Bab 12

2338 Kata
“Ugh! Akhirnya selesai juga!” gumam Aile menoleh ke kanan-kiri merenggangkan otot lehernya yang terasa kaku karena sedari tadi terus menunduk, menulis di buku tugasnya. “Ah, mantap!” Romi menggeram puas mendengar suara kretek dari leher Aile. Tugas untuk membuat teks editorial akhirnya kelar juga. Enam orang yang terbagi dalam tiga kelompok itu duduk di meja panjang cafe, memang dikhususkan untuk pelajar atau mahasiswa yang ingin datang mengerjakan tugas mereka. Kertas HVS, buku paket, laptop dan alat-alat tulis lainnya berserakan di atas meja, membuktikan bagaimana mereka begitu antusias menyelesaikan tugas Bahasa Indonesia itu. Enam ponsel dengan merek yang berbeda-beda terkumpul di tengah-tengah meja dalam kantong kresek. Tujuannya agar tak ada yang melepaskan konsentrasi mereka dari tugas. Pokoknya, nugas dulu baru ambil hapenya lagi. “Mau pesen apa, gengs?” tanya Rona membuka buku menu. Di meja mereka hanya ice milk tea yang sudah dipesan dari awal mereka datang. Hampir dua jam nugas, hanya itu yang mereka seruput untuk mengisi perut. “Gue kentang goreng. Ada, nggak?” sahut Kania lebih dulu. “Ada. Yang lain?” “Gue samain Kania. Kentang goreng juga,” pinta Jenni sembari merapikan buku-buku yang berserakan di depannya. “Gue, gue!” Romi yang duduk di samping Rona mengangkat tangan semangat. Rona memutar bola matanya. “Pisang nugget. Itu, ‘kan, yang mau kita pesan?” ujarnya jengah. Romi tak perlu bilang lagi mengenai makanan kesukaan mereka berdua. Membuatnya kesal saja. “Ah, adek gue pinter banget. Tahu aja apa yang disuka sama kakaknya.” Romi menggoda sembari mencolek dagu Rona. “Apaan, sih! Kita ini kembar, b**o!” “Tapi, ‘kan, gue keluar lebih dulu!” “Yang bilang siapa?” “Mama!” “Kenapa Mama nggak pernah cerita ke gue?!” “Ya, mana gue tahu! Tanyain aja pas kita pulang ntar.” Perdebatan kecil antar saudara itu membuat Aile berdecak kesal. Ia merebut buku menu yang hampir saja dipakai Rona menimpuki kembarannya. Matanya menelusuri nama-nama makanan ringan yang tertera di sana dan mengangkat satu tangannya yang bebas pada waitress yang berdiri di balik meja bar. “Mbak, saya pesan dua porsi kentang goreng, dua porsi pisang nugget, satu porsi ubi keju dan ....” Aile menatap Meka, “lo mau pesan apa?” “Samain dengan lo aja,” jawab Meka tersenyum tipis. “Ah, oke,” ujarnya lalu beralih pada waitress. “Ralat, ubi kejunya dua porsi, ya, Mbak.” Waitress yang menulis di note-nya mengangguk pelan. “Ada lagi?” Aile menggeleng. “Nggak ada, Mbak.” “Baik. Mohon ditunggu, ya.” Waitress itu berbalik pergi, meninggalkan meja yang masih agak rusuh karena si kembar yang belum puas berdebat tentang kebenaran Romi adalah anak pertama. “Ck, please, udah!” lerai Aile, muak mendengarnya. Kenapa teman-temannya tidak ada yang normal, sih? Atau dia saja yang tak terbiasa dengan kebiasaan mereka? Secara ini adalah pertama kalinya ia ngerjain tugas di cafe bareng mereka. Bayangkan, sudah kelas tiga SMA dan ini pertama kalinya ia hangout sambil nugas dengan teman-teman sekelasnya. Romi dan Rona mengakhiri perdebatan mereka walaupun masih saling melemparkan tatapan sinis. Semua yang ada di situ percaya, beberapa menit ke depan mereka akan akur lagi seolah sebelumnya tak terjadi apa-apa. Cukup hanya Meka yang masih belum terbiasa. Ia cukup speechless ketika melihat Romi langsung sigap membantu Rona yang memasukkan buku ke dalam tas lalu gadis itu mengucapkan terima kasih dengan wajah terharu. “Mereka agak aneh, bukan?” seloroh Kania mendadak. Sedari tadi ia mengamati ekspresi kagum Meka pada si kembar. “Hah? Ah ... nggak. Gue cuma kaget aja. Baru ketemu sama jenis orang kayak begitu. Di tempat gue dulu jarang banget ketemu sama orang yang punya saudara kembar,” jawab Meka meringis pelan. “Reaksi lo masih mending.” Jenni menimpali. “Gue juga anak pindahan. Pindah ke Cahaya Taruna pas awal kelas sebelas. Gue jadi ngerasa aneh banget ngeliat mereka berdua duduk sama-sama mulu, pakai barang yang sama, tapi beda warna, punya makanan kesukaan yang sama dan lain-lain. Mereka kembar nggak identik tapi kesamaan mereka, tuh, justru dari sifat dan hal-hal yang mereka sukai. Gila, udah besar aja kadang masih pakai baju couple-an. Gue bahkan pernah ngatain mereka Kembar Gila.” “Yoi,” susul Kania menyetujui. “Gue yang dari awal masuk SMA udah sekelas ama mereka aja kadang masih ngerasa aneh, terutama untuk lo yang istilahnya kayak masih anak kemarin di sekolah kita sekarang,” liriknya pada Meka. “Lo semua kalau mau ngegosipin kita jangan di depan kita, napa, sih? Telinga gue gatal banget, tahu!” cibir Rona merotasikan bola matanya. “Ya, bagus dong! Kita cerita jujur aja di depan lo, dari pada cerita dari belakang. Please, deh, bukan level gue,” ujar Kania mengibaskan rambutnya ke belakang. “Tapi, kalian pernah nggak, sih, berjauhan gitu? Misalnya beda kota?” tanya Meka penasaran. Terlanjur bahas ini, ya sudah perdalam pengetahuan biar ke depannya terbiasa dengan karakter teman-temannya itu. “No, no, no.” Rona menggeleng. “Pernah, sih, sekali. Gue dibawa nenek liburan ke Jogja, sementara Romi nggak mau ikut. Tapi, abis itu kita berdua langsung sama-sama sakit. Ortu gue percaya kalau kami berdua pisah bakal jatuh sakit. Yaudah, sejak itu nggak pernah lagi jauh-jauhan lagi.” “Mitos.” Dari tadi diam, begitu bersuara langsung menuduh. Itulah Aile. “Ngapain percaya yang begituan, sih?” “Heh, itu bukan mitos! Lo kira Rona Iagi bohongan? Kita waktu itu benar-benar sakit, tahu! Tapi, pas ketemu perlahan sembuh,” jelas Romi ngegas, membela Rona. “Itu karena lo meyakini hal itu, makanya beneran terjadi. Coba kalau lo nggak percaya, itu nggak bakal terjadi, kok!” Aile mengambil ponselnya dari dalam kresek. “Mau gue cariin di google?!” “Udah, udah!” teriak Jenni kesal. Perasaan tadi Aile yang melerai si kembar. Kenapa sekarang dia malah ikut-ikutan berdebat? “Nggak ada yang salah dari pendapat lo berdua. Yang mau percaya silakan, yang nggak percaya yaudah diam aja, nggak usah maksain pendapat sendiri,” ujarnya lalu mengambil kentang goreng dan memakannya. “Iya, tuh. Keras kepala banget, maunya pendapatnya yang bener,” cibir Kania pelan. “Gue masih denger, ya!” balas Aile dengan suara naik satu oktaf. Tangannya yang memegang ponsel menunjuk Kania dengan menggebu-gebu. Meka buru-buru menarik tangan Aile dan melihat layar ponsel gadis itu yang retak parah. “Hati-hati, hape lo ntar kecemplung di gelas minuman. Lagian, hape lo, kok, bisa kayak gitu, sih?” Mata Aile spontan sinis pada Kania. “Iya, iya, gue tahu gue yang salah. Gue yang ngancurin layar hape lo! Puas?” seru Kania gemas dan mengambil dompetnya. “Mau berapa? Buat ganti rugi layarnya yang retak itu.” “Dih, emangnya gue minta? Nggak usah!” kesal Aile memalingkan wajahnya ke arah lain dan menghabiskan milk tea-nya. “Jangan-jangan lo sengaja nggak terima,ya, biar dibeliin hape baru?” tuding Romi. Aile menatap pemuda itu beberapa saat dan ekspresi tak terbaca. “Aish, gue kesel karena tebakan lo bener,” umpatnya pelan. “Lo mau gue beliin lo hape baru?” jerit Kania tak percaya. “Enggak, bodoh! Gue masih punya orang tua yang bisa beliin gue!” balas Aile nyolot. “Guys, gue permisi pulang duluan,” pamit Jenni mencangklong tas punggungnya. “Lho, kok, cepet banget, Jen? Nggak habisin— lha, udah habis?” Kania melotot tak percaya melihat piring kentang goreng Jenni yang sudah ludes. Hanya tertinggi remah-remahnya. Jenni tak meresponnya. Ia menyodorkan selembar uang sepuluh ribu dan lima ribu. “Bayarin bagian gue ntar. Bye, gue pulang,” pamitnya tak memberi izin pada yang lain untuk menahannya tetap di cafe lebih lama lagi. “Jenni udah muak, tuh, denger lo ngamuk mulu. Makanya pulang duluan.” Kania melemparkan kesalahan pada Aile. Mencari gara-gara dengan gadis itu lagi. Aile mengernyit tak terima. “Enak aja—“ “Gue sama Romi juga pulang, ya,” seloroh Rona memotong perkataan Aile dan menaruh uang yang pas untuk biaya pengeluarannya dengan Romi. Ia berdiri, memasukkan semua bukunya dan buku Romi ke dalam sebuah tas. Keduanya memang hanya membawa satu tas. “Lah, udah pada mau pulang?” Kania mencebik menatap kepergian si kembar. Ia lalu menghabiskan kentang gorengnya yang tersisa sedikit dan menyusul Rona menaruh uang di meja. “Gue juga, deh, kalau gitu. Nggak seru kalau tinggal bertiga doang. Gue cabut juga, ya, Mek, Le. Bye!” Kania menyambar tote bag-nya dan menyusul lainnya keluar dari cafe. Aile dan Meka hanya saling pandang sejenak dalam kebungkaman. Setidaknya, alunan lagu Celengan Rindu mengobati keheningan di antara mereka. “Mau pulang aja?” ajak Meka. Aile mengedikkan bahunya. “Yah, memangnya mau ngapain lagi. Gue juga udah ada janji lain.” “Janji?” “Mm, ya.” Aile memeriksa ponselnya lalu menatap sekilas ke luar cafe, di mana kendaraan lalu lalang di jalan raya. “Lo pulang sama siapa, Le?” Meka bertanya sembari mengumpulkan uang teman-temannya untuk membayar di kasir. “Gue udah dijemput, Mek. Nih, uangnya, ya. Gue duluan, lo ntar hati-hati di jalan, ya! Bye, Meka!” pamit Aile berlari keluar. Meka membuka mulutnya, hendak memanggil nama Aile namun ia urung melakukannya. Tangannya mengambil uang Aile di meja disertai helaan napas pelan. Padahal ia baru saja ingin bilang akan membayarkan makanan dan minuman gadis itu, tapi Aile sepertinya buru-buru. Mobil Pajero Sport berwarna putih yang terparkir di seberang jalan sudah masuk dalam pengamatan Meka sejak Aile masuk ke dalam sana. Keningnya mengernyit bertanya-tanya. Dengan siapa Aile punya janji? *** Asra tersenyum tipis melihat Aile yang berlari-lari kecil di pinggir pantai, persis seperti anak kecil yang baru melihat pantai. Ia mengajak gadis itu ke pantai Ancol, entah untuk alasan apa. Saat terbangun tadi, Aile langsung muncul di pikirannya. Ia lalu mengikuti hatinya yang seolah berkata padanya untuk membawa gadis itu ke sini. Lalu sekarang, di sinilah mereka. Berjalan-jalan di bibir pantai di bawah matahari yang sudah tak terlalu panas lagi. Aile melemparkan sepatunya dengan asal yang langsung dipungut oleh Asra dan ditaruh di tempat yang aman. Pria itu menyusul Aile dan memegang pergelangan tangan gadis itu. “Kenapa, Pak?” tanya Aile. “Kamu kayak tidak pernah ke pantai saja,” ujar Asra datar lalu melepas tangan gadis itu. Aile berdecak pelan. “Saya belum pernah ke pantai” lirihnya jutek. Asra yang tadi memasang wajah santai lantas terkejut. Yang benar saja! Kalau dihitung-hitung, jarak Pantai Ancol dari rumah Aile hanya memakan waktu dua jam saja. “Kok, bisa?” Aile mendengkus. “Ya, bisalah!” “Kalau begitu, kamu mau ngapain sekarang?” Aile menatap gurunya itu dengan tatapan tak mengerti. “Ngapain?” “Sekarang, ‘kan, kita sudah ada di sini. Lakukan apa yang kamu mau selagi kita di sini. Saya akan menemani kamu,” ujar Asra yang tiba-tiba terdengar manis di telinga Aile. Namun, gadis itu tak mudah termakan rayuan seperti itu. Laki-laki di depannya ini pasti ada maunya, nih. “Bapak ada maunya, ya?” tuding Aile blak-blakkan. Untuk sejenak, Asra mengernyit bingung lalu kemudian terkekeh pelan. Ia melangkah perlahan, menyusuri bibir pantai menuju promenade dan Aile otomatis mengikutinya dengan jalan beriringan dengannya. “Iya, saya ajak kamu ke sini karena punya alasan,” jawab Asra akhirnya. Aile memutar bola matanya. “Ck, bener-bener, ya! Udah saya duga, diajak ke sini pasti ada—“ “Alasan saya ke sini mengajak kamu karena saya ingin kita lebih dekat lagi,” interupsi Asra membuat bibir Aile merapat. “Entah kenapa, baru kali ini saya pasrah sekali dengan keputusan orang tua saya. Mereka sudah beberapa kali menyuruh saya membawa pacar saya bertemu mereka, tapi itu tidak pernah terjadi. Saya juga sering kali menghindari mereka di saat mereka ingin memperkenalkan saya pada anak kenalan mereka. Sikap saya itu membuat mereka mengambil keputusan tegas dengan memaksa saya menjodohkan kamu. Mungkin karena itulah saya pasrah saja. Tapi, saya sangat bersyukur sekarang.” Aile menghentikan tungkainya begitu mereka sudah berada di promenade. Matanya menyipit karena sinar matahari yang sudah berada di ufuk barat, menyinari wajahnya. Semilir angin laut yang bertiup membuat rambut Aile berkibar pelan. Ia membisu mendengar perkataan panjang lebar Asra. Asra berbalik, mendapati dirinya menatap gadis itu dengan penuh makna. Pandangannya terpaku pada wajah gadis itu, terpesona dengan visual Aile di saat sunset. Senyum tipisnya tetap bertahan hingga kini. Berharap bahwa gadis itu mengerti akan kata-katanya. Namun, ekspetasi itu luluh lantak ketika Aile mulai tertawa sembari mengibaskan tangannya di depan wajah. “Saya baru tahu Bapak pintar ngerangkai kata-kata manis itu.” Hanya itu saja lalu melewati Asra sembari menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Asra terbengong melihat Aile yang dengan santainya melewati dirinya. Cewek itu polos atau pura-pura tak mengerti maksud kata-katanya? “Di sini pemandangannya indah banget, Pak,” seru Aile tersenyum kecil, menatap laut sejauh mungkin. “Minggu depan saya tidak akan masuk sekolah untuk beberapa hari,” ujar Asra berdiri di belakang Aile. “Kenapa, Pak?” “Saya akan ke Bali mendampingi ayah saya untuk urusan bisnis.” “Ah, iya.” Aile memggumam acuh tak acuh. “Pak, fotoin saya, dong. Di sini pemandangannya ba—gus.” Suara Aile tersendat saat ia mengatakan kata terakhirnya. Bagaimana tidak, saat ia berbalik hendak memberikan ponselnya pada Asra, pria itu ternyata berdiri tepat di belakangnya membuat tubuh mereka sangat dekat. Aile menelan ludah ketika melihat tatapan intens Asra padanya. Ia memalingkan wajahnya ke bawah dan mundur, membuat jarak dengan Asra. Jantungnya kini gonjang-ganjing tak karuan di dalam dadanya. “Kamu mengerti, ‘kan, dengan apa yang tadi saya katakan?” lirih Asra dengan suara rendah. Ia melangkah maju, mengikis jarak mereka. Aile menggertakkan giginya saat pinggangnya sudah mentok di pagar promenade. Tangannya memegang pagar itu dengan erat. “Ma-maksud Bapak?” Aile benar-benar tidak tahu, sumpah! “Saya bersyukur sekarang karena waktu itu pasrah pada keputusan ortu saya menjodohkan kita. Kamu tahu, kan, apa artinya?” “Sa-saya ....” Cup! Aile membeku di tempatnya. Pikirannya tiba-tiba saja kusut, tak tahu harus bereaksi bagaimana ketika merasa bibir Asra mengecup lama keningnya. Di saat Asra berpikir Aile kini sadar bagaimana perasaannya sekarang, pada kenyataannya Aile justru memikirkan alur ceritanya yang sekarang baru saja terjadi padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN