghilangkan bekas ciuman kemarin. Demi apa pun, alur ceritanya itu benar-benar terjadi lagi. Aile ingin mengelak namun kenyataan sudah angkat bicara. Ia beruntung karena itu masih di kening. Jika saja ia tak berpikiran untuk mengubah ciuman itu dari bibir ke kening, mungkin saja .... “Astaga, Aile! Lo mikir apa, sih!” Ia menggetok kepalanya sendiri lalu mengeluarkan ponselnya untuk melihat jam. Kurang lima belas menit lagi jam tujuh. Ia lantas melangkahkan kakinya terburu-buru menuruni anak tangga menuju lantai

