Dipandanginya deretan poin-poin penting nan singkat dari alur ceritanya yang terpampang jelas di layar ponselnya. Tatapan menilai tersorot jelas di binar mata Aile. Satu tangannya yang tak memegang ponsel tertekuk di meja dengan siku bertumpu dan telapak menahan dagunya.
Gadis berkulit kuning langsat itu mendekam di bangkunya, sibuk sendiri dengan kegiatannya. Dalam kelas yang beruntung karena tengah jam kosong, seolah terdapat dua dunia di dalamnya. Satu dunia yang hanya untuk Aile beserta kesibukannya sendiri dan dunia lainnya di mana teman sekelasnya juga sibuk— sibuk bersenang-senang dengan main game, buat dosa jalur mulut alias bergosip dan ada juga yang bersenang-senang di alam mimpi.
Aile terlihat sangat tersisihkan dalam kelas itu. Tersisihkan yang membuatnya justru merasa senang. Semangatnya untuk mengembangkan hobi plus menghasilkan pundi-pundi uang membuatnya mengabdikan jam kosong untuk merevisi sedikit alur ceritanya seraya meng-upload episode baru.
Lelaki itu mendekat, membuat jantung berdegup kencang. Wajahnya didekatkan padanya. A tak bisa berkutik ke mana pun sebab Asra mengkungkungnya di sudut ruang itu. Bodoh, seharusnya ia tadi lari keluar, bukannya malah mentok ke dinding.
Bibir tebal berwarna pink alami — terlihat jelas tak pernah menyentuh batang rokok — itu perlahan dekat pada wajahnya. Ia tak bisa apa-apa lagi selain menutup bibirnya rapat-rapat. Sedetik kemudian, ia merasa benda kenyal itu menempel di kulit sekitar bibirnya. Tak tersentuh, namun dalam hati, A telah merapalkan kata-kata pasrah.
“Buset, bibir gue udah nggak perawan lagi.”
Aile lantas bergidik membaca tulisannya itu. Ia mengibaskan tangannya di depan wajahnya yang mulai menghangat. Kapan otak cantiknya membuat jemari lentiknya mengetik kata-kata seperti ini?
Ia mendecak pelan. Bukan itu yang harus dipikirkannya sekarang. Merevisi kata-kata itu adalah yang paling utama sekarang. Aile perlu waspada, mengingat beberapa adegan penting dari ceritanya malah benar-benar terjadi padanya. Aneh, tapi nyata. Kadang ia mulai bertanya-tanya, apa sebenarnya ia hidup dalam sebuah cerita bergenre fantasi. Kalau iya, Aile akan mengumpati penulis yang menjadikan hidupnya seperti ini.
“Huh.” Aile membuang napas keras-keras.
Helaan yang terdengar seperti telah mengangkat beban berat itu terdengar oleh Meka yang baru balik dari toilet.
“Kenapa, Le? Ada masalah?”
Aile menoleh pada Meka. “Uh? Nggak apa-apa, kok,” sahutnya lalu mengembalikan tatapannya pada ponsel tercintanya. Ia merevisi rangkaian kalimat cukup dewasa tadi dan mengganti objek ciuman bibir menjadi ciuman di kening saja.
Aile maunya menghapus adegan itu, tapi feel bab itu tak akan terasa menantang tanpa adegan itu. Ia perlu mengecoh pembaca, mengira itu ciuman di bibir padahal nyatanya hanya di kening. Gadis itu lantas tertawa dalam hati, menyombongkan dirinya yang sempat-sempatnya memikirkan alur baru itu dalam waktu singkat.
“Ah, iya, tugas kelompok yang bahasa Indonesia itu. Kita mau ngerjainnya di mana dan jam berapa?” tanya Meka, mencoba membuat mulut Aile sedikit produktif di jam kosong seperti ini.
Ia tak tahu, justru pikiran Aile yang sedang dan sangat-sangat produktif saat ini.
“Dari lo aja, sih. Gue ngikut aja,” ujar Aile, tetap sibuk dengan ponselnya. Kali ini ia membaca ulang bab yang akan ia publish, demi menghindari kesalahan dalam penulisan maupun penempatan tanda baca. Typo adalah hal yang paling penting untuk dimusnahkan.
Meka terdiam sejenak, mengamati Aile yang super duper nyibuk dengan benda pipih itu. Di matanya, Aile terlihat gila ponsel. Bahaya kalau dibiarkan terus menerus, bisa-bisa kecanduan dan kena minus mata akibat radiasi yang dipancarkan ponsel.
“Eeeh! Meka!” seru Aile kaget saat Meka menarik ponselnya dari tangannya, satu detik setelah ia menekan tombol publish.
“Lo, tuh, ya, perasaan main hape mulu. Nggak takut apa, kena radiasinya? Mata lo juga ntar cepet minus. Ngapain, sih, emangnya?” tanya Meka, melirik layar ponsel Aile yang masih on.
“Nggak usah dilihat!” tegur Aile buru-buru menyimpan ponselnya di laci.
“Lo lagi buka olshop?” tebak Meka.
“Nggak, gue nggak pandai narik pembeli.” Aile geleng kepala.
“Terus? Lo kalau bukan lagi jualan, ngapain? Nggak mungkin lagi baca, ‘kan? Tangan lo aktif banget dipake ngetik soalnya.”
“Gue bales SMS pinjaman online sama giveaway gadungan,” jawab Aile ngasal.
“Hah?” Meka melongo lalu terkekeh geli. “Serius, lo beneran ngabisin waktu balesin pesan gitu?”
Aile mengangguk. “Iya.” Tapi, bohong.
“Ngapain pake dibalas-balas segala, sih, Le?”
“Suka aja. Ngerjain mereka, seolah-olah gue percaya sama tipuan b**o itu. Setelah mereka berharap gue percaya beneran, yaudah gue ngaku kalau tau itu nipu.”
Sebenarnya, Aile tak sepenuhnya bohong. Saat SMP ia sering melakukan itu, namun berhenti setelah ibunya menakut-nakutinya bahwa nomor teleponnya bisa dihack si pengirim pesan kalau ia membalas SMS itu. Entah benar atau tidak, sekarang Aile tak pernah membalas pesan-pesan sampah itu lagi dan langsung menghapusnya saja.
“Lo bener-bener, ya,” gumam Meka geli. “Kenapa nggak gabung sama mereka aja, sih?” Ia mengedikkan dagunya pada Rona, Kania, Jenni dan lainnya yang tengah sibuk cerita sembari sesekali bersorak heboh mengenai topik seru di meja belakang mereka. Sementara Romi sudah bergabung dengan anak laki-laki untuk bermain game.
Aile memasang wajah julidnya. “Nggak mau. Mereka kalau ngumpul ngegosip mulu. Di sana, tuh, semacam penampungan dosa,” tuduhnya.
Meka dibuat terkekeh lagi dengan ucapan gadis itu.
“Lo sendiri, kenapa nggak gabung sama mereka-mereka?” tunjuk Aile pada kumpulan anak laki-laki yang melantai di belakang.
“Gue nggak main begituan.”
“Terus?”
“Mainnya PS5,” bisik Meka pelan.
Aile lantas menutup mulutnya, menahan tawa kerasnya agar tak lolos. “Lha, iya. Dulu gue masing ingat, lo suka banget main gituan dan kadang gue harus nunggu lo berjam-jam buat main. Sampai sekarang lo masih suka main game itu?”
“Iya, tapi udah beda dari yang dulu. Punya gue yang sekarang baru beli, keluaran terbaru,” bisiknya lagi. “Ah iya, gue hampir lupa topik awal kita. Mau ngerjain tugas di mana bagusnya? Lo aja yang pilih, gue belum terlalu tahu tempat-tempat di sini, soalnya,” tambah Meka mengalihkan topik
“Di cafe aja?”
“Di mana, tuh?”
“Ada cafe dekat rumah gue. Di sana bagus, lumayan tenang. Gue udah sering ke sana,” jawab Aile.
“Kalian mau ke cafe? Ngapain? Nge-date?” Telinga Rona sepertinya ada di mana-mana. Cewek itu lantas berbalik ke depan, pada Meka dan Aile yang duduk di depan. Mana langsung menuduh asal-asalan.
“Mulut lo, tuh, ya!” Aile mulai mengomel.
“Ck, emosi mulu lo. Memangnya mau ngapain ke cafe kalau bukan nge-date?”
“Mau ngerjain tugas!”
Rona langsung bersemangat begitu mendengarnya. “Tugas Bahasa Indonesia itu?”
Aile memicingkan matanya pada gadis itu. “Ya, memangnya kenapa?”
“Mau ngerjain kapan?” Rona tak mengacuhkan pertanyaan Aile dan malah bertanya balik.
“Sabtu, maybe.”
“Yaudah, gabung sama kita aja ngerjainnya!” ajak Rona bersemangat. “Kita juga rencana mau ngerjain hari Sabtu di cafe.”
“Kita?” beo Meka.
“Iya. Gue, Romi, Kania sama Jenni. Lo dan Aile juga kalau mau ikut. Tiga meja ke belakang, hehehe,” kekeh Rona.
Meka dan Aile saling berpandangan lalu mengangguk setuju. “Boleh juga, biar bisa saling diskusi,” ujar Meka.
“Iya, gue ngikut aja kalau gitu. Di cafe mana emangnya?” tanya Aile.
Rona berpikir sejenak. “Ntar, gue lupa namanya. Nanti gue kasih alamatnya aja, deh.”
***
“Ugh.”
Aile memandangi pantulan tubuhnya di cermin full body. Memuji tubuhnya yang cukup untuk dikatakan kurus tapi berisi hanya lewat tatapan mata. Ia mengambil tote bag-nya yang berisi buku-buku serta laptop untuk persiapan mengerjakan tugas nanti dan berjalan ke arah pintu .
Namun, chat Asra yang masuk menginterupsi langkahnya.
Pak Asra: Kamu ada waktu?
Aile membalasnya.
Tidak, saya mau kerja tugas bareng temen.
Ia menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas lalu berjalan turun ke lantai satu, langsung menyapa ibunya yang tengah beberes di dapur.
“Ma, Aile berangkat dulu, ya,” pamitnya mencium punggung tangan Kayla.
“Hati-hati di jalan, ya. Emangnya mau ke mana dengan Asra?” tanya Kayla ingin tahu.
Kerutan di kening Aile lantas terbentuk akibat pertanyaan itu. Asra? Kenapa nama pria itu malah muncul? Tidak nyambung banget.
Saat sarapan tadi, ia memang hanya bilang izin keluar pagi ini, tak bilang apa pun soal kerja tugas apa lagi bawa-bawa nama Asra.
“Kok, Pak Asra, sih, Ma? Aile mau pamit ngerjain tugas, kok,” ujarnya bingung.
Kayla ikut bingung. “Heh, kok? Tapi, Asra udah ada di ruang tamu, lho, nunggu kamu. Dia lagi ngobrol bareng Papa kamu.”
Mata Aile melotot lebar. Ia mendekat ke dinding yang membatasi ruang keluarga dan ruang tamu. Dalam radius sedekat itu, ia baru mendengar suara Asra yang bercakap-cakap dengan ayahnya. Kayla menyusul putrinya ikut menguping.
“Pak Asra, kok, bisa ada di sini?” tanya Aile tak tahan dan langsung muncul dari balik dinding.
“Aile, sapa dulu,” tegur Farhan.
Aile hanya melirik ayahnya sebentar dan kembali menatap pada pria yang seenaknya tiba-tiba muncul di rumahnya, meninggalkan kesan ingin mengajak Aile keluar. Asra membalas tatapannya dengan senyum semanis madu.
“Ayo, Le, saya antar kamu ngerjain tugas dulu. Habis itu saya mau ngajak kamu jalan-jalan,” ujar Asra.
“Tapi....” Aile menggantung ucapannya begitu alam bawah sadarnya mengirim sinyal bahwa tatapan menusuk ayahnya kini tertuju padanya. Ia mendengkus pelan. “Oke, deh. Pa, Ma, Aile langsung berangkat aja, ya.”
Keduanya pamit keluar dari rumah. Aile enggan mengatakan apa pun dan segera masuk ke mobil Asra. Sementara Asra yang menyusulnya dari belakang, menatap gadis itu dengan ekspresi tak terbaca.