Bagiku, hanya manusia munafik dan takabur yang berani bicara janji besar tanpa memperhitungkan kemungkinan apakah dia bisa menepatinya atau tidak. Sejak mengalami kehancuran rumah tangga, aku tak lagi mau percaya pada sebuah janji, besar atau kecil ukuran janji itu.
Dimas selalu memberikan janji indah yang membuatku terbuai. Aku tak pernah berani dan mampu membantah apa yang ia ucapkan terkait pernikahan kami. Jika ia berkata aku harus sabar, maka aku akan melakukan itu seperih apapun masalah yang menimpa kami.
“Aku baru bisa kasih kamu segini, Tih. Aku tahu ini gak cukup untuk biaya hidup layak selama satu bulan, tetapi aku mohon pengertian kamu karena aku juga sedang menabung agar bisa membayar sewa rumah satu tahun di Surabaya.”
Aku selalu tersenyum saat menerima bukti transfer nafkah darinya. Berapapun itu, bagiku tak masalah. Seperti yang kubilang, aku terbiasa hidup sederhana dan tak berniat menuntut kemewahan dari Dimas. Aku mencintainya sebanyak jumlah darah yang mengaliri tubuhku dan memberikanku tenaga untuk tetap hidup.
“Ini cukup, kok, Mas. Kan, aku makan siangnya di konveksi. Sarapan cuma beli nasi jagung lima ribu dan makan malam biasanya Ibu masak. Aku hanya berbelanja di hari libur untuk bantu Ibu mengisi kulkas kami. Gak masalah. Toh, aku juga punya uang.”
Dimas mengangguk. “Aku belum bisa kasih orangtua kita.”
“Mereka gak minta,” selaku tegas. “Kita semua tahulah, kalau kita masih merintis dan berjuang untuk benar-benar membangun rumah tangga.”
Wajah Dimas tampak sendu saat mengatakan itu. Aku tidak suka karena membuatku merasa bahwa sudah kewajiban telak suami menghidupi istri dan mertuanya. Kami baru merintis dengan penghasilan yang masih di angka awal karir. Seharusnya orangtua kami paham kebutuhan kami dan proses perjuangan kami saat ini.
Beberapa minggu setelah hari itu, wajah Dimas kuperhatikan tampak seperti banyak pikiran. Ia bahkan tak sebergairah sebelumnya jika kami tidur bersama. Kami hanya tidur setelah menonton tivi atau membereskan rumah orangtua kami bersama. Dimas tak lagi mengajakku pergi menikmati malam minggu ke Malang kota atau Batu. Tak lagi membelikanku kue atau kudapan yang bisa kami nikmati bersama.
Di usia pernikahan kami ke lima bulan, entah mengapa ada perubahan yang kurasa pada Dimas. Ia mulai jarang pulang dengan alasan banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan di akhir minggu. Aku ingin menyusulnya ke sana, tetapi dilarang dengan alasan tak ada tempat untuk kami singgah.
“Ingat, ya, Tih, kamu fokus saja kerja dan bantu aku untuk dapat cukup uang agar kita bisa kontrak rumah di sini. Andai aku belum bisa kasih banyak uang untuk kamu, sabar dan terus temani aku berjuang.”
Aku hanya mengangguk dan terus melakukan apapun yang ia pinta. Meski hatiku harus perih menahan rindu dan mataku menangis dalam diam seorang diri. Aku harus kuat. Menjadi istri Dimas adalah impianku dan aku tak boleh menyerah hanya karena kondisi kami yang serba terbatas ini.
*
“Mbak!”
Suara Mona dan gedoran bilik toilet membuatku harus menyudahi tangisku, juga ingatanku tentang pernikahan singkat itu. Aku mengusap cairan hidung dan mata yang membasahi wajahku. Saat membuka pintu bilik toilet, aku melihat wajah jengah Mona. Raut yang selalu gadis itu tunjukkan kepadaku, setiap mendapatiku menangisi hidup dan kenangan pernikahanku dengan Dimas dulu.
“Bu Rahma ada panggil kita untuk meeting. Mbak tolong benahi penampilan Mbak, karena yang ikutan rapat bukan hanya tim kita.”
Aku mengernyit sesaat seraya berpikir. “Memangnya mau ada event?”
Mona hanya menaikkan satu alisnya dengan wajah datar.
“Astaga! Tiga bulan lagi Jakarta Fashion Week!” Aku bergegas menuju washtafel dan mencuci mukaku agar bekas tangisan ini hilang. “Aku ke mejaku dulu untuk bedakkan lagi. Kamu duluan ke ruang meeting.”
Mona hanya mendengkus lirih sebelum meninggalkanku yang membasuh muka. “Jangan lama-lama. Gak mungkin Mbak bilang nangis dulu setengah jam di toilet,” gumamnya seraya menguak pintu dan keluar.
Aku mempercepat gerakku membenahi riasan wajah, lalu mengambil buku catatan dan ponsel sebelum melangkah cepat menuju ruang meeting. Bu Rahma sudah hadir bersama dua orang yang beliau beri tugas untuk mencari model dan menata booth kami saat JFW dilaksanakan nanti.
“Untuk tahun ini, saya ingin mengangkat tema busana untuk wanita di era millenial.” Bu Rahma tampak serius jika sedang memimpin rapat, terutama jika berkaitan dengan event bergengsi dan klien selebritis. “Di era sekarang, kita bisa memperhatikan kebutuhan busana wanita yang membutuhkan kepraktisan, nyaman, ringan, tetapi tetap modis. Wanita era sekarang memiliki banyak kegiatan. Entah di luar ruangan ataupun di dalam gedung saja. Untuk itu, saya ingin para perancang Rahmantika Label bisa memberikan ide busana sehari-hari yang bisa dikenakan oleh berbagai tipikal wanita era millenial. Khusus Mona, saya tugaskan agar kamu membuat rancangan khusus untuk wanita berhijab. Saya perhatikan, kemampuan kamu merancang busana hijab cukup bagus dan selalu mendapat tanggapan positif dari pelanggan kita.”
Mona tampak mengangguk dan mencatat apa saja tuga-tugas yang harus ia kerjakan setelah ini.
“Ratih, saya lihat kamu pandai membuat baju santai dan acara semi formal. Coba tantang dirimu untuk membuat rancangan blus dan gaun kerja simple yang sesuai dengan tema yang akan kita angkat nanti.”
Aku menunduk dan mencatat apapun yang Bu Rahman mandatkan kepadaku. Meski aku tidak pernah bergaul dengan perempuan kantoran, aku yakin bisa mendapat banyak ide dan inspirasi untuk membuat rancanganku sendiri.
Hari ini aku pulang tepat waktu. Tubuhku terasa lelah dengan kepala yang terasa berat. Aku memutuskan pulang dan berencana meminum satu butir aspirin dan tidur hingga esok hari. Menangis dan merasakan tekanan batin setelah mengingat pernikahanku yang hancur, membuat gerak tubuhku jadi menurun.
Sayang, rencana itu sepertinya harus sedikit terhambat saat lagi-lagi, aku mendapati Dimas berdiri menungguku di depan pagar.
“Aku pikir kamu memiliki kantor yang harus kamu datangi hingga malam.” Aku membuka kaca helm dan menyapanya dengan nada sinis.
Dimas tersenyum samar dengan wajah yang terlihat banyak beban. “Kantorku di rumah ini. Aku bekerja di sini dan hanya mengunjungi gedung-gedung itu sesekali saja. Aku butuh bicara denganmu.”
Aku menggeleng tegas. “Aku tidak ingin bicara dan kamu salahkan lagi mengapa kita bercerai.”
“Nyatanya memang salahmu yang mengira aku mencium Ivana!”
“Aku tidak mengira, Dimas! Aku melihat jelas kamu membalas lumatan perempuan itu dan menggerayangi tubuhnya!” Emosiku merangkak naik. Sepagian ini aku menangis mengenang kisah kami dan tolong jangan buat aku menutup hari dengan pertengkaran tentang apa yang terjadi enam tahun lalu. “Kalau kamu tidak selingkuh denganku, kamu tidak akan berubah begitu.”
“Aku tidak selingkuh!”
“Tapi menjauhiku dan selalu beralasan jika aku memintamu pulang ke Malang! Lalu saat aku menghampirimu ke Surabaya, kamu menyambutku dengan adegan panas yang satu bulan lebih tidak kita lakukan. Apa yang ingin kamu bela? Lalu saat kita bercerai, kamu menyalahkanku yang tak mau mendengarmu! Mendengar apa? Kebohongan agar aku menjadi bodoh dan bisa kamu bohongi lagi?” Napasku semakin memburu kencang dan mataku berkunang. Kepalaku sungguh sakit dan berat. “Tak ada lagi yang harus kita bicarakan. Kamu sudah memiliki istri dan jangan ulangi kesalahanmu yang dulu. Cintai istrimu sepenuh hati. Jangan bermain apa dengan wanita—“ Mataku tiba-tiba menggelap dengan cepat dan aku tak tahu apa yang terjadi pada tubuhku.