Aku menunggu foto copy-an bahasa inggrisku selesai, duduk di lantai depan ruang foto copy berdua dengan Devan yang tengah mengutak-atik Hp-nya.
“Nand, apa bener Kak Bagas orangnya kayak gitu?” aku menatap Devan yang serius dengan Hp-nya.
“kayak gitu apanya?”Devan sama sekali tidak menatapku.
“apa Kak Bagas itu orang nggak bener?” aku membisikkan kata itu dengan pelan di telinga Devan.
“Tam,” ucap Devan, ia mulai menatapku.
Aku menatap Devan yang kali ini menatap lurus mataku. Devan terus menatap mataku tanpa mengatakan apapun. “apaan sih kamu Ris!” aku memalingkan wajahku, agar tidak melihat mata Devan yang tajam.
“hahaha, kamu ini.. diliatin gitu aja udah salting!” Devan menatapku geli.
Aku menatap Devan yang memasang muka aneh. “kamu udah nggak marah sama aku?” aku menjewer pipi Devan. Devan mengerutkan keningnya, sikap Devan benar-benar berubah hari ini.
“emang aku pernah marah sama kamu?”
“bukan marah sih, tapi ngambek! Kamu nggak pernah nyapa aku waktu di sekolah. Kalo kamu ke balkon kerjaannya cuma main gitar sama nyanyi, trus kamu ngomongnya sinis ke aku. Kenapa kamu sekarang tiba-tiba mau tertawa untukku?” aku menatap mata Devan lurus-lurus.
“karena kamu mau mendengarkan kata-kataku” ucap Devan singkat dengan menatap mataku tajam untuk kesekian kalinya. Aku hanya mengerutkan kening, juga dengan menatap mata Devan. “kamu selama ini nggak pernah percaya kayak gimana sesungguhnya Kak Bagas kan? Tapi sekarang kamu mengorek-ngorek kembali informasi itu.”
“emang Kak Bagas itu kayak gimana sih? Selama ini aku jadi pacarnya, aku hanya ngomongin diriku sendiri, aku benar-benar egois, aku tidak pernah memikirkan perasaan Kak Bagas” aku menundukkan kepalaku.
“lho, kok malah kamu nyalahin diri kamu sendiri sih? seharusnya kamu sadar sisi buruknya dia yang lebih besar dari pada sisi baiknya!” ucap Devan dengan nada meninggi.
“seharusnya kan aku lebih tau banyak dari pada kamu? Tapi kenapa kamu yakin kalo Kak Bagas itu cowok nggak bener?” aku menatap Devan penuh curiga.
“aku sering ngeliat dia keluyuran malem-malem” Devan menatapku penuh keyakinan. “nanti ikut aku”
Aku hanya bisa menundukkan kepalaku dan menahan tangisan, entah karena perilaku Kak Bagas atau karena aku bisa berbincang-bincang dengan Devan. Perasaan ini adalah perasaan yang nggak pernah aku mengerti.
“ini foto copy-annya, semuanya tiga ribu neng” tiba-tiba Pak Yon telah berdiri di hadapanku sambil menjulurkan kertas foto copy-an.
“oh, makasih Pak” aku menerima kertas sambil berdiri dan menendang Devan yang masih duduk di lantai menatap layar Hp-nya. Devan menatapku kesal. “mana uang foto copy nya?” aku meminta uang kepada Devan yang masih menatap Hp-nya.
“enak aja pake uangku, uangmu sana!” Devan berdiri sambil memasukkan Hp ke saku bajunya.
Aku melirik Devan sambil mengambil uang jajan ku di dalam saku baju seragamku. “makasih ya pak..” aku menyerahkan uang sambil senyam-senyum kepada Pak Yon.
“neng, kalau pacaran cek-cok itu masalah biasa.. jangan terlalu dipikirin” ngomong apa sih Pak Yon ini? Aneh!
Sebelum aku bisa menjawab perkataan aneh Pak Yon, tanganku sudah di Tamik oleh Devan meninggalkan ruang foto copy. Aku tidak bisa dan tidak ingin melepaskan genggaman tangan yang hangat ini. Tapi saat kami hampir sampai di kelas, Devan melepaskan genggamannya dan berjalan mendahului ku.
Aku masuk kedalam kelas yang sangat ramai dan duduk di meja kelompokku. Aku melihat Devan yang duduk di bawah ikut main poker lagi dengan semua cowok di kelompokku, sedangkan aku menyiapkan semua materi yang dibutuhkan kelompok ini.
Aku yang kesal menuju ke kelompok Hana yang berada di depan meja guru, sedangkan kelompokku berada di pojok kiri belakang dan agak gelap.
“hey, kenapa mukamu lusuh gitu?” Hana mengetahui kedatanganku yang lunglai menghampiri mejanya. Aku duduk di tengah-tengah kelompoknya yang sedang asyik mengerjakan tugas dari Pak Paul, berbeda dengan kelompokku. “kenapa kamu hey?”
Aku menoleh ke arah Hana yang menatapku khawatir. “kamu liat nggak kelompok itu?” aku menunjuk bawah meja kelompokku yang nampak empat cowok duduk bersila sambil memegang kartu. Hana menganggukkan kepalanya dan menatapku lagi. “mereka itu nggak ngapa-ngapain di kelompokku…” aku menangis sambil menatap Hana yang memandangku penuh rasa kasihan. “aku dari tadi capek, ngurusin semuanya sendiri” tak tahan aku langsung memeluk Hana yang dari tadi hanya diam sambil menepuk-nepuk bahu ku.
Krriingg.. krriingg.. krriingg..
Bel pulang berbunyi, aku segera bangkit dari meja kelompok Hana, dan bergegas menuju meja kelompokku.
“kamu dari mana aja sih!” baru saja aku mengemasi barangku, Devan sudah memarahiku.
“apa urusanmu” aku masih mengemasi barang-barangku tanpa menatap Devan yang sedang berdiri di depanku. “pulang dulu semua” aku mengangkat tasku, dan hendak meninggalkan meja kelompok. Namun Devan langsung menarik tasku hingga aku kembali mundur mendekati Devan.
“pulang denganku” bisik Devan. Aku menatap Devan yang sepertinya serius mengajakku pulang.
“tapi, aku udah janjian pulang bareng Kak Bagas” aku segera meninggalkan Devan, namun Devan menahan langkahku lagi.
“boleh aku nungguin kamu?” Devan menatap mataku. Aku hanya menganggukkan kepala dan berjalan keluar menuju pintu gerbang sekolah. Aku dan Devan duduk di bawah pohon cemara di depan sekolah.
Aku mengambil Hpku dan melihat waktu yang menunjukkan pukul dua lebih empat puluh lima menit. Berarti sudah lima belas menit aku menunggu Kak Bagas bersama Devan tanpa berbicara sepatah katapun.
“bukannya sekarang Kak Bagas nggak masuk?” tiba-tiba Devan mengagetkanku. Aku hanya mengerutkan kening dan mengangkat bahuku. “coba kamu telfon sekarang dia ada dimana, dari pada kamu nunggu nggak jelas kayak gini?”
Benar juga kata Devan, kenapa aku nggak pernah kepikiran ya?
Pip.. pip.. pip...
Aku menelfon Kak Bagas.
“halo?” kata suara dari seberang dengan suara yang nggak jelas.
“halo? Kak Bagas kan? Kak Bagas dimana?”
“iya aku Bagas, ini siapa?”
“ini aku Kak, Tami! Kakak dimana?”
“siapa sih lo, kalo nggak penting nggak usah telfon”
.
Tuutt.. tuutt.. tuutt...
Telepon dimatikan oleh Kak Bagas yang suaranya benar-benar nggak jelas. Aku bingung bercampur kesal kali ini.
“gimana? Kak Bagas di mana?” Devan langsung menanyaiku.
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan air mata yang ingin jatuh.
“lho, kenapa nangis, kalo Kak Bagas nggak ada, kamu bisa pulang denganku kok”
“bukan gitu, Kak Bagas sekarang udah nggak pernah nepatin janjinya lagi. Kami udah nggak pernah jalan bareng dalam dua minggu ini, Kak Bagas sekarang berubah” air mata sudah menetes dengan deras. Devan hanya menepuk-nepuk pundakku.
“ayo pulang!” Devan langsung berdiri dan menjulurkan tangan kanannya. Aku melihat Devan yang dengan tersenyum menjulurkan tangan itu, sudah lama Devan tidak pernah melakukan ini kepadaku. Aku menyambut tangan Devan, kemudian kami berjalan menuju tempat parkir sekolah.
Devan tidak membawa sepeda Ninja seperti milik Kak Bagas, hanya sepeda bebek biasa yang setiap hari dibawanya ke sekolah.
“kalo kali ini jalan dengan ku mau?” Devan tiba-tiba mengajukan pertanyaan saat ia menaiki sepeda motornya.
“maaf Ris, aku lagi pusing sekarang” aku menaiki sepeda motor Devan dengan sedih.
“nggak apa kok, nanti malam ikut aku ya?” Devan menghadap ke belakang, aku hanya tersenyum dan menganggukkan kepala.
**
Hari ini aku sedih bercampur senang. Sedih karena Kak Bagas nggak nepatin janji, senang karena Devan sudah tersenyum untukku lagi. Devan mengajakku keluar malam ini, kemana ya? Sekarang aku sedang berada di ruang makan, makan malam dengan keluargaku yang lengkap hari ini, Papa, Mama, Kak Yogi, Kak Rere dan aku. aku segera menghabiskan makananku dan segera menuju balkon kamarku menanti Devan keluar dari kamarnya.
Tidak lama setelah aku duduk di kursi balkon, Devan keluar dengan kaos berwarna abu-abu yang membuatnya semakin keren dan menenteng helmnya yang juga berwarna abu-abu. Devan memang mengatakan kalo menungguku di balkon rumah, kemudian Devan menyusulku.
“kita berangkat sekarang ya, kamu ganti baju gih” Devan mengatakan itu sambil tersenyum melihatku. Aku juga tersenyum, kemudian masuk kedalam kamar dang anti baju. Aku memilih memakai kaos berlengan panjang berwarna cokelat tua dan jeans selutut.
Aku menuruni tangga sambil senyam senyum, kemudian menuju ruang makan untuk berpaHanan dengan keluargaku. Nampak papa sedang mengupas pisang, mama sedang mengambil piring kotor diatas meja makan, Kak Yogi sedang memakan semangka, Kak Rere yang sedang menyuapkan ice cream chocolate magma kedalam mulutnya..
“mama, papa, kakak semua. Aku mau pergi dulu” aku berdiri di hadapn mereka yang menatapku semua.
“pergi dengan siapa?” Kak Rere langsung bertanya kepadaku.
“Devan, yaudah aku berangkat. Daahh” aku berlari keluar rumah tanpa menghiraukan keluargaku yang hanya senyam-senyum menatapku. Saat aku sudah keluar dari dalan rumah, nampak Devan sudah berada disana dengan sepeda motornya. “udah lama Ris?”
“enggak, ayo cepet”
“kita mau kemana sih?” aku memang tidak tahu akan dibawa kemana oleh Devan.
“tadi siang di sekolah, aku kan udah janji ngajak kamu ke tempat Kak Bagas nongkrong” kata Devan enteng.
Aku segera menaiki sepeda motor Devan masih bingung. aku tidak siap melihat Kak Bagas dengan tingkah buruknya, lebih baik aku nggak tau daripada aku sakit hati.
“Dev, aku nggak jadi ikut deh” aku mengatakan dengan suara pelan..
“kalo kamu nggak ikut, kamu nggak akan pernah tau Kak Bagas yang sesungguhnya! Apa kamu mau pacaran di tengah kebohongan kayak gini? Kalo kamu berhenti sekarang, kamu nggak akan tau apa yang akan terjadi besok Tam,” Devan mengatakan dengan bersungguh-sungguh.
Tapi benar juga kata Devan, aku harus menghadapi masa depan. Aku nggak boleh menyerah sampai disini, aku harus bisa mengahadapinya walau seperih apapun. Setelah Devan mengucapkan kata-kata itu, dia tidak mengatakan apapun lagi, hingga kami sampai di sebuah tempat nongkrong yang kebanyakan isinya cowok dan cewek nggak bener..
“kita udah sampai, aku masuk dulu, kamu tunggu di sini, ntar kalo kamu aku miss call, kamu segera masuk” Devan penuh percaya diri masuk kedalam tempat itu dan disambut dua cewek centil dengan baju ketat tanpa lengan berwarna hitam dan mengenakan jeans sangat pendek berwarna biru pucat, mungkin itu adalah seragam pekerjaan mereka.
Aku menunggu Devan cukup lama sekitar sepuluh menit. Tanpa berpikir panjang, aku segera masuk kedalam tempat menjijikkan itu. Aku juga di sambut dua cewek yang tadi menyambut Devan. Mereka menyunggingkan senyum bisnis kepadaku.
“silahkan masuk..” kata kedua cewek tersebut.
Aku segera masuk dengan tatapan jijik kepada dua cewek tersebut. Aku mencari sosok Devan disana, aku mengelilingi tempat yang penerangannya sangat minim. Aku semakin masuk kedalam tempat aneh ini, dan melihat Devan mengintip dari balik pintu. Aku mendekati Devan dan melihat arah matanya yang mengarah ke dalam ruangan yang lebih terang daripada tempatku berdiri sekarang.
Aku melihat sosok Kak Bagas yang hanya mengenakan jeans panjang tanpa mengenakan baju. Di depan Kak Bagas terdapat dua botol minuman keras yang sudah kosong dan satu botol lagi di tangannya. Dan juga terdapat obat-obatan terlarang yang tercecer diatas meja. Aku segera masuk dan menampar Kak Bagas yang masih tak mengetahui aku berdiri tegak di depannya.
Plaakk..
Aku tak tahan melihat Kak Bagas yang seperti itu, aku kasihan dengan raganya.
“Tami! Jangan!” Devan kaget melihat ku masuk dan menampar orang yang sedang mabuk. Aku melihat Devan yang akan masuk dan menarikku keluar dari ruangan itu, namun Kak Bagas lebih dulu menarikku duduk di pangkuannya.
“lepasin kak!” aku mencoba melepaskan genggaman tangan Kak Bagas sambil meneteskan air mata yang tak bisa berhenti keluar dari mataku. Devan juga menarik tanganku, namun genggaman tangan Kak Bagas lebih kuat.
“lepasin dia!” teriak Devan sambil menonjok wajah Kak Bagas. Kak Bagas terdorong sehingga melepaskan tangannya. Aku terlempar di lantai, Devan segera mengangkatku berdiri. Namun tiba-tiba Kak Bagas juga berdiri sambil menonjok pipi kanan Devan hingga berdarah. Devan masih tak mau kalah dan menonjok pipi kanan Kak Bagas juga.
“udah udah, kalian berhenti!” teriakanku tidak menghentikan mereka berdua. Teriakanku malah mengundang orang untuk menyaksikan perkelahian nggak jelas itu, bukan untuk melerai mereka berdua.
Aku nggak tahan melihat mereka berdua berantem, aku memilih keluar dari tempat aneh itu. Aku mencari tukang ojek yang nongkrong di dekat tempat aneh itu, untung saja masih tersisa satu ojek yang usianya hampir sama dengan usia papa ku.
“ojek, ke perumahan teratai” aku segera menaiki sepeda motor tukang ojek dan meninggalkan Devan yang telah mengantarku. Saat aku berada di jalan bersama Pak Ojek tersebut, pikiranku telah melayang kemana-mana. Aku memikirkan keburukan Kak Bagas yang selama ini nggak pernah aku percaya. Tapi gimana mungkin, Kak Bagas itu pengurus osis bagian ketertiban, tapi tingkah lakunya di luar sekolah kayak gitu? Apa memang hanya aku yang nggak pernah ngerti tentang Kak Bagas? Apa hanya aku?
Aku sudah tak jauh dari rumahku, untung saja tukang ojeknya adalah orang baik-baik yang mengantarkanku sampai di depan rumah dengan selamat tanpa kurang suatu apapun.
“makasih pak” aku memberikan uang kepada pak ojek tersebut.
“mbak sering nongkrong di situ?” pak ojek menanyakan sesuatu setelah aku membayar ongkosnya. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan air mata. “mbak disitu mau ketemu sama temen?” pak ojek itu bertanya lagi, kali ini aku menganggukkan kepala kuat-kuat. “siapa ya mbak? Kok bisa sampai nangis gini mbaknya?”
“ah, tidak apa kok pak. Yaudah saya masuk dulu” aku tidak menjawab pertanyaan pak ojek tersebut dan memilih untuk segera masuk kedalam rumah. Aku membuka gerbang rumahku yang tidak di gembok. Tapi pintu rumahku terkunci rapat, sepertinya orangtua ku sedang keluar.
“Kak.. Kak Rere.. Kak Yogi.. bukain pintu” kataku, sambil menggedor-gedor pintu rumahku sendiri. Tapi tetap saja pintu rumahku tidak terbuka. Aku memilih untuk menelepon Kak Rere.
Pip.. pip.. pip..
“Hmm?” kata suara dari seberang.
“Kak Rere? Kak Rere dimana? Bukain pintunya dong!!” teriakku kepada Kak Rere yang menjawab telepon ku dengan santai.
“aku dirumah temen, tadi papa sama mama pergi ke rumah rekan bisnis papa”.
“Kak Yogi mana? Rumahnya kok di kunci?” teriakku lagi karena sebal.
“Kak Yogi tadi setelah makan malam, pergi lagi ke Bandung naik bus. Kenapa?” kata Kak Rere masih dengan santai dan cuek bebek.
“kok bisa kenapa? Tadi yang keluar terakhir kan Kak Rere! Kuncinya di Tamuh dimana?”
“dikantong”
“kantong? Kantong apa woy! Aku pingin cepet masuk rumah nih!”
“kantong celana yang kakak pake sekarang” Kak Rere masih saja bercanda dalam situasi darurat seperti ini. “udah, kamu tunggu aja di depan pintu, ntar kalo kakak udah pulang pintunya pasti kakak bukain. Janji deh!”.
“lho kak..”
Tuutt.. tuutt..
Belum selesai aku menjawab pernyataan sepihak dari Kak Rere, dia udah matiin telfonnya. Hari ini benar-benar menyebalkan! Aku benar-benar menunggu di depan pintu rumahku hingga pukul setengah sembilan malam, Kak Rere masih belum datang. Aku kedinginan akrena aku hanya memakai jeans pendek.
Tiba-tiba, kejadian tadi di tempat aneh muncul lagi di benakku. Kak Bagas yang meminum minuman keras dan memakai berbagai obat-obatan terlarang. Dia mabuk di depan mataku, bahkan tidak mengenaliku sebagai pacarnya. Air mata yang tadi hanya menetes di pipiku, sekarang sudah mengalir deras, aku tak kuasa untuk menahan rasa kecewa ini.
Tiin.. tiin.. tiinn..
Aku menatap gerbang rumahku tempat sumber suara klakson sepeda motor itu berbunyi, aku mengira Kak Rere datang untuk memberikan kunci rumahku. Ternyata Devan berlari mendekatiku dengan wajah yang penuh luka dan darah yang tidak hanya di wajahnya, tapi juga menetes di baju abu-abunya.
“Tami, kamu nggak apa kan?” Devan jongkok di depanku sambil menyeka air mata yang membasahi pipiku.
“kenapa tadi kamu berantem sama Kak Bagas?” air mata semakin tak bisa tertahan dan mengalir dengan seenaknya sendiri.
“aku nggak suka Kak Bagas ngelakuin hal seenaknya ke kamu! Apa saat aku ngelihat Kak Bagas ngelakuin macem-macem ke kamu aku hanya berdiri melihat kamu menangis? Enggak Ra!” Devan mendekatiku dan memelukku yang sedang menangis tersedu-sedu. Rasanya aku seperti mengulang berbagai kejadian bersama Devan yang sudah aku luapain.
Entah mengapa, tanganku juga membalas pelukan Devan dengan memeluk erat Devan yang sepertinya sangat mengkhawatirkanku.
“maafin aku Dev, selama ini aku nggak pernah percaya semua kata-katamu. Aku juga nggak pernah ngertiin perasaan kamu” aku benar-benar marah kepada Kak Bagas yang hanya mempermainkan perasaanku. Devan masih memelukku dengan kehangatan yang tak pernah aku dapat dari Kak Bagas.
“oh ya, kenapa kamu masih ada di sini? Apa nggak sebaiknya kamu masuk?” Devan melepaskan pelukannya dan menatapku. Dia tidak tau kalau pintu rumahku terkunci, dan kuncinya dibawa oleh Kak Rere yang super nyebelin itu.
“pintunya di kunci dan kuncinya berada di tangan Kak Rere”
“kalo gitu, aku boleh nemenin kamu dong?” Devan mencubit pipiku sambil menyunggingkan senyuman itu.