CEO TAMPAN DAN GADIS MISKIN 11
**
Acara makan siang berjalan dengan canggung dan kaku. Apalagi Andrew pandangannya tajam ke mereka berdua. Karina justru menganggap masa bodoh dan tidak ambil pusing. Karina bersama Dodi malah asyik sendiri. Dodi tampaknya pintar berakting. Dia beberapa kali membuat Karina tertawa. Kelakuan mereka mirip orang yang sedang jatuh cinta.
Clair hanya tertawa melihat wajah Andrew yang di tekuk. Gawai Clair bergetar dan untuk sesaat dia sibuk dengan gawainya. Setelah menenggak minumannya Clair membuka suara.
"Kayaknya aku nggak bisa lama lama ya. Sudah ditungguin nih. Maaf ya Karina aku tidak bisa ngobrol banyak denganmu."
"Tidak apa apa, Nona. Saya senang bisa mengenal nona Clair," lanjut Karina dengan mengulas senyum.
"Mau pulang sekarang, Clair. Ya sudah aku antar ya," ucapAndrew dan Clair mengangguk.
Hingga akhirnya mereka bangkit dari duduk lalu keluar dari Resto itu. Dodi dan Karina sudah hendak pergi tetapi Andrew menahannya.
"Clair kamu masuk ke mobil dulu saja ya!" Perintah Andrew.
Clair mengangguk, dia mengulas senyum ke Karina. Kemudian berjalan ke mobil.
"Aku mau bicara padamu. Ayo ikut!" ucap Andrew menarik tangan Karina.
Ia bahkan tidak mempedulikan Dodi disitu yang menjadi pasangan Karina. Dodi hanya nyengir. Karina mau tidak mau mengikuti kemauan Andrew.
"Ish … Tuan Andrew. Apa sih? Kalau mau bicara ya sudah bicara ditempat tadi aja! Kenapa harus bawa-bawa aku kesini sih. Lepaskan, Tuan! Genggaman mu terlalu erat di tanganku! Sakit tau!" protes Karina ketika tangan Andrew masih mencengkram pergelangannya.
Andrew yang kaget refleks melepaskan tangannya dengan kasar. Karina memegang tangannya yang memerah karena sikap kasar Andrew. Dalam hati wanita itu mendumel. Majikan sinting.
"Cepat pulang! Masih banyak pekerjaan rumah yang belum kamu selesaikan. jangan pergi-pergi lagi. Setelah mengantar Clair aku akan pulang ke rumah! Paham!" titah Andrew.
Karina bingung dengan sikap Andrew rasanya mirip seorang kekasih yang sedang cemburu tetapi mana mungkin. Apalagi Andrew cemburu padanya.
Karina memonyongkan bibirnya memikirkan hal tersebut. Tidak mau terlalu ambil pusing. Andrew hanya iri dengan kebahagiaannya yang akan jalan-jalan melepas lelah.
"Ia saya pulang. Saya pun tau kok dengan tanggung jawab saya tapi saya mau pergi sebentar dengan Dodi!" ujar Karina. Andrew mengeraskan rahangnya pertanda ia sedang kesal.
"Setelah ini tidak boleh kemana-mana. Pokoknya bila aku sampai di rumah kamu harus ada di sana. Paham kan! Ya sudah. Aku pergi karena Clair sudah menunggu. Ingat segera Pulang!"
Perkataan Andrew mirip nada memerintah. Karina hanya diam mematung mendengarnya. Andrew pun berlalu meninggalkan Karina. Andrew terus berjalan melewati Dodi yang masih menahan senyumnya. Andrew bahkan tidak mempedulikan Dodi disitu dan berjalan terus ke mobilnya hendak meninggalkan area Resto.
Sepeninggalan Andrew, Dodi menghampiri Karina yang masih terdiam di tempatnya karena perasaan bingung dengan sikap suka ngatur Andrew.
"Woii. Jangan melamun terus. Ayo pulang!" Tegur Dodi. Seketika Karina tersadar dari lamunan lamunannya.
"Ya, Dodi kamu sok romantis banget sih pake nyuapin aku segala lagi. Emang kalau makan dengan Silvia kamu selalu begitu ya?" tanya Karina masih heran sekaligus risih dengan sikap Dodi.
"Aku cuma mau lihat reaksi pria majikan mu Karin. Sepertinya bukan tanpa alasan ia mempekerjakan mu. Dia menyukaimu," ucap Dodi sambil nyengir kuda.
"Gila! Tidak mungkin. Jangan mengada ngada, Dodi. Kau saja tidak menyukaiku, mana mungkin dia kau katakan menyukaiku. Kau aneh sekali, Dod."
Karina sedikit terkejut dengan ucapan Dodi. Karina menggelengkan kepalanya tidak setuju.
"ya bagaimana pendapatmu saja. Tapi aku melihat dengan pandangan seorang pria ketika sedang cemburu. Aku yakin wanita cantik tadi bukan pacarnya," ucap Dodi seraya tersenyum.
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh, Dod. Ini uang yang ku janjikan, dan terima kasih sudah menolongku ya, Dodi," Kata Karina seraya memberikan amplop ke Dodi yang berisi uang. Dodi menerimanya dengan bahagia.
"Terima Kasih Karin. Pasti setelah ini Silvia akan senang deh. Ya udah setelah ini kita mau kemana. Udah selesai, 'kan? Aku mau jemput Silvia nih," kata Dodi seraya menaruh amplop tersebut didalam dompetnya.
"Ya. Sudah selesai kok. Aku akan pulang naik taksi atau bis."
"Kalau begitu hati hati ya, Rin."
Dodi berlalu pergi. Karina menarik nafas berat masih teringat ucapan Dodi bahwa Andrew menyukainya. Tidak Mungkin. Atas dasar apa dia berkata begitu? Jelas-jelas Andrew suka menghina dan mengejeknya. Mana mungkin pemikiran Dodi benar. Karina menggelengkan kepalanya sekaligus menepuk-nepuk kepalanya agar tersadar bahwa semua itu tidak benar.
**
Karina kembali ke rumah majikannya dengan gojek. Kalau naik bis dia harus berjalan ke kawasan elit rumah Andrew dan naik taksi lebih mahal. Apalagi Karina cuma pembantu yang sedang menabung buat S2 jadi harus lebih berhemat. Ia membuka gerbang mewah Andrew kemudian masuk ke rumah untuk kembali bekerja. Makin cepat pekerjaan selesai makin bagus bagi Karina.
"Dari mana saja?" Andrew mengagetkan. Jantung Karina tiba tiba berdetak tak karuan. Ada apa dengan dia? Padahal debaran seperti ini tidak pernah lagi ia rasakan.
"Tidak ada. Saya langsung pulang kok," ujar Karina dengan gugup.
"Kok lama. Pasti kamu jalan jalan lagi dengan dia, 'kan." tanya Andrew mau tau.
Karina terdiam sesaat dengan sikap Andrew. Kenapa sih suka sekali melarang nya ini dan itu? Tidak mungkin Andrew menyukainya seperti kata Dodi. Kekasihnya saja Clair, wanita yang sangat cantik sedangkan Karina sendiri cuma pembantu. Jangan berpikir yang tidak tidak Karin, cepat atur kembali jantungmu supaya berdetak nya normal. Apa kamu mau sakit hati lagi seperti dulu. Jangan menyukai pria apalagi seperti Andrew kamu akan kecewa. Dewi batin Karina berbicara.
"Tidak tuan dan mengapa sih tuan suka ngatur saya. Saya tahu kapan harus bekerja. Semuanya pasti saya kerjakan," sahut Karina mulai kesal.
"Sejak kapan kamu kenal dengan pria katro' itu" tanya Andrew kembali. Kedua tangannya disilangkan ke depan.
"Katro'? Apa maksud tuan,m! Jangan sembarangan bicara ya!" protes Karina kesal.
"Ya memang Katro', Kampungan," ujar Andrew sinis.
"Apa urusan anda sih. Biar saja dia Katro' seperti yang anda katakan,m. Yang penting dia baik" Ucapan Karina meninggi.
"Ya ya terserah deh. Kamu dan dia memang cocok sama sama …."
"Kampungan dan jelek, gitu," sela Karina makin kesal dan emosi. Melihat Karina mulai emosi Andrew justru bahagia. Dia juga merasa aneh mengapa membuat Karina mengeram kesal, jengkel dan marah membawa hiburan buat hatinya. Andrew menahan tawanya.
"Jangan mengurusi urusan saya tuan, urusan anda kan lebih penting, anda harus memperhatikan dan menyayangi kekasih anda, berubah lah agar kekasih anda betah dengan anda" Ucap Karina menasehati.
"Kenapa? Kamu tidak suka dengan Clair?" tanya Andrew penuh penekanan.
"Tidak, saya sangat suka. Dia sangat cantik dan baik juga berkelas jadi ya sebenarnya cocok dengan anda, Tuan. makanya mulai sekarang anda harus berubah menjadi baik dan jangan cerewet dan menyebalkan lagi!"
Karina terlihat gugup mengatakannya.
"Ya sudah aku pergi karena mau kembali ke kantor, ingat selesaikan semua pekerjaanmu dan jangan pergi, kamu mengerti!" Andrew berlalu meninggalkan Karina yang masih bingung juga kesal.
**
Didalam mobil Andrew merasa heran dengan dirinya. Ada apa dengannya? Mengapa mencampuri urusan gadis recehan tersebut? Tidak mungkin juga dia menyukai gadis recehan itu. Ihhh … Amit-amit deh. Andrew menghela nafasnya berat dan mulai memukul stir kemudi mobil sport nya. Dewa batinnya berbicara.
Mana mungkin sih aku menyukai gadis recehan yang jelek begitu. Apalagi dia sangat cocok dengan pria katro' itu, tapi bagaimana bila Karina pergi? Siapa yang akan memasak mencuci dan membersihkan rumah. Jujur sih, aku tidak mau orang lain yang mengerjakannya. Aku hanya ingin Karina yang mengerjakannya. duh bikin pusing, siapa sih laki laki yang dibawa Karina itu?Pokoknya Karina tidak boleh pergi dan berhenti bekerja. Dia bukannya menutup hatinya untuk lelaki manapun. Pasti si katro' bukan kekasih asli.
Bersambung