Helaan napasku terembus panjang dan pelan. Jantungku berdebar kencang dengan hati yang meledak akibat rindu tak terperi. Ya, aku merindukan Malang, orangtuaku, dan hidupku yang dulu. Landasan pesawat ini membuatku gugup. Apa kabar desa tempatku tumbuh besar, setelah enam tahun kutinggalkan tanpa pernah kembali barang sesaat. Aku mengambil koper dan menggeret benda itu bersama langkahku menuju pintu keluar landasan udara Abdurrahman Saleh. Setelah mendapatkan taksi, aku melaju menuju rumah orangtuaku. Bangunan yang menjadi saksi bagaimana kisah cintaku dan Dimas dimulai, juga berakhir. Semoga air mataku tak menetes, jika pikiranku terkenang setiap keindahan yang pernah kami lalui dulu di rumah bapak dan ibu. Taksi berhenti tepat di depan pagar rumah

