CEO TAMPAN DAN GADIS MISKIN 8.
**
"Bro, kok Karin bisa kerja disini sih?" tanya Miko ketika mereka berada diruang kerja pribadi Andrew.
"Ya karena sebenarnya gue kasihan sama dia. Mengais recehan ditengah jalan apalagi waktu gue tawarin uang dia nggak mau terima. Ya sudah supaya dia terima uang gue. Gue suruh aja dia bekerja sebagai pembantu." ujar Andrew mengangkat bahunya.
"Kok harus pembantu sih, Bro. Nggak kasihan lu sama dia? Apa jangan-jangan lu suka ya sama dia, makanya mau berdekatan terus." goda Miko.
"Ih, enggak lah. Panjang deh ceritanya. Yang pasti dia kerja bagus dan yang paling penting dia nggak suka nge-rayu gue kayak pembantu pembantu gue terdahulu dan pembantu-pembantu Mama. Gue senang dia kerja disini." tutur Andrew panjang lebar dan mendapat kekeh-an dari Miko.
"Ya deh tapi hati hati. Kalau hati nggak bisa ditipu pasti dia akan menemukan pasangannya." Miko menepuk pundak temannya. Andrew hanya mencibir.
*****
Malam hari tiba dan Andrew telah siap duduk di kursi makan kesayangannya. Seperti biasa Karina harus menaruh nasi dan lauk di piring majikannya. Setengah hati ia melakukannya kemudian bergegas pergi.
"Mau kemana kamu!" panggil Andrew.
"Kebelakang tuan. Tuan saya tidak haruskan menyuapi anda makan. Saya mau membereskan barang barang saya dan pulang." sela Karina yang masih berdiri di depan Andrew. Wanita itu memandang jengah majikan sintingnya.
"Kamu sudah makan?"
"Belum, saya makan di belakang seperti biasa." ujar Karina.
"Duduk."
"Hah!" Karina melongo.
"Ayo makan disini!"
"Tapi, 'kan. Tempat saya di belakang. Saya kan pembantu."
"Aku ragu, mungkin kamu menaruh sesuatu di makanan ini." gumam Andrew menunjuk lauk yang dimasak Karina.
"Maksud Tuan apa?" Karina mulai kesal.
"Ya mungkin saja kamu …."
"Menaruh racun gitu?" potong Karina kesal.
"Mengerikan. Kamu tega melakukan itu?" Ujar Andrew dengan wajah sulit diartikan.
"Selama ini kamu makan bagaimana?Apa ada sesuatu di makanan nya?" protes Karina mencebik kesal.
"Sebenarnya tidak."
"Tapi mengapa kamu curiga? Tuan yang terhormat." Karina sebal sementara sikap Andrew hanya santai.
"Mungkin saja kamu menaruh obat sakit perut supaya aku bolak balik ke kamar mandi," ucap Andrew santai. Namun, bagai tamparan keras bagi Karina.
"Aku bukan orang yang sejahat itu!" kata Karina ketus.
"Makanya kamu duduk disini dan cobain makanannya." Andrew menepuk kursi disebelahnya.
Karina duduk dengan raut wajah cemberut seraya berkata.
"Semoga apa yang kamu katakan benar, Tuan. Kamu benar benar sakit perut," kata Karina ketika sudah duduk.
"Kalau aku sakit kamu juga yang repot." ujar Andrew seraya menyendok kan makanan ke mulutnya. "Ayo makan, aku tidak mau makan sendiri. Kalau sakit biar kita sakit bersama."
Karina akhirnya mengambil piring dan lauk dan mulai makan.
"Ini tuan lihat aku makan, tidak ada apa apakan di makanannya!" Karina ketus.
"Kalau begitu makan yang banyak karena kamu harus punya tenaga yang kuat buat membersihkan rumah ini." Andrew menaruh lauk lagi ke piring Karina.
"Tuan, ini sudah malam, kamu mau memaksaku untuk bekerja. Aku mau pulang, tau!" protes Karina kembali.
"Ya. Aku paham mana mungkin menyuruhmu bekerja malam hari," kata Andrew santai.
Karina hanya mencibir dan sedikit berpikir. Majikan aneh kenapa menyuruhnya makan. Sok perhatian, menyuruh makan saja pake nuduh-nuduh menaruh obat di makanan nya. Karina membatin dalam hati.
Mereka makan dalam diam. Sesekali Karina melirik majikannya. Sungguh tampan. Wajah yang terpahat sempurna dengan tinggi yang sempurna serta kekayaan yang banyak diberikan Tuhan sebagai karunia kepadanya.
Berbeda dengan dirinya. Dengan wajah yang pas-pasan dan mungkin bisa dibilang jelek ditambah penampilan yang semrawut, serta miskin pula. Lengkaplah penderitaan Karina. Pantaslah semua pria yang disukai Karina pada lari.
Karina mulai memukul kecil kepalanya karena sudah berpikir yang tidak tidak. Sabar Karin, sabar, nggak semua orang di dunia ini hidup beruntung. Kamu harus kuat dan tidak boleh menyerah. Hidup tidak harus melulu harta kan? Kalau meninggal, harta juga tidak dibawa mati. Lagian majikan mu juga punya kekurangan. Ia sungguh cerewet pasti tidak ada seorang wanita pun betah dengannya. Karina membatin sambil tersenyum membenarkan perkataannya sendiri.
"Kenapa kamu kok mukul diri sendiri, tersenyum sendiri. Kayak orang stress. Apa kamu mulai mengagumi aku?" tebak Andrew memecahkan khayalan Karina.
"Of course not, jangan ke-geeran, Tuan."
"Bukan ke-geeran memang kenyataannya. Banyak wanita yang menyukaiku. Tahu kamu."
"Siapa? Setahuku kamu selalu sendiri. Makan pagi siang dan malam di rumah siapa wanita yang mau berdekatan denganmu. Kamu cerewet suka memerintah dan menyebalkan. Aku yakin semua wanita pasti lari kalau sudah mengenalmu." Karina mencebik dan tak kuasa lagi menahan kekesalan dalam hati.
"Hahaha, tentu saja tidak."
Dari tertawa Andrew kembali memasang wajah santai, lalu berkata lagi sambil menahan tawa.
"Kau sendiri, Bibi. Siapa pria yang mau dekat denganmu? Melihatmu mereka semua pasti lari. Wajahmu saja terlihat lebih tua dari usiamu." Andrew berusaha menahan tawa.
"Cukup. Jangan menghinaku. Aku punya pacar kok." jawab Karina asal.
Andrew terbatuk seketika mendengar penuturan Karina.
"Aku gak percaya. Kamu membohongiku 'kan."
"Kalau tidak percaya ya sudah, Tuan juga pasti menipuku. Anda sangat cerewet dan menyebalkan aku yakin semua wanita menolak anda," sahut Karina ketus.
"Baiklah. Kalau begitu besok bawa pacarmu makan siang di resto bersama ku. Aku juga akan membawa kekasihku. Kita lihat siapa yang berbohong." tantang Andrew. Seketika wajah Karina berubah pucat, pasalnya ia tidak punya pacar. Dia hanya bergurau agar Andrew tidak terus mengejeknya. Bukannya hatinya sudah ia tutup untuk pria manapun. Bagaimana mau membawa pacar ke hadapan Andrew."
"Kenapa diam. Kau pasti membohongiku, 'kan?"
"Bukan begitu, Tuan, hmmm … maksud saya …." Karina bingung mau berkata apa.
"Kamu membohongiku, 'kan? katakan saja bila tidak ada pria yang mau berdekatan denganmu " Andrew mengejek.
"Tidak kok. Baiklah aku dan pacarku akan datang memenuhi undangan mu. Namun kamu harus traktir karena kamu yang mengajak, Tuan" tantang Karina.
"Baiklah. Bukan masalah. Aku akan tunggu dan penasaran pria mana yang akan kamu bawa," ujar Andrew menahan tawa.
***
Karina tidak bisa tidur, ia mem-bolak balik badannya, ke kiri dan ke kanan. Namun, tetap tidak bisa tidur. Perasaannya tak karuan. Ia mengacak acak rambutnya frustasi. Ingin rasanya ia berteriak. Namun, masih ditahannya karena bisa saja warga datang dan mengira ada maling di kontrakannya.
Siapa yang akan diajaknya besok siang buat makan bersama Andrew dan pacarnya? Karina yakin pasti Andrew juga tidak punya pacar karena selama ini dia selalu betah di rumah. Tidak pernah sekalipun kekasihnya datang ke rumah.
Kalaupun ada yang datang itu hanya Miko teman Andrew. Namun Andrew kan tampan dan kaya, ia bisa saja dengan mudah mendapatkan pacar. Bagaimana dengan dirinya? Siapa yang mau Karina ajak, teman pria saja tidak ada. Rasanya Karina ingin nyemplung saja ke laut biar masalahnya selesai.
Dalam kegelisahan Karina mengingat satu nama yang pasti mau membantunya, walaupun harus merayu dan memohon Karina tersenyum sumringah, ia bahagia kalau pria ini mau membantunya agar majikan cerewet tidak akan lagi mengatainya. DODI….
Bersambung…