Satu demi satu ruang kelas aku susuri, pilar pilar bergantian ku lewati, hingga akhirnya terlihat palang terbuat dari kayu menampilkan tulisan UKS (unit kesehatan sekolah). ketika aku sampai, aku pun tidak lupa memulai aktingku agar pihak penjaga uks tidak curiga. Devan yang mungkin tanggap dan tidak lupa tugasnya ke sini untuk mengantarku dan menyukseskan rencanaku dan tidak melakukan sesuatu untuk merusaknya, maka ia dengan sigap menampilkan gesture seperti membantuku. Saat kami benar benar memasuki pintu uks dan membuat mbak mbak penjaga uks berdiri, maka kami pun dengan cepat bertransformasi menjadi kedua orang yang memang habis menempuh perjalanan panjang dengan langkah terseok seok. Devan terlihat menunjukkan gesture sedang mengelap peluh, memberi isyarat bahwa ia sedikit lelah setelah membantu memapahku.
Dasar. Memangnya aku seberat itu apa? Sampai sampai hanya memapahku saja dia sok sok akting kayak habis bawa karung beras.
Kemudian aku berjalan mendekat ke arah tempat tidur yang ada di uks. Duh, nggak sabar untuk tidur dan bisa terlepas dan menjauh dari devan agar aku tidak perlu sibuk menyembunyikan wajahku yang tidak tahu harus bereaksi apa setiap dia menatapku, juga ingin berhenti dari kekhawatiran terkait jantungku yang sejak tadi berdetak tidak karuan, sebelum aku benar benar terkena penyakit jantung dan menambah daftar penerita cardiovaskuler desease di indonesia. Karena aku warga yang baik dan anak yang tidak akan membuat orang tua khawatir dengan terkena penyakit jantung di usia muda.
“kenapa ini?” sapa mbak mbak penjaga uks yang aku lupa namanya. Karena dia memang baru, menggantikan penjaga uks yang dulu.
Belum sempat aku menjawab, tiba tiba devan lebih dulu mengeluarkan suara “lagi mens mbak, makanya sakit dan nggak bisa ikut olahraga. Jadi istirahat di sini aja.”
Aku tercengang mendengar jawabannya. Antara kaget, lega, bersyukur, malu, ingin ngakak, dan penasaran! Dari mana ia dapat ide bahwa aku pms? Aku kan nggak pernah bicara soal skenario ini dengannya? Bahkan sejak tadi kami hanya saling diam seperti batu berjalan.
Mataku membelalak, begitu pula mbak penjaga uks. Saat mukaku memerah karena devan membahas hal yang menyangkut kaum cewek, mbak penjaga uks justru terkikik dan tersenyum penuh arti. Ia melemparkan pandangan kepada aku dan devan bergantian.
“perhatian banget ya pacarnya. Gini ya kalo pacarana sekelas. Jadi bisa saling perhatian.,” kata mbak penjaga itu sambil senyum senyum sendiri. Dari rautnya, dia seperti membayangkan masa SMA nya dulu, atau jangan jangan dia malah membayangkan adegan di drama drama korea? Di mana si cowok begitu perhatian dan keren banget sampai nganterin bagkan gendong si tokoh ceweknya kalau si cewek kenapa kenapa.
Sementara aku membelalak karena terkejut kuadrat, devan tidak bereaksi sama sekali. Dia hanya menunduk, kemudian berpamitan. “saya tinggal dulu ya mbak, mau ikut kelas.”
“Oh, iya iya! Nanti telat kamu. Nggak usah khawatir, pacarnya aman di sini. Aku jagain.” Kata mbak penjaga. Mbak… plis deh nggak usah sotoy dan berasumsi sendiri sampai bikin hatiku ini makin ngilu dengar bercandaan mbak. Sedih banget rasanya.
Devan berbalik dan hendak berjalan meninggalkan uks, ketika mbak penjaga memanggilnya. Membuat langkahnya terhenti. “loh, nggak pamitan dulu sama pacarnya? Masa langsung pergi itu aja? Pamit ke mbak doang? Pamit ke pacarnya juga dong yang penting.”
Aku yang merasa tidak enak pada devan, bermaksud untuk menyanggah dan mengoreksi anggapan mbak penjaga kepadaku. Supaya nggak makin ngelantur dan kemana mana. Namun, devan lebih dulu bersuara. “balik dulu ya tam..” kata devan singkat, kemudian benar benar meninggalkan ruang uks.
Kenapa dia nggak meralat pernyataan mbak ini? Dari jendela, aku melihat devan yang berlari ke arah lapangan. Dari kejauhan aku bisa melihatnya langsung mendekat ke arah pak joko, mungkin untuk melapor mengapa dia telat.
Ada gelenyar aneh dalam diriku. Antara lega, perasaan berterima kasih, namun juga rasa sedih yang entah karena apa. Sebelum larut terlalu lama dalam lamunan, mbak penjaga uks mengagetkanku dengan suaranya.
“keluhannya apa? Sakit perut?” tanyanya, sambil memeriksaku.
Aku mengangguk saja. Dan tanpa bicara banyak lagi, atau acting sebagai orang yang menderita kesakitan, mbak penjaga percaya saja. Mungkin karena mukaku yang sudah melas dan pucat karena mengalami kejadian bersama devan tadi? Entahlah, aku bersyukur saja tidak harus banyak acting maupun berinteraksi. Karena sejujurnya aku benar benar sudah jengah dan capek. Alih alih acting, aku kini benar benar merasa pusing. Mungkin tuhan memberiku azab karena ingin berbohong?
Maka aku pun mengalami pusing dan yang kuinginkan satu satunya hanya berbaring dan tertidur. Bahkan aku sudah pulas tertidur sebelum mbak penjaga sempat memberikan obat Pereda rasa nyeri kepadaku.
****
aku berada di gurun pasir. Gurunnya begitu luas. angin bertiup kencang, namun aku masih bisa melihat karena masih dalam taraf yang bisa dilewati manusia.
Aku berjalan. Terus berjalan meski tak tahu arah. Tenggorokanku terasa serak. Aku terus menatap lurus ke depan. Yang ada hanya hamparan gurun pasir tak berujung yang bertemu dengan matahari yang tengah bersinar begitu teriknya.
Aku terus berjalan. Perlahan aku menemukan jejak kaki. Jejak kaki yang semakin lama semakin kukejar. Hingga pada suatu titik, aku melihatnya. Aku menemukan sosoknya sebagai siluet yang berjalan ke arah tak berujung itu.
Ia terus berjalan tanpa menoleh ke arah manapun. Aku berteriak memanggilnya. Namun ia tidak juga menoleh. Aku berteriak lagi, kali ini lebih keras. Namun, ia tidak juga menoleh dan justru mempercepat langkahnya.
“Kak Bagas!!” aku memanggilnya keras keras, kali ini sambil berupaya mengejarnya.
Namun, ia tidak juga berpaling. Langkahnya selallu saja lebih cepat tidak peduli aku berlari mengejarnya susah payah. Mengejarnya hingga napasku tercekat. Mengejarnya hingga kaki ku serasa ingin patah, mengejarnya hingga panas pasir menyengat setiap jejak kulitku.
Putus asa, aku mengeluarkan air mata. Namun terus memanggil manggilnya meski semakin lama suaraku semakin lirih karena kehabisan tenaga dan suara semakin habis dan serak.
Tiba tiba badai pasir datang, hendak mendekat ke arahnya. Aku semakin berupaya untuk mengejarnya, dengan segala apa yang terisisa dari diriku, dan segala yang aku bisa. Aku ingin mengupayakan sekuat tenaga. Namun, tidak bisa.
Badai itu kian mendekat padanya. Aku berteriak…
“Tam! Tami!” aku masih mengejar, meski suara itu entah dari mana mengusik dan menggangguku. “Tami! Bangun! Bangun tam! Lo kenapa?”
Detik itu, mataku terbuka. Aku menatap sekeliling. Tidak ada sinar terik dari matahari, tidak ada gurun pasir, apalagi badai. Yang ada hanyalah dinding dari ruangan…. Dan … “hana?” aku bersuara.
“ke mana kak bagas?” lanjutku, hendak bangun dari tempat tidur.
“hah? Kak bagas? Maksud lo?” hana malah balik bertanya.
“kak bagas… barusan dia jalan jauh banget, gue nggak tau dia mau kemana.” Aku berseru panik.
“Tam! Lo itu mimpi… lo sekarang ada di uks. Kak bagas ada di rumah sakit.” Seru hana, ia mengoyak kedua bahuku dengan tangannya. Satu tangannya terasa dingin, menempel di bahuku. Rupanya dia sedang memegang plastic es jeruk.