Empat Puluh Lima Dira mengikuti langkah Akhtar dengan langkah tergesa. Ia tidak bisa melangkah secepat dan selebar Akhtar yang berjalan di depannya. Akhtar membukakan pintu mobil untuk Dira. “Masuklah, mas antar kamu pulang,” Dira hanya mengangguk lalu masuk ke dalam mobil. Setelah Akhtar duduk di sampingnya Dira menatap lekat wajahnya. “Mas, lain kali jangan bersikap seperti itu. Apa lagi di tempat umum, tidak enak di lihat orang,” Akhtar menghembuskan nafas dalam lalu menjawab, “Maafkan Mas. Mas benar-benar cemburu tadi, sekali lagi maaf.” Ucap Akhtar penuh penyesalan. Dira tidak menyahuti ucapan Akhtar, raut wajahnya tampak kurang bersahabat. “Dir,” Akhtar meraih tangan Dira dan menautkan jemarinya. Dira melirik tautan jemari mereka, hatinya berdesir hangat membuat kedua pipinya

