Bab 4

1234 Kata
Seharian ini, Nick tampak gelisah. Pasalnya, ia tidak bisa lagi menolak keinginan rekan-rekannya itu. Mungkin mereka begitu penasaran dengan Castellia, sehingga memaksa untuk mengadakan pesta di rumah Nick. Tapi Nick tidak yakin bisa membujuk Castellia untuk keluar dari kamar. Apa yang harus Nick lakukan? Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, yang artinya jam kantor sudah selesai. Michael, Allan dan rekan lainnya sudah menunggu Nick di parkiran. Nick sendiri masih berada di dalam ruangannya dengan perasaan yang tak menentu. Pikirannya benar-benar kacau. Bagaimana jika mereka tahu tentang masalah di pernikahannya? "Dimana Nick?" tanya Michael pada Allan. "Tadi masih di ruangan," jawab Allan sekedarnya sambil tetap fokus memainkan ponselnya. Allan memang sedikit malas untuk ikut serta. Dia merasa, ada sesuatu yang disembunyikan Nick, namun Nick tidak ingin mengatakan pada siapapun. "Astaga! Ini sudah jam berapa?" gerutu Michael. Allan menghela napas. "Sebaiknya kita batalkan saja. Jangan memaksanya." "Tapi ini ulang tahunnya. Tentu kita harus merayakannya," ujar Michael bersikeras. "Terserah saja." Allan sudah terlanjur malas berdebat dengan Michael. Rekannya itu memang sangat keras kepala dan selalu ingin tahu tentang kehidupan semua orang, terutama kehidupan Nick. Entah itu karena dia peduli, atau hanya sekedar untuk mencari bahan gosipan. Michael itu memang terkenal selalu bergosip dan sering keceplosan dalam berbicara. Itu sebabnya, Allan dan Nick enggan bercerita pada Michael tentang hal apapun. Tak lama setelah Michael mendecak kesal berulang kali, Nick pun keluar dari kantornya dan menghampiri rekan-rekannya. "Maaf, aku harus menyusun beberapa file dulu," ucapnya merasa tidak enak. "Ya, tidak apa-apa. Lagi pula, kami sudah terbiasa me-nung-gu." Michael mengoceh sambil menekan kata 'menunggu' sebagai ungkapan kekesalannya pada Nick. Selain cerewet dan suka bergosip, Michael sangat tidak sabaran dalam segala hal. "Maaf ya," ucap Nick dengan nada penyesalan. "Sudahlah, Nick. Biarkan saja dia. Ayo, kita ke rumahmu!" ajak Allan dan mengabaikan sungutan Michael. Akhirnya, semua rekan Nick ikut bersamanya untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-29 tahun. Menikah dengan Castellia di usia 28 tahun dan sekarang usianya sudah bertambah lagi. Tidak terasa, Nick sudah semakin tua saja. Tapi wajah tetap kelihatan muda. Bahkan Michael sampai iri pada wajah tampan Nick yang selalu berseri dan memikat perhatian wanita. Beberapa menit kemudian, mereka sampai di rumah besar Nick dan beberapa dari mereka mulai duduk di kursi taman sambil melihat ikan-ikan di kolam kecil. Michael memilih untuk berfoto bersama yang lainnya, sedangkan Allan ikut masuk ke rumah bersama Nick. Saat masuk pertama kalinya, Allan sedikit mengerutkan keningnya. Rumah terasa sunyi dan Castellia tidak terlihat di sana. Allan masih diam sambil mengikuti Nick menuju dapur. Allan membantu Nick menyiapkan semuanya. Minuman dan beberapa makanan ringan pun Allan siapkan. Sementara Nick menyiapkan daging dan memarinasinya karena mereka nanti akan membuat pesta barbeque di taman. "Aku antarkan ini dulu ya," ujar Allan sambil membawa nampan berisi minuman dan makanan ringan. Nick hanya mengangguk sebagai jawabannya. Saat sedang memarinasi, Nick melirik ke arah kamar Castellia di lantai dua. Dia bingung. Haruskah dirinya meminta Castellia untuk menemui rekan kerjanya? Tapi dia sudah berjanji tidak akan memaksa istrinya dalam hal apapun. Nick tidak tahu lagi harus menjawab apa jika nanti rekannya bertanya tentang Castellia. Sementara Allan, menjadi sasaran Michael sekarang. Michael menanyakan tentang istri Nick. Allah sendiri merasa kesal dengan temannya itu. "Apa kau sudah bertemu dengan istrinya?" tanya Michael begitu antusias. "Sudah." Allan berbohong. Michael semakin merapatkan posisi duduknya untuk menggali informasi lebih banyak lagi tentang Castellia. "Bagaimana? Cantik tidak?" "Cantik. Sangaaaaaat cantik," jawab Allan, mencoba menahan amarahnya. "Wah, itu bagus. Aku tahu, selera Nick tidak mungkin rendahan," ujar Michael yang semakin bersemangat. "Pantas saja dia tidak punya pasangan sampai puluhan tahun. Ternyata dia punya selera yang tinggi dan mencari yang sesuai dengan kriterianya." Allan memutar matanya malas. "Ya, selera Nick memang tinggi. Tidak seperti kau, yang berkencan dengan seorang.... Ah! Tidak jadi." "Hei! Jangan mengungkit masa laluku!" Allan hanya mendengus sambil memakan makanan ringan yang dibawanya tadi. Sementara Michael bersungut lalu meminum jus jeruk yang disediakan. Castellia melihat dari balkon kamar. Ia terkejut ada banyak orang di sana. Lantas ia keluar dari kamar dan mendapati Nick yang baru saja keluar dari dapur. Mereka saling bertatapan dalam diam. Castellia hanya terkejut, sedangkan Nick berusaha menetralkan detak jantungnya yang berdetak tidak karuan saat melihat Castellia. Castellia tersadar lalu hendak kembali ke kamar. Nick pun langsung memanggilnya, hanya untuk menanyakan sesuatu. "Istriku," panggil Nick lembut. Castellia menatap Nick. "Apa?" "Ehm.... Teman kantorku datang. Mereka ingin merayakan ulang tahunku malam ini," ujar Nick sedikit gugup. "Lalu?" "Ehm...." "Apa?" tanya Castellia dengan nada datar. "Bisakah kau... menemui mereka? Sebentar saja." Castellia diam lalu menggeleng. "Aku sibuk." "Oh, oke. Tidak apa-apa," ucap Nick sedikit kecewa. Saat Castellia hendak menaiki tangga, Allan tiba-tiba masuk ke dalam dan langsung menyapa Castellia. Istri Nick itu langsung menoleh tanpa tersenyum sedikitpun. Nick di sana sudah merasa cemas karena tidak tahu harus membuat alasan apa jika Allan bertanya nanti. "Nona Castellia?" Castellia hanya mengangguk sambil melirik Nick, seolah memberi isyarat agar suaminya itu segera membuat alasan. Ia sedang tidak ingin bertemu dengan siapapun. Perasaannya masih kacau dan tidak ada yang bisa menghiburnya, kecuali drama Korea. "Perkenalkan aku, Allan. Teman kerja Nick," ujar Allan ramah. "Salam kenal," jawab Castellia sekedarnya. "Salam kenal juga, Nona." "Ehm.... Istriku, sebaiknya kau istirahat saja di kamar. Biar aku saja yang menemani mereka," kata Nick pada Castellia. Ini alasannya agar rekannya tidak memaksa untuk bertemu dengan Castellia. "Ah, istrimu sakit, Nick?" tanya Allan. Nick mengangguk. "Iya. Makanya tadi aku ragu untuk pesta di sini." "Sudah, jangan dipikirkan. Aku yang akan menjelaskan pada mereka," ujar Allan. Castellia pun masuk ke kamar, meninggalkan Nick dan Allan. Allan memutuskan untuk kembali ke taman, sedangkan Nick masih berdiam diri di dekat tangga. Tatapannya masih tertuju pada pintu kamar Castellia. Nick benar-benar merasa bersalah dengan keputusan yang ia ambil. Tapi, inilah takdir yang harus dijalani mereka berdua. Nick menghela napas panjang sejenak, lalu bergegas menuju taman. Hari semakin senja dan dia harus segera memanggang daging yang sudah ia marinasi tadi. Nick berencana menyisakan sebagian daging panggangnya nanti untuk sang istri. Saat berada di taman, Nick dan yang lainnya sudah mempersiapkan panggangan. Kali ini, Nick yang memanggang, dibantu oleh Allan. Sementara Michael dan teman lainnya sibuk bercerita sambil menikmati minuman dan beberapa camilan. "Nick," panggil Allan. "Hhm?" Allan diam sejenak. Seolah ragu untuk mengatakan sesuatu pada Nick. Nick pun melihat Allan karena tak kunjung mendengar ucapannya. Ia bahkan mengerutkan keningnya. "Ada apa?" tanya Nick penasaran. Allan menghela napas. "Sebenarnya aku... tidak ingin menanyakan ini. Tapi... aku merasa ada yang aneh." "Aneh apanya?" Nick masih tidak mengerti maksud Allan. "Soal apa?" "Soal pernikahanmu," jawab Allan. DEG! Nick langsung terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa. Ini hal yang sangat privasi baginya. Nick juga tidak ingin orang lain tahu bagaimana kondisi rumah tangganya. Allan yang menangkap ekspresi Nick pun langsung merasa bersalah. Harusnya ia tidak menanyakan tentang hal itu. Hanya saja, Allan merasa ada yang tidak beres dalam rumah tangga sahabatnya itu. "Tidak perlu dijawab, Nick," ujar Allan sambil membolak-balik daging yang sedang dipanggang. "Mungkin hanya firasatku saja. Tidak perlu dipikirkan." Nick menatap Allan lalu mengangguk. "Suatu saat, akan aku ceritakan." "Tidak, Nick. Itu privasi-mu," tolak Allan. "Aku saja yang terlalu lancang menanyakan hal itu padamu. Pernikahanmu adalah urusanmu. Aku tidak berhak tahu apapun di dalamnya." Nick tersenyum. Ia merasa bangga memiliki sahabat seperti Allan yang selalu mengerti apapun kondisinya. Allan juga tidak pernah memaksa Nick untuk mengatakan semua hal tentang kehidupannya. Sungguh berbanding terbalik dengan Michael yang serba ingin tahu. "Terima kasih," ucap Nick. Allan hanya mengangguk sebagai balasannya. To be continue~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN