“Aku akan pulang setiap akhir minggu. Tunggu aku di rumah dan jaga kesehatan.” Dimas selalu mengecup keningku dan memeluk penuh sayang, setiap akan kembali ke Surabaya untuk bekerja. Setelah menikah, tak ada yang berubah. Kami tetap menjalin hubunga jarak jauh Surabaya dan Malang.
Setiap akhir minggu Dimas akan pulang ke Malang. Aku tak bisa ke Surabaya, karena Dimas masih tinggal di kost khusus pria yang tak bisa ikut kutinggali. Ia berjanji akan mengumpulkan uang dan mencari rumah kontrakan agar aku bisa ikut tinggal di Surabaya jika sedang libur kerja.
Aku menikmati pernikahanku, meski tak bisa setiap malam bersama Dimas yang menjadi suamiku. Jujur, pernikahan membuat perasaanmu semakin dalam kepadanya. Aku memberikan seluruh hati dan perasaanku pada Dimas yang berani meminangku di usia kami yang cukup muda.
“Kamu berhenti kerja saja. Pindah Surabaya dan jadi istri Dimas di sana. Kamu bisa buka warung atau jasa jahit di sana, kan? Tidak baik menjalani pernikahan dengan pasangan yang terpisah setiap hari.”
“Kami tidak terpisah setiap hari, Pak. Dimas pulang ke rumah ini setiap akhir minggu dan kami akan bergantian tinggal di rumah orangtua kami seperti selama ini. Dimas sedang mengumpulkan uang agar bisa kontrak rumah. Harga kontrakan di Surabaya tidak murah dan tak bisa dibayar bulanan. Ratih memilih menerima kondisi ini, karena Ratih juga ingin membantu Dimas mengumpulkan uang. Saat ada rumah kontrakan, pun, kami harus membeli banyak barang dan totalnya tidak sedikit.”
Tiga bulan aku selalu berdebat dengan Bapak tentang ini. Bagi Bapak, tempat istri adalah di samping suami. Menemani dan merawat di manapun suami berada. Aku setuju dengan prinsip Bapak. Hanya saja, kondisiku dan Dimas saat itu, tak memungkinkan untukku terus berada si sisi dimas. Kami sedang berjuang mengumpulkan modal berumah tangga dan selalu ada perjuangan yang harus kami lalui untuk itu.
“Aku sebal dengan Bapak.” Satu malam, aku menangis di kamar Dimas, di rumah orangtua pria itu. “Bapak seakan mengusirku dari rumah dengan memaksaku untuk ikut ke Surabaya sama kamu.”
“Sabar, Tih.” Dimas hanya memeluk dan mengusap punggungku yang sedkit bergetar. Bayangkan saja, bagaimana rasanya mendapat pertanyaan dan perintah yang sama selama tiga bulan. Saat aku sedang bahagia merasakan awal pernikahan bersama Dimas. “Maafin aku yang belum bisa membuat kita hidup seperti pasutri umumnya.”
Aku menggeleng seraya meredakan isak tangisku. “Kamu janga minta maaf. Aku gak apa dengan kondisi pernikahan kita. Aku yakin ini sementara dan pernikahan ini terjadi juga karena Bapak yang memaksa kamu menikahiku secepat ini. Kalau Bapak mau menunggu, aku yakin kamu pasti bisa mempersiapkan banyak hal lebih matang untuk kita.”
Dimas tersenyum dan mencium keningku lama. Rasanya nyaman dan hangat. Dimas selalu mampu membuatku tenang dan merasa dicintai.
“Jalan-jalan, yuk! Kita ke alun-alun Batu makan ketan s**u, terus ...,” tangan Dimas bergerak menggerayangi perut dan dadaku, “Check in di hotel sampai besok siang. Aku—“ Aku tahu yang ia inginkan. Menjadi istrinya selama tiga bulan, membuatku paham apa kebutuhan Dimas jika sedang pulang ke Malang.
“Ayo,” jawabku lirih penuh semangat. Dadaku berdebar menanti apa yang bisa saja kami lakukan berdua di kamar hotel, tanpa perlu sungkan dan takut terdengar orangtua kami.
Sore itu, kami berangkat menuju Batu dengan sepeda motor Dimas. Hatiku bahagia memiliki seseorang yang mencintai dan memilikiku. Ia mau merasakan apa yang kurasa dan memberiku hiburan agak kami lupa dengan kondisi pernikahan kami.
Dimas mengajakku menikmati kuliner kota Batu. Aku membayar semua tagihan makan dan jajan kami, juga tiket masuk Batu Night Spectacular agar kami bisa mengambil gamber berdua di taman lampion. Sedang Dimas, membayar biaya kamar hotel bintang tiga yang kami sewa sampai esok siang.
“Bagus banget poto yang ini.” Aku antusias melihat gambar demi gambar yang ada di ponsel milikku dan Dimas.
“Aku suka yang di dekat danau tadi,” timpal Dimas sambil mengunyah apel yang kami beli di stan oleh-oleh BNS seraya memelukku dari belakang.
Rasanya nyaman. Hatiku tentram dengan apa yang Dimas berikan pada hidupku. Aku menyandarkan tubuhku pada tubuh Dimas yang bersandar di kepala ranjang hotel yang kami sewa. Sesaat kami saling terdiam dan fokus melihat gambar-gambar yang kami ambil sejak sore hingga petang.
“Ratih.” Panggilan Dimas yang lirih dan parau membuat kudukku berdiri. Ada getar asing yang menyusupi perasaanku. Getar yang mulai ada saat kami menikah dan selalu mampu membuatku bergerak salah tingkah.
“Apa, Dimas?” tanyaku seraya menutup aplikasi galeri dan meletakkan ponsel di bawah bantal. Aku berbalik menghadapnya dan mendapati binar mata Dimas yang menggelap. Aku tahu ia tengah b*******h dan menginginkanku.
Dimas mendekatkan wajahnya pada wajahku dan melumat pelan bibirku. Kami saling memagut dan mendesah bebas di kamar ini. Rasanya menyenangkan dan selalu begitu hingga saat ini. Rindu yang terpendam selama berpisah di hari kerja, selalu kami lampiaskan saat bersama seperti ini.
“Aku—kamu mau kita gimana?” Aku terengah setelah ciuman panjang yang Dimas berikan padaku. Bibir Dimas sudah berpindah ke leher dan pundakku. Gairahku mulai tersulut, membuatku tak mampu berpikir tenang dan menginginkan segalanya segera kami lakukan.
Tangan Dimas masuk ke dalam kaus yang kukenakan. Ia membuka kaitan bra dan melepas semua yang kukenakan. Tak ada lagi rasa malu, seperti saat malam pertama dulu. Yang kurasa hanyalah keinginan dimilikinya saat ini dan terbang bersamanya menuju keindahan yang selalu kami sukai.
“Aku mau kita melakukan ini sampai pagi, Ratih.” Dimas berbisik sebelum memberikan tanda cinta di leherku, menyusul beberapa bagian tubuhku yang lain.
Dimas Adjie, cinta pertama yang menjadi suamiku. Pria yang berhasil membuatku bertekuk lutut mencintainya tanpa pamrih dan sepenuh hati.
“Kamu kenapa nangis?” Mata Dimas berbinar cemas melihat luruhan air mata di wajahku, di tengah percintaan kami. “Aku bikin kamu sakit?” Gerakannya yang semula penuh semangat dan gairah, berangsur pelan dan lebih hati-hati.
Aku menggeleng kencang. Menegaskan jika apa yang pikirkan salah. “Aku minta maaf, karena tidak bisa kasih kamu hubungan seperti ini setiap malam.” Sisi hatiku meronta, melihat bagaimana Dimas menikmati pergumulan kami. Kegiatan suami istri yang hanya bisa kami lakukan satu kali seminggu, itupun jika aku tidak sedang shift malam atau datang bulan.
Dimas tersenyum lembut, sebelum mencium aliran air mataku. Kecupannya terasa penuh kasih dan cinta. Membuat sesak dalam hatiku semakin terasa. Aku merasa berdosa sebagai istri. Tak bisa menemani Dimas setiap hari dan memberikan kebutuhan lelakinya.
“Aku gak masalah, Ratih. Kita sedang berjuang agar bisa hidup bersama di Surabaya. Waktu kita masih panjang dan aku sabar melewati semua itu.” Bibir Dimas beralih mengecup bibirku dan mengusap lembut wajahku yang basah. “Jujur aku suka berada sedekat ini, dan menyatu denganmu. Namun, aku menikmati setiap perjuangan kita untuk bisa bersama dan membangun rumah tangga seperti pasangan pada umumnya.”
Aku mengangguk dan menangis haru. Seharusnya libido dan gairah menyulutku dan mengungkungku agar mendesah nikmat dan mengerang meminta lebih kepada Dimas. Namun, rasa bersalah yang kurasa membuat penyatuan kami terasa lebih emosional.
“Aku cinta kamu, Dimas. Cinta banget sama kamu.” Tangisku semakin deras dan aku harus mengalihkan rasa ini dengan bergerak aktif menciumnya.
“Aku tahu, dan aku berterima kasih karena kamu mau berjuang bersamaku.” Dimas membalas ciumanku dan melanjutkan hujamannya yang sempat terhenti. “Aku juga cinta kamu, Tih,” bisiknya disela pagutan dalam kami. “Kita akan berjuang bersama dan bahagia. Aku janji itu.”
****