PROLOG
"Hari ini, aku akan umumkan. Siapa yang pantas menggantikan posisiku, sebagai CEO Morine Corporation. Siapapun yang aku pilih, ku harap kalian akan menerima keputusanku." Suara Hellen Morine memecah dalam suasanan hening.
Ia menatap wajah menantunya yaitu Nesa Rayne, serta kedua cucunya yaitu Leon Abrizam Morine dan Mario Arsalan secara bergantian. Mereka duduk di kursi berhadapan dengan Hellen Morine. Serta mendengarkan dengan seksama.
Terlihat Mario Arsalan mengangguk beberapa kali, menandakan setuju dengan apa yang disampaikan sang Nenek.
Hellen Morine memutuskan untuk melepaskan kepemimpinannya. Mengingat usianya sudah tak lagi muda. Ia merasa, memang sudah tidak mungkin mengemban tugas perusahaan dengan segudang kesibukan. Tatapan Hellen Morine di sertai senyuman terhenti, tepat kearah Leon Abrizam Morine.
"Keputusanku, sudah ku pertimbangkan jauh-jauh hari. Dengan pertimbangan yang matang. Aku ingin menyampaikan ini kepada kalian. Sebelum aku umumkan kepada jajaran direksi perusahaan. Leon Abrizam Morine! kau lah yang akan menggantikan posisi Ceo Morine Corporation." Dengan yakin Hellen Morine memilih Leon sebagai penggantinya.
Nesa Rayne terperanjat, lalu bangkit dari tempat duduknya. Apa yang ia dengar tak sesuai harapannya.
"Omong kosong apa ini! Leon menggantikan posisi Ceo? apa aku tidak salah dengar," protes Nesa kepada Hellen Morine mertuanya serta merta menatap tajam penuh kebencian ke arah Leon.
Nesa beberapa kali menggeleng-geleng kepala.
"Apa kelebihan Leon hingga ia pantas menduduki posisi Ceo perusahaan? Leon tak sebanding dengan Mario Arsalan anakku. Sudah jelas, Mario memenuhi kriteria menjadi Ceo. Selama ini, Mario banyak membantu memajukan Morine Corporation. Sementara Leon!" Nesa kembali menatap sinis kearah Leon.
Kemudian kembali menatap Hellen Morine yang tampak duduk tenang di kursi kebesarannya. Sampai kapan pun Nesa tak akan menyetujui Leon menjadi Ceo perusahaan.
"Jasa apa yang sudah Leon lakukan untuk perusahaan? ia masih sangat baru terjun di perusahaan. Hanya dalam hitungan hari, Leon sudah menjadi Ceo? mustahil!".
Nesa tidak terima dengan keputusan mertuanya. Menurutnya, Mario Arsalan anaknya lah yang pantas menduduki posisi Ceo Morine Corporation. Bukan Leon!. Sejak suaminya meninggal. Nesa berambisi untuk menguasai harta kekayaan keluarga Morine. Nesa tetap saja tidak bisa menerima keputusan sang mertua.
"Mario cucu pertama keluarga Morine. Seharusnya Mario lebih dari pantas menduduki posisi Ceo. Bukan Leon! Leon bahkan tak punya pengalaman sedikit pun untuk mengelola Morine Corporation. Ku harap, anda mempertimbangkan lagi keputusanmu. Sebelum mengumumkannya di rapat besok."
"Keputusanku sudah bulat. Tidak sedikit pun akan ku ubah," tegas Hellen Morine.
Rahang Mario mengeras mendengar keputusan sang Nenek, kedua tangannya mengepal hingga bergetar menahan amarah. Ia menatap tajam Leon penuh dengan kebencian. Sedangkan dalam pikiran Leon. Banyak pertanyaan yang siap ia tanyakan kepada sang Nenek. Tentang apa yang sebenarnya terjadi. Leon merasa ada yang ganjil. Sepantasnya cucu pertama lah yang menggantikan posisi sang Nenek. Bukan dirinya(Leon). Akan tetapi, ia tidak mendapati celah walaupun untuk sekedar bertanya.
Nesa menggeleng-geleng tak habis pikir. Seketika dadanya terasa sesak. Pantatnya mendarat dengan keras di kursi duduknya. Kepalanya terasa pening. Seketika tubuhnya terasa lemah tak berdaya.
"Ibu! kau baik-baik saja! mari ku antarkan ke kamarmu." Mario segera membawa ibunya keluar dari ruangan.
"Mari aku bantu, Kak." Leon berinisiatif membantu Mario.
"Tidak perlu! aku bisa mengatasinya sendiri!" Tolak Mario, kemudian ia membantu ibunya berdiri dan berjalan keluar ruangan.
"Oma, apa oma yakin dengan keputusan tadi. Menjadikan aku sebagai Ceo Morine Corporation. Aku pikir, betul apa yang di ucapkan tante Nesa. Kak Mario lebih pantas daripada aku." Leon membenarkan perkataan Nesa.
***
"Mario, apapun yang akan terjadi. Kau harus merebut posisi Ceo dari Leon. Karna kau, ya! hanya kau yang pantas menjadi Ceo Morine Corporation." Nesa tetap ingin melancarkan ambisinya untuk menguasai harta kakayaan keluarga Morine.
"Baik Ibu. Aku pastikan akan menyingkirkan siapa pun yang berani menghalangi langkahku." Senyum licik menghiasi wajah tampan Mario Arsalan.