Tidak semua orang akan bisa hidup seatap dengan orang yang telah membuat keluarganya hancur. Seperti halnya Hellen Morine tinggal bersama menantunya berpuluh-puluh tahun lamanya. Tanpa rasa malu ataupun bersalah. Nesa Rayne patut menyandang gelar menantu jahat. Bahkan kata jahat sangat kurang tepat. Lantas, gelar apa yang tepat untuknya?
Selebihnya tak ada lagi yang membuat Nesa masih bisa bertahan sampai saat ini. Kalau bukan kebesaran hati dari Hellen Morine. Tak kurang ia berbaik hati serta memberi fasilitas secara cuma-cuma. Kemewahan keluarga Morine tak kan habis sampai tujuh turunan. Hal yang sangat membuat betah Nesa bersama Mario yang bahkan, Mario juga diperbolehkan ikut andil mengelola Morine Corporation.
Namun kenyataannya, tak ada kata terima kasih sedikit pun yang terlontar dari Nesa. Walaupun hanya sekedar basa basi ia tak pernah melakukan itu. Hellen Morine merasa jengah akan tetapi wasiat dari sang anaklah yang selalu membuatnya tersudut, tak bisa berbuat apa-apa.
"Menurutku Leon sudah mempermalukan keluarga Morine. Bagaimana bisa? semalam anda tidak marah sama sekali." Nesa bertanya kepada Hellen Morine di meja makan.
Dimana pagi ini, mereka sarapan bersama akan tetapi Leon serta Mario belum juga turun untuk bergabung dengan mereka.
"Ada yang lebih memalukan dari Leon. Lebih parahnya lagi, dia tak punya malu. Atau mungkin urat malunya sudah terputus?" sindir Hellen Morine seraya mengedikkan bahu di akhir kalimat.
Nesa memicing dengan kedua tangan mengepal. Rahangnya mulai mengeras dengan suara gesekan giginya kuat. Jelas ia tersinggung. Akan tetapi sedetik kemudian ia menampakkan senyum meremehkan.
"Ku rasa ... Anda sekarang setuju dengan hubungan mereka. Benar begitu?" Nesa memang suka membuat ulah.
Suasana pagi ini terasa dingin namun berbeda dengan suasana meja makan yang semakin memanas.
"Benar," sahut Hellen Morine terlihat yakin. Membuat Nesa seakan tak percaya begitu saja.
"Apa anda yakin? Kalau memang iya. Gimana rasanya menjilat ludah sendiri?"
Hellen mendengus serta menatap Nesa tajam, "Demi kebaikan cucuku. Apapun akan ku lakukan. Bahkan detik ini juga, aku bisa saja menghibahkan seluruh harta benda keluarga Morine kepada Leon."
Nesa tercekat. Lehernya serasa tercekik begitu mendengar kata-kata itu. Sial! Nesa menarik nafas panjang serta berat lalu mengeluarkannya begitu cepat. Tak ada pilihan lain. Kali ini ia harus diam serta bersikap baik layaknya menantu sholehah.
"Oh iya, apa anda ingin ku ambilkan selainya?" tawar Nesa hendak meraih selai di sebelah ujung.
"Tidak perlu."
Hellen melirik kearah asisten rumah tangga yang tengah berdiri tak jauh dari meja makan. Paham dengan isyarat yang diberikan sang nyonya. Ia bergegas berjalan lalu melayani Hellen Morine yang memang menunggu dirinya. Mungkin asisten itu tak sengaja meletakkan selai itu jauh dari jangkauan Hellen Morine.
"Pagi Oma," sapa Leon sambil mengecup kedua pipi omanya lalu mendudukkan diri.
"Pagi." Hellen tersenyum memandang Leon.
"Pagi Ibu, Oma," sahut Mario yang baru bergabung.
Hellen hanya mengangguk pelan sambil mulai sarapan rotinya. Sementara Leon tersenyum seakan menyambut Mario meskipun tak di sapa.
"Uh, Marioku sudah rapi?" Nesa berdiri lalu merapikan kerah Mario yang sudah rapi.
"Ya. Harusnya Leon juga begitu," sindir Mario yang memang Leon hanya memakai kemeja putih lengkap dengan dasinya. Sementara jasnya belum ia kenakan.
Tak apa. Leon tak marah sedikit pun. Ia tetap melanjutkan sarapannya dengan tenang.
"Kalian mau sarapan atau hanya berdiri saja?" celetuk Hellen Morine. Membuat Nesa serta Mario saling pandang. Tak lama kemudian mendudukkan diri untuk sarapan bersama.
Suasana sarapan menjadi tenang. Tak ada apa pun yang mereka bicarakan. Hingga Leon rasa selesai lalu meneguk s**u hangatnya.
"Mau berangkat sekarang?" tanya Hellen Morine yang juga selesai sarapan.
"Iya, Oma." Leon mengusap bibirnya menggunakan tisu.
"Kalau begitu, nanti siang atur pertemuan Oma dengan kekasihmu. Kita makan siang bersama." Hellen Morine tersenyum.
Nesa tercekat hingga terbatuk-batuk. Dengan cepat ia meneguk teh hangat miliknya hingga tandas. Apa yang ia dengar sungguh di luar dugaan. Tak seperti ekspetasi terkaannya semalam. Ia menatap heran kearah Mario yang hanya di balas dengan kedikan bahu.
"Tante nggak apa-apa," tanya Leon yang memang peduli.
Nesa mengangguk lalu menjawab, "Tak apa. Hanya merasa serat saja."
"Bagaimana Leon?" sahut Hellen Morine menyambungi.
Leon mengangguk serta tersenyum. Ia tak begitu berharap lebih. Apa yang dilakukan omanya hanya sekedar pemanis yang tak sebenarnya tulus. Ia paham itu akan tetapi ia akan tetap mengatur jadwal pertemuan itu. Omanya harus bertemu dengan Denisa. Mungkin lebih cepat lebih baik.
***
Dalam perjalanan menuju kantor. Leon tak hentinya memikirkan apa yang akan terjadi nanti, jika Omanya serta Denisa sudah bertemu. Apakah omanya akan bisa menerima Denisa? Leon menggeleng seraya menghela nafas di balik kemudi.
Hingga sesampainya di pelataran Morine Corporation. Kedua netranya tertuju kearah Misshel yang saat itu juga tengah berjalan masuk bersama Timonty. Ia pun bergegas turun mempercepat langkahnya untuk menyusul mereka. Namun pintu lift sudah tertutup dimana Misshel serta Timonty berada di dalamnya.
"Sial!" kesalnya.
Sempat menyalahkan kenapa dulu tidak membuat dua lift saja. Lalu Leon terpikir ingin menyusul Misshel menggunakan tangga darurat namun suara seseorang menghentikan langkahnya.
"Mau kemana? Tunggu saja, lift akan segera terbuka." Mario menatapnya seakan mengerti apa yang ada dipikirannya.
Kemudian Leon urung menggunakan tangga darurat lalu berdiri di samping Mario. Tak lama pun pintu lift terbuka bersama dengan itu mereka masuk. Tak saling berhadapan, mereka menghadap kearah pintu lift. Tidak ada pengguna lift yang lain selain mereka disana.
"Selamat ya, Oma sepertinya benar-benar mendukungmu bersama Denisa," ucap Mario namun terdengar memaksa.
"Oma akan selalu mendukungku, Kak. Sikapnya yang tegas kemarin hanya perasaannya yang takut jika aku memilih wanita yang salah. Ya, begitulah Oma." Leon tersenyum kemudian.
Mario tersenyum masam. "Itu artinya, kau tak salah memilih Denisa?"
Leon hanya mengangguk.
Sedetik kemudian pintu lift terbuka setelah sampai di lantai atas. Dimana Misshel sudah tak terlihat lagi dalam pandangan Leon. Ia pun menghampiri ke meja kerjanya tetapi Misshel tak ada disana. Membuat Leon terheran dimana Misshel saat ini.
"Mr. Leon," sapa Timonty membuat Leon berbalik. "Cari, Misshel?" lanjutnya.
"Ah, iya dimana dia?"
"Barusan keluar--"
"Keluar?"
"Iya. Katanya ada urusan sebentar," jelas Timonty mengulang pesan Misshel.
Garis halus nampak di dahi Leon seakan ia tengah memikirkan sesuatu.
"Ada yang bisa saya bantu?" tawar Timonty mengulas senyum.
"Tidak ada."
Leon berlalu meninggalkan Timonty disana. Dalam benaknya bertanya-tanya, bagaimana bisa barusan Misshel keluar tetapi tak bertemu dengannya. Yang mana seketika Leon lupa dengan adanya tangga darurat.
Sesampainya di ruang kerja Leon terlihat tak tenang. Dengan kedua netranya fokus ke layar ponsel serta jari tangannya sibuk mengetik pesan yang ia tujukan kepada Denisa dan juga Misshel.
Rencana makan siang harus berjalan dengan sempurna. Seperti halnya yang pernah mereka bicarakan sebelumnya. Leon sangat berharap Misshel akan membantu dirinya untuk membujuk omanya.
Waktu terasa lambat bagi Leon, membuatnya tak bisa fokus dengan pekerjaannya sendiri. Berkali-kali Leon menghubungi Misshel lewat telepon kantor namun hasilnya sama. Misshel tak ada di tempatnya. Jantungnya berdebar, ia merasa gelisah. Berkali juga memijat pelipisnya yang terasa pening. Yang pasti ia tak ingin rencana yang ia susun jauh hari berakhir berantakan.
"Sayang," sapa Denisa yang terlihat lebih ceria. Namun seketika piasnya berubah heran melihat kekasihnya yang terlihat seperti tidak baik saja. "Are you oke?"
Leon mengembuskan nafas lalu menjawab, "Tak apa. Aku hanya nggak bisa konsentrasi dengan pekerjaan."
"Kamu pasti lelah. Kenapa nggak nyuruh bantu sekertaris kamu itu?"
Leon menggeleng. "Misshel nggak masuk hari ini."
Denisa tertawa kecil. "Yang dikata rajin itu nggak masuk? Apa dia sakit? Sakit apa?"
Leon menggeleng seraya mengedikkan bahu.
Jangan pikir Denisa benar-benar peduli. Dia hanya sekedar basa-basi. Setidaknya Misshel mempunyai peranan penting dalam hubungannya saat ini. Untuk itu tak masalah jika ia memanfaatkan kemampuannya di dunia keartisan ke dunia nyata. Peran Antagonis yang ia sandang sangat cocok untuknya.
"Kalau begitu, kita berangkat sekarang!" ajaknya tak sabar lagi.
"Tunggu! Kenapa harus terburu-buru? Bahkan aku baru duduk," protes Denisa enggan segera berdiri.
"Sebentar lagi jam makan siang. Oma selalu datang lebih awal. Dan aku nggak mau Oma menungguku," terangnya sambil melihat jarum jam tangan.
"Sayang, masih ada waktu tiga puluh menit. Paling nggak, lima menit lagi lah kita berangkat. Aku masih capek loh ini! Selesai sesi pemotretan langsung kesini. Kasih waktu napas bentar, dong?" Nampak riasan Denisa serta tatanan rambutnya yang masih rapih. Ia hanya sempat berganti baju tak sempat juga menghapus riasan pada wajahnya.
"Baiklah. Lebih baik hapus make up kamu. Oma lebih suka yang natural tanpa bedak tebal. Setelah itu, baru kita berangkat," jelasnya lalu mencoba menghubungi Misshel lewat ponselnya.
Denisa mengeryit dengan bibir mengerucut. "Hapus pakai apa? Aku nggak bawa apa-apa. Namanya artis wajar saja pakai make up. Aku yakin, Oma bisa memaklumi."
Namun tak ada tanda Leon ingin merespon. Ia terlihat sibuk dengan ponselnya membuat Denisa sebal mendengus kesal.
"Sayang!" teriak Denisa.
"Hmm..." sahut Leon tenang serta masih fokus pada ponselnya.
"Kamu denger nggak sih! Jangan bikin moodku jelek, dong!" sungut Denisa merajuk.
"Iya, maaf," sesalnya kemudian menyimpan ponselnya kedalam saku celana.
Tak lama pun Leon berdiri menghampiri Denisa lalu menarik tangan kekasihnya itu.
"Kita berangkat sekarang. Jangan sampai terlambat, Oma bisa marah."
Denisa terhenyak langsung berdiri seiring Leon menariknya lalu membawanya keluar. Dimana janji temu dengan sang oma tepat jam dua belas siang di Samudra Resto. Tak jauh dari Morine Corporation.
Sepanjang perjalanan menuju Samudra Resto, Denisa hanya diam. Ia paham bukan waktunya untuk protes ataupun memberi saran. Hanya butuh waktu lima belas menit mereka sampai di pelataran parkir. Dengan gesit Leon melepas seat belt yang melingkar di tubuhnya. Namun gerakannya terhenti saat ia akan membuka pintu mobil.
"Sayang. Aku deg deg'kan." Denisa terlihat cemas.
"Tenang saja, kan ada aku."
Kemudian Leon turun bersamaan dengan Denisa membuka pintu mobil sebelah. Bukan untuk pertama kalinya Leon menggandeng Denisa di depan umum. Namun tetap saja ia merasa tak nyaman dengan sorot mata pengunjung saat ia memasuki restoran itu. Terlihat pengunjung yang tengah berbisik dengan lawan bicaranya. Ada juga yang tersenyum dengan siap siaga memasang camera ponselnya hanya sekedar mengambil gambar. Persis seperti yang kemarin.
"Kita duduk dimana?" tanya Denisa mulai mengabaikan sorot kamera yang jelas mengekspos keberadaannya.
"Disana saja." Leon menunjuk meja yang sedikit jauh dari pengunjung lain.
Seperti apa yang Leon katakan. Tak lama Hellen Morine datang lebih awal dari jam yang mereka tentukan. Namun ia tidak sendiri. Terlihat seseorang tengah mengikutinya dari belakang.
"Misshel," gumam Leon terheran. Sebab berulang kali ia mencoba menghubunginya tak ada jawaban. Bahkan sekedar balasan darinya.
Nampaknya tadi Misshel absen karena permintaan sang oma. Leon baru memahami itu. Kemudian ia menghela nafas lega melihat kehadiran Misshel saat ini.
"Kita lihat saja. Dia bisa di andalin, apa enggak! Awas aja kalau memperumit keadaan!" gerutu Denisa.
Leon sedikit melirik kearah Denisa. Walaupun lirih ia masih bisa mendengar apa yang kekasihnya katakan.
"Kita sendiri yang harus bisa meyakinkan Oma. Bukan Misshel," belanya lalu tersenyum menyambut kedatangan sang oma yang semakin mendekat.
Hellen mendudukkan diri tanpa melihat kearah Denisa yang duduk tepat di samping Leon.
"Apa aku terlambat?" tanya Hellen lalu mendudukkan diri, "Duduklah di sampingku," lanjutnya kepada Misshel.
Misshel mengangguk lalu mendudukkan diri sesuai permintaan Hellen Morine.
"Oma mana pernah terlambat. Kalau ada reward datang tepat waktu, Oma pasti yang nomor satu," puji Leon tersenyum pun merasa bangga.
Hellen menggeleng pelan lalu berkata, "Kamu selalu begitu. Tetapi kenapa masih saja tak memperdulikan kata-kata Oma?"
Leon terdiam. Ia paham apa yang di maksut omanya. Ia pun menoleh kearah Denisa yang juga tengah menatapnya. Sedetik kemudian keduanya mengulas senyum kearah Hellen Morine. Sedangkan Misshel hanya memperhatikan momen langka yang ada di hadapannya saat ini.
Bersambung...