Empat Puluh Enam Dira termenung di dalam kamarnya seorang diri. Dia masih memikirkan keputusannya yang sudah diambilnya tadi. Mungkin benar apa yang dikatakan Hadrian, hidup ini bukanlah sebuah permainan judi. Karena menurut sang kakak, Dira seperti tengah mempertaruhkan hidupnya. Huft ... Dira menghembuskan nafas kasar. “Bismillah semoga ini yang terbaik. Semoga ucapan dan ungkapan cinta mas Akhtar bukan hanya sebatas kata-kata saja.” Ujar Dira bermonolog. Tidak ingin pikirannya semakin larut dan menduga-duga, Dira akhirnya merebahkan tubuhnya dan berusaha memejamkan kedua matanya. Sementara Akhtar yang baru saja tiba di rumah, langsung masuk ke dalam kamarnya. Dadanya terasa membuncah di penuhi euforia kebahagiaan. Akhtar merebahkan tubuhnya dan terlentang menatap langit-langit kama

