Masa Lalu

1206 Kata
        “Bagus banget, Mbak. Saya suka.”                Aku tersenyum senang melihat bagaimana Sita mencoba busana yang kubuat untuk perempuan ini. “Pakai jepitan mutiara, Mbak, bagus nanti. Rambut Mbak Sita lurus panjang. Saya yakin, cantiknya bisa melebihi bintang iklan sampo.”                Sita tertawa ringan seraya memindai bayangannya di cermin butik. Tak lama, tawa itu menghilang berganti senyum sendu dan tatapan mata yang terlihat sedih. “Nahas banget, Mbak, baju secantik ini untuk acara perjodohan, bukan kencan pertama dengan kekasih hati.”                Kali ini, aku tak menanggapi. Aku tak tahu bagaimana setiap wanita menghadapi kepahitan hidup mereka. Hidupku sudah pahit, dan aku tak mau mereka tahu sepahit apa rasanya menderita karena cinta.                “Jodoh tidak ada yang tahu, Mbak.” Hanya itu tanggapanku. Benar, bukan? Aku yang mencoba bertahan tahunan dengan Dimas saja, nyatanya menikah hanya dalam hitungan bulan. Mana tahu Sita yang dijodohkan justru akan langgeng hingga akhir hayat?                Sita hanya mengangguk pelan, seraya menatapku dari pantulan cermin. “Ibu saya sahabat banget sama ibu si duda ini,Mbak. Kesuksesan si duda setelah cerai dari istri pertamanya, membuat ibu saya jadi mau menerima perjodohan ini. Ibu tidak memikirkan saya yang baru lulus kuliah dan butuh banyak waktu untuk mengembangkan diri. Bukannya disuruh cari kerja, malah dinikahkan paksa.”                “Setiap wanita memiliki kisah asmaranya masing-masing.” Aku tak pintar bicara tentang hati, apalagi dari hati ke hati. Aku lebih suka memendam apapun sendiri dan merelakan segala hal pahit meski harus terluka dan menangis.                “Minggu depan baru pertemuan untuk perkenalan. Entahlah, aku berharap pria itu tak tertarik kepadaku dan memutuskan menolak perjodohan ini.”                Aku tak menjawab ucapan Sita dan memilih membantunya untuk ganti baju dan membungkus pesanan gadis itu. Saat Sita selesai melakukan transaksi di meja kasir dan meninggalkan butik ini, pikiranku terbang pada Dimas yang di mataku tak juga berubah. Menggoda wanita lain padahal sudah memiliki istri.                Aku tak tahu sejak kapan Dimas berubah menjadi seprti itu. Saat SMA dulu, ia sosok pendiam dan tegas pada diri sendiri. Aku jatuh cinta padanya dan perasaanku bersambut. Kami mulai menjalin hubungan saat kelas dua SMA dan melakukannya diam-diam. Saat kelulusan, Dimas berkata ia akan kuliah teknik informatika di Surabaya dan aku tetap di Malang bersama orangtuaku. Aku mengambil kursus jahit, karena hanya itu yang mampu ibu dan bapakku beri padaku.                Selama empat tahun kali menjalani hubungan jarak jauh. Banyak pria di konveksi yang mendekatiku, tetapi aku tak pernah menyambut karena yakin akan hubunganku dengan Dimas. Aku hanya perlu menunggu empat tahun hingga Dimas lulus dan itu bukanlah waktu yang lama. Aku mengumpulkan sedikit demi sedikit hasil kerjaku dair konveksi, karena yakin bahwa hubungan kami akan bermuara pada pernikahan secepatnya, setelah Dimas lulus dan mendapat pekerjaan. Tepat tiga bulan setelah ia lulus, Bapak memanggil Dimas saat ia tengah mengunjungiku di rumah.                “Bapak mau tanya keseriusan Dimas terhadap Ratih. Jujur, ada yang melamar Ratih untuk menjadi istrinya. Bapak tahu, Ratih pasti memilihmu, tetapi Bapak harus memastikan kepastian hubungan kalian. Jika tak pasti, terpaksa Bapak menerima pinangan pria yang melamar Ratih.”                Saat itu, hatiku seperti hancur oleh sikap Bapak. Bagaimana bisa orangtuaku memutuskan sesuatu sepihak tanpa bertanya kepadaku dulu. Memang bukan perjodohan, tetapi cara Bapak mengingatkanku pada Siti Nurbaya yang harus mau menikah dengan pria yang tak ia cinta. Aku tak mau nasib cintaku berakhir tragis seperti itu.                Aku menatap Dimas dengan mata yang berkaca dan binar kalut. Dimas harus menyelamatkanku dari rencana Bapak. Aku mencintai Dimas dan setia kepadanya hingga pria itu mendapat kerja di sebuah perusahaan IT nasional. Aku tak akan menuntut apapun dari Dimas, kecuali cinta pria itu dan hidupnya yang akan menjadi milikku selamanya.                Dari tempat duduknya, Dimas menatapku dengan pandangan yang tampak gamang. Aku tahu ia pasti juga terkejut dengan apa yang Bapak katakan kepada kami. Ia terdiam dan menunduk. Membuatku terasa seperti berada di batas tipis antara hidup dan mati. Suasana saat itu hening dan menegangkan, hingga Bapak kembali bersuara untuk menegaskan keputusan Dimas.                “Tiga bulan lagi, Pak. Tolong beri saya waktu tiga bulan lagi untuk menikahi Ratih. Dua minggu lagi, saya akan datang bersama orangtua saya untuk melamar Ratih.”                Dimas membuktikan ucapannya. Dua minggu setelah Sabtu malam itu, dia datang bersama orangtuanya. Melamarku dengan sederhana, karena Dimas mengatakan kepada mereka secara mendadak. Tak mengapa bagiku, aku tak akan menuntut kemewahan darinya. Aku mencintai Dimas tulus dan hanya ingin hidup bersamanya.                “Tabunganku belum banyak, Tih. Kamu tahu sendiri, aku baru empat kali gajian dan gajiku belum besar. Aku masih junior programmer dan biaya hidup di Surabaya juga tidak murah.”                Dimas memberikan sebuah buku tabungan dan menunjukkan kepadaku nominal yang tercantum di dalamnya. Aku hanya tersenyum sungkan dengan hati yang merasa bersalah. Tidak seharusnya Bapak menekan Dimas agar segera menikahiku. Usia kami masih dua puluh tiga dan pernikahan bukan hal nomor satu yang harus kami lakukan. Aku tak masalah menunggu dimas beberapa tahun lagi dan tetap bekerja menjadi penjahit konveksi hingga saat itu tiba.                “Aku ada uang, kok, Dim. Biar acara pernikahan, pakai uangku saja. kita buat acara sederhana saja, yang penting kita menikah.”                Dimas menyetujui usulku dan dua bulan kemudian kami menikah. Aku bahagia, meski resepsi diadakan sederhana di rumahku. Tak ada katering apalagi organ tunggal. Ibuku dibantu para tetangga memasak banyak menu untuk hidangan para tamu. Bapak pun tak mengundang banyak tamu begitupun orangtua Dimas. Tak apa, bagiku ini sudah langkah bagus dalam hidupku bersama Dimas.                Malam pertama kami terasa indah. Saat itu adalah pertama kalinya aku merasakan ciuman dan Dimas yang memberiku pengalaman menakjubkan itu. Bibir kami saling bertemu dengan ragu, lalu tawa lirih dan senyum malu-malu menghiasi suasana malam itu hingga Dimas mengajakku untuk melakukan pagutan perlahan dan konstan.                Aku menikmatinya. Menikmati ledakan perasaaan bahagia yang Dimas beri pada ciuman pertama kali. Bibirnya membelai milikku dengan lembut dan penuh perasaan. Membuatku yakin jika Dimas benar mencintaiku sepenuh hati. Takut-takut, aku menggerakkan tanganku melingkari pundaknya dan mencoba memperdalam ciuman kami dan mengikuti naluri.                Rasa itu tak bisa kulupa bahkan hingga sekarang. Ledakan yang tak pernah kubayangkan akan kudapat bersama Dimas, pria yang kucintai sepenuh hati. Perasaan saling memiliki yang membuatku merasa tak akan pernah sendiri.                “Aku cinta kamu, Dimas.” Napasku masih memburu setelah percintaan pertama kami. hangat kulit tubuhnya memberiku sengatan asing yang membuatku merasa ringan dan melayang. Aku bahkan tak peduli dengan perih dan nyeri yang kurasa di inti tubuhku.                Dimas melumat lembut bibirku. Basah keringat dan aroma tubuhnya tak membuatku risih, justru nyaman sekali mendapati kami bisa berada di titik ini. “Aku cinta juga sama kamu,” ucapnya saat melepas ciuman kami, sebelum kembali menjelajahiku dan memberikanku surga cinta yang kudapat setelah kesabaranku menunggunya selama empat tahun.                Kilas bayangan masa itu kembali menghantamku. Aku bahagia malam itu, tetapi pada akhirnya harus menerima kenyataan pahit yang menghancurkan hidupku. Pernikahanku terasa indah dan menyenangkan, sampai akhirnya aku tahu yang Dimas lakukan saat kami terpisah jarak.                Rasa sakit ini menyesakkan dadaku lagi. Tanganku bahkan gemetar dan aku melangkah cepat menuju kamar mandi demi menyelesaikan kepedihan yang membuat pandanganku buram. Aku menangis lagi. Sendiri. Meratapi hidupku yang terasa menyakitkan.                Aku selalu berharap waktu dapat membuatku lupa dan menyembuhkan semua sakit yang Dimas beri. Namun nyatanya, semua itu tak bisa hilang meski aku sudah pergi menjauh selama enam tahun. Bahkan, sekarang harus bertemu dengannya lagi, dengan tabiatnya yang ternyata suka bermain dengan wanita. *                               
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN