Setelah selesai memanggang, Nick dan Allan menyajikan dua piring besar berisi daging panggang di atas meja. Semua orang yang ada di sana mulai mengambil satu per satu daging tersebut, begitu juga dengan Allan. Sementara Nick membawa sepiring daging panggang ke rumah, khusus untuk Castellia. Dia tidak ingin istrinya itu kelaparan.
Sesampainya di dapur, Nick meletakkan piring tersebut di atas meja makan lalu menutupnya. Saat hendak ke kamar mandi, Nick tak sengaja melihat Castellia keluar dari kamar. Ia pun tersenyum tanpa disadari Castellia. Pria itu membatalkan niatnya untuk ke kamar mandi dan memilih menunggu sang istri yang sedang menuruni anak tangga. Namun entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja tubuh Castellia oleng dan Nick dengan sigap menopang tubuh istrinya agar tidak jatuh ke lantai.
Jantung Nick serasa ingin lepas karena terkejut. Begitu juga Castellia. Keduanya saling bertatapan dalam jarak yang begitu dekat. Deru napas tak beraturan terdengar bersahutan. Castellia begitu terpesona dengan wajah suaminya yang sangat tampan dalam jarak sedekat ini. Ia baru menyadari ternyata suaminya seribu kali lipat lebih tampan dari Vincent. Selain tampan, Castellia juga mengakui bahwa Nick pria yang baik.
"Ada yang sakit?"
Pertanyaan Nick langsung membuyarkan lamunan Castellia. Ia mencoba untuk menjauh dari Nick, namun kaki sebelah kanan terasa ngilu saat digerakkan. Castellia pun meringis kesakitan dan membuat Nick panik.
"Kakinya sakit?" tanya Nick lagi.
Castellia hanya mengangguk sambil terduduk di anak tangga. Tangan kanannya mencoba mengurut pergelangan kaki kanannya sendiri. Nick turut duduk di samping Castellia dan memperhatikan pergelangan kaki istrinya.
"Boleh aku pijat?" Nick meminta persetujuan sebelum menyentuhnya.
Castellia menatap Nick yang sedang menunggu jawabannya. Sebenarnya, Castellia mau dipijat. Tapi rasa gengsinya terlalu tinggi, sehingga membuatnya menggeleng. "Tidak perlu. Aku bisa sendiri," jawabnya datar.
"Tapi nanti kakinya bengkak," ujar Nick dengan nada khawatir.
"Biarkan saja."
Castellia dengan segala keangkuhannya mencoba berdiri untuk meninggalkan Nick, namun hasilnya nihil. Dia hampir terjatuh lagi dan langsung berpegangan pada dinding tangga. Nick turut berdiri dan merangkul Castellia agar bisa masuk ke kamar. Tapi sepertinya, Castellia tidak mampu menapakkan kakinya dengan sempurna dan justru mengeluh kesakitan.
"Aku gendong ya," ujar Nick.
"Tidak perlu." Castellia masih bersikeras menolak bantuan Nick. "Kau pergi saja. Aku bisa sendiri," lanjutnya.
"Tapi kakimu masih sakit. Aku tidak bisa membiarkanmu melakukannya sendiri," kata Nick yang berusaha tetap sabar menghadapi sifat keras kepala Castellia. "Aku gendong ya."
Castellia mendecak kesal. "Terserah."
Nick menghela napas berat lalu menggendong Castellia. Jarak di antara mereka begitu dekat dan Castellia sendiri tidak bosan melihat ketampanan suaminya. Tanpa disadari oleh Nick, Castellia tersenyum sambil menatapnya. Wajah tampan, rahang tegas, badan kekar, dan berhati baik. Sikapnya juga begitu hangat sehingga membuat Castellia merasa sedikit nyaman berada di dekatnya. Hanya saja, Castellia terlalu ego untuk mengakui itu semua secara langsung.
Saat tiba di kamar, Nick langsung mendudukkan Castellia di tepi kasur. Setelahnya, Nick mengambil sebuah kotak P3K di laci nakas dan mengambil krim pereda rasa sakit di dalamnya. Kemudian, Nick setengah berlutut di hadapan Castellia sambil mengolesi krim tersebut di pergelangan kaki kanan istrinya. Sementara Castellia tersenyum melihat Nick begitu perhatian padanya. Ia baru menyadari hal itu hari ini.
Tanpa disadari, tangan kanan Castellia mengusap kepala Nick dengan lembut. Nick pun langsung mendongak menatap istrinya karena sedikit terkejut. Castellia yang menyadari hal itu sontak menjauhkan tangannya dari kepala Nick dan membuang muka karena malu. Nick kembali menatap pergelangan kaki istrinya sambil tersenyum bahagia.
Setelah selesai, Nick menaruh kembali krim tersebut ke tempat asalnya, lalu membantu Castellia untuk tidur di kasur. "Jika perlu sesuatu, panggil aku ya," ujar Nick.
Castellia hanya diam dan enggan menatap Nick. Entah kenapa ia masih malu dengan kejadian tadi. Nick pun sedikit gugup karena perlakuan istrinya tadi. Usapan di kepalanya seakan masih terasa sampai detik ini.
"Eum... aku keluar dulu ya," kata Nick. "Mau aku bawakan daging panggang ke kamar?"
"Tidak perlu."
Nick hanya mengangguk lalu hendak beranjak pergi dari kamar Castellia. Namun langkahnya kembali terhenti saat mendengar ucapan istrinya.
"Terima kasih," ucap Castellia tanpa menatap Nick.
Nick menoleh dan tersenyum. "Iya. Sama-sama."
Setelah memastikan Nick sudah keluar dari kamarnya, barulah Castellia bisa bernapas lega. Castellia mengumpati dirinya karena kejadian mengelus kepala suaminya tadi. Ia benar-benar malu. Pasti Nick berpikiran bahwa dirinya adalah wanita munafik.
"Argh!" Castellia menggeram frustrasi. "Kenapa aku seperti itu tadi?!"
Castellia mendecak lalu menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia masih tidak habis pikir dengan tangan lancangnya itu. Tapi jika diingat kembali, perlakuan Nick sangat manis. Bahkan senyumnya juga manis dan tulus. Tatapan sendunya membuat Castellia seakan dihipnotis selama beberapa detik.
"Dia baik dan perhatian," gumam Castellia dibalik selimut tebalnya. Bahkan ia tersenyum. "Vincent saja tidak pernah semanis itu padaku. Bahkan dia lebih sering mengutamakan pekerjaan dan teman dibanding aku. Sangat berbeda jauh dengan Nick."
Castellia menghela napas lalu menyibakkan selimutnya. Ia kembali duduk di atas kasur lalu memandang ke arah balkon kamar. Castellia turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah balkon, sedikit pincang namun tidak sesakit tadi. Krim itu cukup ampuh untuk meredakan nyeri pada pergelangan kakinya. Dari atas sana, ia melihat Nick dan teman-temannya sedang bersenda-gurau di taman. Pandangan Castellia tertuju pada Nick yang lebih banyak diam dan hanya merespon dengan senyuman. Bahkan ia sedikit terkejut saat ada wanita yang berusaha mendekati Nick, namun Nick segera menjauh dan mengabaikan wanita itu.
Senang?
Tentu saja Castellia senang. Meskipun hubungannya dengan Nick masih terbilang baru dan belum dekat, namun Nick masih menjaga perasaannya. Jarang sekali ada pria seperti Nick yang tampak cuek dengan wanita lain di sekitarnya.
"Mungkin Ayah benar. Harusnya sejak awal aku tidak memilih Vincent sebagai pasanganku. Mereka menjodohkanku dengan Nick, karena mereka tahu bahwa Nick adalah pria yang tepat untukku," gumam Castellia.
Tanpa sengaja, tatapan Castellia dan Nick bertemu. Sontak Castellia terkejut dan langsung memalingkan wajahnya. Astaga! Ketahuan lagi!
Sementara Nick merasa khawatir pada Castellia. Ia berpikir, istrinya memerlukan sesuatu. Atau mungkin Castellia sedang lapar? Hal itulah yang ada dipikiran Nick. Ia pun memutuskan untuk masuk ke dalam dan mengambilkan daging panggang beserta nasi untuk istrinya. Nick tidak ingin membiarkan istrinya kelaparan hanya karena pesta ulang tahunnya itu.
Nick mengetuk pintu kamar Castellia. "Istriku, boleh aku masuk?"
Castellia pun terkejut akan kehadiran Nick. Ia bingung harus apa. Castellia mencoba berjalan ke arah tempat tidur dan duduk di sana. Sekali lagi, ia mendengar ketukan pintu dari luar.
"Masuk!"
Setelah mendapat izin, Nick membuka pintu dan masuk ke dalam sambil membawa nampan berisi sepiring nasi, daging panggang dan segelas s**u untuk Castellia. Nick berharap, Castellia mau memakannya.
"Aku sudah siapkan daging panggang untukmu sejak tadi. Dimakan ya," ujar Nick sambil meletakkan nampan di atas nakas.
Castellia menatap makanan tersebut. "Kenapa repot-repot? Aku tidak minta."
"Aku memikirkanmu," jawab Nick jujur.
"Jadi, dia memikirkanku juga?" batin Castellia.
Nick menatap Castellia. "Suka tidak?"
"Aku akan makan nanti," jawab Castellia tanpa menatap lawan bicaranya. "Keluarlah. Aku masih mau istirahat."
Nick mengangguk lalu beranjak keluar dari kamar istrinya. Ia mencoba untuk memahami Castellia. Mungkin istrinya belum bisa menerima kehadiran dirinya untuk saat ini.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Pesta barbeque selesai dan teman-teman Nick pamit pulang. Beberapa dari mereka menanyakan keberadaan Castellia, namun Allan yang menjawabnya. Itu sebabnya mereka mengerti dan langsung bergegas pulang ke rumah masing-masing. Sementara Allan masih menetap untuk membantu Nick membersihkan panggangan serta sisa makanan dan minuman di meja taman.
Allan menatap Nick yang membersihkan panggangan. "Apa istrimu sudah makan?"
"Aku rasa sudah. Tadi aku mengantar makanan ke kamarnya," jawab Nick sambil tetap fokus membersihkan panggangan.
"Nick," panggil Allan.
"Hhm?"
Allan menghela napas sejenak. "Jika terjadi sesuatu di antara kalian, cepat selesaikan. Jangan membiarkan masalah itu berlanjut. Aku hanya memberi saran agar hubungan kalian baik-baik saja."
Tangan Nick berhenti membersihkan panggangannya lalu menatap Allan. Nick merasa, Allan mulai curiga dengan kondisi pernikahannya. "Terima kasih sarannya," ucapnya demikian.
"Iya," balas Allan sambil tersenyum. "Aku cuci piring ini dulu ya."
Nick mengangguk dan membiarkan Allan masuk ke dalam rumahnya. Seketika, ucapan Allan terngiang di pikirannya. Apa yang dikatakan Allan memang benar. Harusnya ia berusaha mendekati Castellia dan terus berinteraksi dengannya. Bagaimana Castellia akan menyukainya jika Nick terus menjaga jarak hanya karena janjinya itu?
"Tapi, aku yakin, Castellia tidak akan nyaman jika aku terus mendekatinya," batin Nick berkecamuk.
To be continue~