Bab 3

1356 Kata
Pagi ini, Nick keluar dari kamar mandi yang ada di dapur. Ia baru saja selesai mandi dan akan bersiap untuk segera ke kantor. Ia masih belum menyadari jika jajanan yang ia belikan semalam sudah diambil oleh Castellia. Saat Nick mendengar bel rumah berbunyi, barulah ia menoleh sekilas ke arah pintu kamar istrinya. Senyumnya terukir begitu indah dan dengan penuh semangat ia melangkah menuju pintu utama untuk melihat siapa yang datang. Dan saat pintu terbuka, Nick langsung dikejutkan oleh seruan Katharina bersama kedua orang tuanya sambil membawa sebuah kue tar rasa cokelat. Keluarga Nick kompak menyanyikan lagu ulang tahun untuk Nick. Mereka juga mengucapkan selamat dan mendoakan Nick, terutama soal momongan. Nick sendiri masih begitu syok dengan kejutan ini. Sejujurnya, ia sendiri lupa jika hari ini adalah ulang tahunnya. Mungkin karena terlalu sibuk, jadi ia tidak mengingat tanggal. Atau bahkan tidak sempat untuk melihat kalender? "Ayo tiup lilinnya, Kak!" Katharina orang yang paling bersemangat hari ini. "Sebelum ditiup, make a wish dulu," lanjutnya. Nick hanya tersenyum lalu menutup kedua matanya dan memohon sesuatu pada Tuhan. Aku hanya ingin beban di hati Castellia berkurang. Tapi jika Tuhan berkenan, bukalah hati Castellia agar dia menerimaku. Batin Nick. Setelah berdoa dalam hati, Nick meniup lilin tersebut dan mendapat sorakan serta tepuk tangan dari keluarganya. Berkat keriuhan itu, Castellia terbangun dari tidur lelapnya dan mendecak kesal. Castellia turun dari ranjang kemudian berjalan menuju pintu. Ia membuka sedikit pintu kamarnya dan mengintip. Castellia mendengus kesal setelah melihat apa yang terjadi. "Satu orang ulang tahun, tapi berisiknya seperti sedang pesta besar saja. Menyebalkan," gumamnya lalu menutup kembali pintu tersebut. Menyadari ketidakhadiran Castellia, Katharina pun celingukan untuk mencari teman seprofesi sekaligus kakak iparnya itu. Ia mengernyit heran lalu menyenggol lengan Nick seraya berbisik, "Castellia mana, Kak?" "Ada di kamar," jawab Nick pelan. "Oh, belum bangun?" tanya Katharina. Nick mengangguk. "Kelelahan." Katharina pun mengangguk-angguk paham lalu duduk di sofa, berdampingan dengan ibunya. Nick izin untuk mengambil minuman di dapur. Ia harus melayani keluarganya yang sudah bersusah-payah membuat kejutan untuknya. Tak lama, Nick kembali ke ruang tamu sambil membawa nampan berisi beberapa minuman dingin dan camilan ringan untuk keluarganya. Setelah menyuguhkan sajiannya, Nick pun duduk di samping ayahnya. "Dimana istrimu, Nick?" Pertanyaan sang ibu membuat Nick sedikit gugup. Tapi sebisa mungkin ia menutupinya agar keluarganya tidak curiga pada pernikahannya. "Dia ada di kamar, Bu," jawabnya. "Sudah jam tujuh, masih di kamar?" tanya ayahnya. Katharina terkekeh. "Ayah, mereka masih pengantin baru. Jadi wajar kalau kakak ipar belum bangun jam segini. Ayah kan juga pernah muda." Ucapan Katharina sontak mengundang tawa kedua orang tuanya, sementara Nick hanya tersenyum canggung dan sedikit malu. Padahal ia sama sekali belum melakukan hal yang dituduhkan Katharina. Mungkin Nick harus bersabar dalam waktu yang lama, sampai Castellia benar-benar menerimanya. "Kau benar, Kath. Lagipula, kita juga tidak bisa lama-lama, karena kau harus kerja," ujar sang ibu sambil tersenyum pada Nick. "Iya, Bu. Kebetulan hari ini ada rapat penting," kata Nick. "Tadinya mau pergi lebih awal. Tapi kalian sudah memberiku kejutan. Jadi, aku tidak mungkin melewatkan kesempatan ini." Ayahnya menepuk pundak Nick. "Jangan terlalu sibuk. Pikirkan kesehatanmu dan beri perhatian pada istrimu. Dengan begitu, hubungan kalian akan harmonis, seperti ayah dan ibu." Nick hanya tersenyum dan mengangguk. Ia tahu bahwa itu tidak mungkin terjadi dalam pernikahannya. Castellia tidak akan pernah menerimanya. Begitulah yang dipikirkan Nick setelah menikah. "Kalau begitu, kami langsung pulang ya. Kau jaga diri baik-baik dan jangan sakiti istrimu," ucap sang ayah sambil berdiri dan memeluk Nick yang ikut berdiri. "Baik, Ayah." Ketiga orang tersebut pun berpamitan dan bergegas kembali ke aktivitasnya masing-masing. Nick membereskan makanan yang ada di meja ruang tamu dan menyimpan kue tar tersebut di dalam lemari es. Setelah memastikan semuanya rapi, Nick langsung mengambil tas dan jas berwarna hitamnya dari dalam kamar. Tak lupa pula ia berpamitan pada Castellia meskipun tidak mendapat sahutan sama sekali. "Istriku, aku berangkat ya. Jangan telat makan. Aku sudah siapkan semuanya untukmu," ujar Nick. Ia tersenyum getir lalu beranjak pergi menuju kantornya. Tak lama Nick pergi, Castellia keluar dari kamar sambil membawa sebungkus roti tawar beserta selai kacang kesukaannya. Roti yang dibelikan oleh suaminya waktu itu. Saat menuju meja makan, ia kembali melihat sepiring nasi goreng dan s**u yang sengaja disediakan untuk Castellia. Wanita itu justru mendengus dan mengabaikan makanan tersebut. Castellia mengambil sebotol jus jeruk dari dalam lemari es dan menuangkan ke dalam gelas kosong yang sudah ia ambil sebelumnya. Setelah selesai dengan aktivitasnya, pandangan Castellia kembali tertuju pada nasi goreng tersebut. Entah kenapa perutnya sama sekali tidak ingin diajak kerjasama dengannya. Bahkan lidahnya pun memaksa Castellia untuk merasakan masakan buatan Nick. Sambil mendengus, Castellia meraih sebuah sendok yang sudah tersedia lalu mulai menyendok nasi goreng tersebut dan memakannya. Seketika matanya membelalak sempurna sambil mengunyah makanannya. "Enak sekali!" Castellia memekik tak percaya. "Ini seperti nasi goreng buatan restoran mewah. Oh God! Ternyata dia pintar memasak," gumamnya dan kembali memakan nasi goreng tersebut. Castellia tidak percaya bahwa dirinya telah menghabiskan separuh nasi gorengnya. Ia terus melahapnya dan tidak menyadari kehadiran Nick yang ternyata kembali lagi untuk mengambil dokumen yang tertinggal. Melihat istrinya makan dengan lahap, Nick merasa sangat bahagia. Usahanya membuahkan hasil. Nick berdeham. "Bagaimana rasanya?" Castellia terkejut dan langsung berdiri dari kursi makan. Ia meminum jus jeruknya karena hampir tersedak. Nick pun merasa bersalah akan hal itu. "Maaf, aku tidak bermaksud mengganggumu," ucap Nick khawatir. Castellia hanya menggeleng lalu segera beranjak pergi dari hadapan Nick. Saat hendak membuka pintu kamar, Nick memanggilnya kembali. Castellia menoleh ke belakang dan menunggu Nick yang sedang menaiki tangga untuk menghampirinya. "Ehm.... Hari ini, aku ulang tahun," ujar Nick dengan tatapan teduhnya. Castellia menaikkan satu alisnya dengan raut wajah menunjukkan keheranan. Pertanda ia tidak mengerti dengan maksud Nick barusan, namun enggan bertanya langsung. Nick yang seakan tahu pun langsung berdeham dan mencoba untuk menjelaskan. "Apa kau mau menemaniku jalan-jalan?" tanya Nick sedikit gugup. "Hanya untuk malam ini. Aku janji." Castellia hanya diam sambil menatap datar suaminya. Merasa mendapat penolakan, Nick pun tersenyum kecil lalu berkata, "Tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksa. Aku ke kantor dulu ya. Permisi." Nick beranjak pergi dari hadapan Castellia dengan perasaan yang sedikit kecewa sekaligus sedih. Nick tahu, mengajak Castellia pergi untuk merayakan ulang tahunnya adalah kesalahan terbesar, karena wanita itu sudah pasti menolak ajakannya. Sesampainya di kantor, Nick mendapatkan surprise kembali dari rekan-rekannya. Mereka membuatkan kue yang spesial untuk Nick dan menyuapinya. Nick mencoba untuk tersenyum di tengah kesedihannya. Hanya sang istri yang tidak memberinya ucapan apapun. Padahal Nick sangat berharap sekali tadi. Tapi.... Ah sudahlah! Tidak ada gunanya juga Nick bersedih. Castellia juga tidak peduli padanya. "Selamat ulang tahun, Bos!" seru rekan-rekan kerja Nick. Nick mengangguk sambil tersenyum. "Terima kasih semua." "Hei, Bos! Bagaimana kalau kita adakan pesta malam ini, hm?" Michael memberi saran. "Setuju!" seru yang lainnya kompak. Nick terlihat sedikit ragu. Sebenarnya, Nick juga tidak terlalu suka pesta. Tapi, ia juga tidak bisa menolak permintaan rekan-rekannya. "Baiklah. Dimana?" tanyanya. "Hei, tentu saja di rumahmu, Bos. Taman di rumahmu itu sangat luas. Kita bisa adakan pesta barbeque di sana. Bagaimana?" ujar Michael sambil memain-mainkan alisnya untuk menggoda Nick. Allan hanya bisa menghela napas sambil geleng kepala melihat sikap Michael yang terkadang tidak ada sopannya dengan bos besar. Sebenarnya, Allan juga tidak suka pesta, sama halnya dengan Nick. Tapi karena permintaan Michael sebelum Nick datang, jadilah ia menyetujui kemauan Michael. "Ah ya, jangan lupa beritahu istrimu. Kami juga ingin berkenalan dengan Ibu Negara," lanjut Michael dan langsung mendapat jitakan dari Allan. Membuatnya meringis kesakitan. Jika sudah menyangkut Castellia, Nick menjadi bingung sendiri. Pasalnya, Nick tidak tahu apakah nanti Castellia bersedia ikut dalam pesta itu atau tidak. Tadi saat diajak pergi saja, Castellia tidak memberi respon apa-apa. Bagaimana ini? Pikir Nick. Seakan tahu Nick merasakan kecemasan, Allan mencoba mengalihkan pembicaraan. Allan memang selalu tahu apa yang sedang Nick rasakan. Tidak seperti Michael yang bisanya hanya mengoceh saja dan tidak tahu batasan. "Nick, kebetulan kita ada hal yang perlu dibahas tentang proyek susulan. Nanti saja kita bicarakan lagi masalah pesta ini," ujar Allan. Nick mengangguk. "Baiklah. Ayo ke ruanganku." "Pestanya bagaimana?!" teriak Michael saat Nick dan Allan berjalan meninggalkan Michael dan yang lainnya. Michael pun mendecak kesal lalu mengikuti Nick dan Allan, karena ia juga harus terlibat dalam proyek susulan tersebut. To be continue~
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN