Aku merasa lega. Yah, sedikit lebih lega dan lebih baik dari sebelumnya. Satu minggu berlalu tanpa Dimas yang menungguku di depan pagar. Rumah itu tetap ramai seperti biasanya, tetapi sosok Vanessa sudah tak lagi sesering dulu terlihat. Aku melanjutkan hidupku dengan banyak tugas dari Bu Rahma untuk mempersiapkan Jakarta Fashion Week. Sejak ada kulkas dari Dimas, aku jadi memiliki buah dan es krim untuk kumakan saat begadang di rumah. Lega, iya, lega, tetapi hatiku hampa. Aku seperti sungguhan kehilangan cinta yang selama ini membuatku merasa hidup. Setiap mengingat bagaimana wajah Dimas yang tertekan saat memohon untuk kami kembali, membuatku merasa nyeri. Mungkin saja Dimas benar masih mencintaiku, tetapi ragu ini terlalu besar pada pria itu. Aku mencintainya, iy

