"Maaf mau tanya Mas, di sini pusat perbelanjaan dimana ya?" tanya Nazeef.
Oke jangan salah paham, ia juga butuh membersihkan diri dan mengganti pakaian. Karyawan yang menjaga kasir langsung memberikan petunjuk, sejujurnya tidak susah untuk mencari sesuatu jika ponsel berada di tangan. Namun konsepnya sekarang berubah karena setelah melakukan panggilan dengan sang teman ponsel Nazeef kehabisan daya. Ia bisa saja mengisi daya di restoran , tetapi charger ponselnya entah hilang kemana. Ia sangat yakin pasti terjatuh saat tasnya diobrak abrik oleh beberapa orang yang menuduhnya berbuat m***m. Setelah pembayaran selesai, Nazeef tentu kembali ke tempatnya. Ia mengambil tas dan langsung beranjak. Mala buru-buru mengikuti langkah laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu. Ia tidak banyak bertanya dan hanya mengikuti saja, bahkan tidak tahu sudah berapa lama mereka berjalan. Jangan sampai pikiran Mala kemana-mana lagi.
"Beli untuk kebutuhan malam ini saja, besok kita sudah berangkat ke Jakarta," ujar Nazeef ketika sampai ke dalam pusat perbelanjaan yang lumayan besar.
"Haaa?" balas Mala dengan ekspresi kebingungan. Ingin rasanya Nazeef berteriak sekarang, tetapi tidak mungkin. Ia mencoba bersabar sekali lagi.
"Pilih kebutuhan kamu malam ini," ulang Nazeef lagi. Padahal kalimat yang pertama terlontar dengan kedua hampir sama, tetapi untuk menjelaskan kedua Mala dapat mengerti. Jangan harap Nazeef akan mengikuti Mala, ia tidak melakukan hal demikian. Setelah selesai membeli kebutuhannya, ia memilih untuk menunggu di kursi yang disediakan oleh toko.
Jangan tanya bagaimana bosannya Nazeef sekarang, bayangkan saja ia tidak melakukan apapun kecuali hanya termenung dan melihat beberapa orang berlalu lalang. Ponselnya kehabisan daya, jadi apa yang harus dia lakukan kala menunggu? Sama sekali tidak ada. Nazeef ingin duduk dengan tenang sehingga ia memakai masker yang dibeli ketika baru masuk ke dalam pusat perbelanjaan. Ide itu muncul karena ia tidak mau dilihat-lihat oleh orang lain. Risih? jelas saja, toh dia bukan artis idol ataupun seseorang yang memberikan manfaat.
Di samping itu, Mala mencoba mencari-cari pakaian dengan harga termurah. Jujur saja matanya sampai melotot melihat harga yang terpampang di sana. Jangankan pakaian biasa, pakaian dalam saja harganya begitu fantastik. Jika beberapa orang dilema soal model pakaian maka Mala dilema soal harga. Ia masih berusaha mencari, setidaknya harga di bawah seratus ribu rupiah.
"Cari apa ya Mbak?" tanya salah satu penjaga toko. Mala mulai kikuk, ia seperti maling yang tertangkap basah padahal ia tidak melakukan hal-hal aneh. Mala jelas seperti itu jika ditatap dengan sangat tidak bersahabat. Tatapan itu seperti menguliti dirinya saja.
"Maaf Mbak, pakaian yang harganya dibawah seratus ada?" tanya Mala memberanikan diri. Ia lelah mencari-cari sejak tadi, jangan sampai Nazeef menunggu terlalu lama dan meninggalkan Mala sendirian. Penjaga toko malah tertawa, bukan tawa karena lucu tetapi tawa meremehkan.
"Kalau mau cari harga segitu jangan di sini Mbak, tapi di pasar." Tidak ada yang salah dengan ungkapannya. Mala tersenyum canggung, ia kembali melihat-lihat pakaian sampai ada satu pakaian yang tidak sengaja terjatuh.
"Mbak sejak tadi cuma lihat harganya doang, kalau nggak niat beli jangan menambah kerjaan orang lain," celetuknya. Mala jadi takut dong, ia tidak sengaja menjatuhkan pakaian tersebut. Ketika Mala ingin mengambil, perempuan itu langsung mengambil dengan gerakan kasar. Mala bahkan sampai terkejut.
"Nanti tambah rusak, emang Mbak punya uang untuk bayar?" Mala menggeleng karena itulah kenyataannya, uang yang ada di ranselnya hanya berjumlah tiga puluh ribu saja. Itu pun sudah seminggu lebih Mala kumpulkan tanpa jajan dan beli apapun.
"Makanya Mbak!!" Nazeef merasa ada yang aneh, meskipun ia menunggu di kursi tunggu tetapi matanya tidak lepas dari Mala. Nazeef hanya khawatir Mala akan menambah masalah baru sehingga ia harus lebih memperhatikannya. Lihatkan, baru berapa menit Nazeef tidak ada didekat Mala tetapi sudah ada masalah yang muncul. Ia buru-buru dong bergerak ke sana.
"Kenapa?" tanya Nazeef yang tiba-tiba datang sambil membuka masker. Wajahnya terkesan datar tentu saja. "Begini Mas, perempuan ini menjatuhkan pakaian sampai kotor gini!" adu penjaga toko seakan-akan menyudutkan pihak Mala. Siapa yang tidak terpesona dengan penampilan Nazeef, bahkan dengan penampilan yang paling sederhana sekalipun. Lihat sekarang, beberapa penjaga toko senyum-senyum tidak jelas. Akhh, kenapa juga Nazeef melepaskan masker? Oke ini adalah kesalahan dirinya.
"Saya nggak sengaja Mbak, pakaiannya juga nggak kotor." Mala mencoba membela diri. Pakaiannya tidak kotor sama sekali tetapi kenapa penjaga toko berkata tidak sesuai dengan kenyataannya.
"Coba lihat Mbak, ini kotor! Nanti saya pasti ditegur sama atasan. Bayangkan gimana capeknya kami Mak." Lah, kok dia malah curhat begini? Jika lelah ya namanya juga pekerjaan. Jika tidak ingin lelah maka cukup rebahan saja di kamar. Pakaian tersebut memang terdapat noda berwarna coklat tetapi hanya sedikit saja. Noda dapat terlihat jika diperhatikan dengan teliti. Padahal tangan Mala bersih, lantai juga bersih kenapa bisa kotor? Berhubung Mala tidak mau memperpanjang masalah, ia langsung meminta maaf.
"Saya minta maaf Mbak," ujarnya dengan tulus. "Dari tadi kek Mbak, nggak perlu saya koar-koar nggak jelas gini." Nazeef langsung mengambil pakaian itu dari tangan penjaga toko, ia melihat harga yang terpampang di sana. Ternyata harganya seratus dua puluh empat ribu Rupiah, Nazeef melihat noda yang tertempel dengan seksama. Ia tertawa sejenak, jelas saja noda itu telah lama menempel.
"Mbak yakin noda ini baru saja melekat?" tanya Nazeef yang dari tadi menjadi penonton setia. Ia malas terlibat dalam perdebatan perempuan, namun dilihat dimana-mana pasti Mala akan kalah juga. Apa sih yang perempuan itu bisa? Nazeef jadi tidak berharap banyak dari sosok yang sudah menjadi istrinya itu.
"Yakinlah Mas! Mbak mbak ini dari tadi cuma lihat-lihat harga doang, saya jadi penasaran tujuan dia ke sini apa." Nazeef menggaruk hidungnya sejenak, sebenarnya ia ingin masalah ini selesai begitu saja namun sepertinya tidak bisa.
"Mbak pikir dia mau maling gitu?" tebak Nazeef langsung. Penjaga toko langsung terdiam, Nazeef yakin semua orang akan bisa menebak pikiran dari penjaga toko tersebut. Apalagi penampilan Mala seperti orang yang tidak terurus sama sekali. Zaman sekarang, orang menilai sesuatu dari penampilan. Padahal tidak semua berpenampilan sederhana isi dompetnya juga sederhana begitupun sebaliknya.
"Mbak lucu, kita nggak bisa nilai seseorang berdasarkan penampilan saja. Mentang-mentang gayanya gini, jadi mikir dia pasti nggak punya uang. Pantas saja sejak tadi saya perhatikan beberapa orang secara bergantian mengawasi dia," ucap Nazeef. Ia melihat di sekeliling toko, ternyata keamanan cukup ketat karena ada kamera CCTV yang terpasang di setiap sudutnya.
"Padahal di sini dipantau kamera CCTV," lanjut Nazeef lagi. Tidak ada yang berani angkat bicara sekalipun. Para pengunjung toko melihat ke arah mereka tentunya. "Udah Om," cicit Mala pelan. Ia bahkan memegang baju bagian bawah Nazeef. Nazeef tidak bisa membiarkan begitu saja, meskipun bukan Mala sekalipun yang diperlakukan dengan tidak baik maka Nazeef akan melakukan hal yang sama. Ini bukan tentang siapa tetapi tentang bagaimana menghargai orang lain tanpa melihat dari penampilannya.
"Saya tahu ini pekerjaan Mbak, tetapi tolong hargai orang lain. Ketika kita menghargai orang lain tentu orang lain juga akan menghargai kita." Nazeef mengeluarkan black card dari dompetnya, "Mbak tahu, perempuan ini adalah istri saya. Bagaimana perasaan saya jika kalian menuduh istri saya sebagai maling. Saya bahkan bisa membeli toko ini Mbak." Siapa yang bisa melawan Nazeef sekarang, ia yakin semua orang terkejut dengan apa yang dikeluarkan. Sangat jarang orang yang memiliki kartu black card, jadi wajar beberapa orang terkejut. Mala lebih terkejut lagi, ia tidak menyangka Nazeef mau mengakui dirinya di depan umum begini. Padahal bukan hanya kali ini, saat di dalam mobil travel Nazeef juga melakukan hal yang sama.
"Kenapa diam?" ujar Nazeef lagi.
"Saya benar-benar minta maaf Mas, saya telah melakukan kesalahan."
"Maaf, Kenapa ya Mas dan Mbaknya?" Tiba-tiba ada satu orang datang dengan setelan rapi. Nazeef bisa menebaknya dengan sangat baik, apalagi beberapa pekerja di sana tampak langsung pucat. Nazeef terdiam sejenak. Sebenarnya mulutnya gatal ingin mengadukan perbuatan yang tidak baik kepada salah satu pengunjung, namun Nazeef tidak bisa melakukan itu. Ia tidak bisa membiarkan orang lain kehilangan pekerjaan, bisa saja ia merupakan tulang punggung keluarga. Setidaknya untuk ke depan, karyawan itu tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi.
"Nggak apa-apa Pak, hanya soal salah paham," jawab Nazeef. Ia menyuruh Mala untuk melanjutkan mencari pakaian yang cocok untuk dirinya sendiri. Kali ini Nazeef tidak menunggu Mala dari jarak jauh, ia malah mengikuti Mala dari belakang. Mala juga tidak memilih-milih seperti awal tadi, ia langsung mengambil pakaian yang dirasa cocok dan nyaman. Nazeef langsung membawa barang belanjaan mereka ke kasir. Berhubung banyak orang yang juga ingin membayar, maka mereka terlibat antrian.
"Saya mau beli charger dulu di sana," ujar Nazeef sambil menunjuk sebuah toko yang menjual ponsel dan sejenisnya. Letakkan tidak jauh, malahan tepat berada di depan toko yang mereka injak saat ini.
"Nggak ditinggalkan?" Mala masih takut, ia tidak memiliki siapa-siapa lagi. Hanya Nazeef harapan ia satu-satunya, setidaknya ia bukan istri kedua. Menurut Mala itu sudah lebih dari cukup, mau ia jadi pembantu sekalipun nanti di rumah Nazeef ia tidak akan masalah sama sekali. Asal jangan meninggalkan dirinya sendiri di kota ini. Ia bahkan seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Nazeef tidak menjawab, ia memberikan kartu debit kepada Mala untuk membayar tagihan belanjaan mereka. Mala menerima kartu itu walaupun tidak tahu bagaimana cara menggunakannya. Ia cepat menganalisis sesuatu, jadi ketika beberapa orang di depannya membayar dengan kartu debit juga maka Mala memperhatikannya. Akhirnya ia tahu bagaimana cara menggunakan kartu tersebut. Setidaknya Mala harus semangat belajar tentang dunia luar. Selama ini yang ia tahu hanyalah sekolah dan asrama, ia bahkan tidak bisa menggunakan ponsel. Meskipun Nazeef sibuk memilih-milih charger, matanya tetap sesekali melirik Mala yang tidak berada jauh dari dirinya.
"Yang originalnya Mbak," ujar Nazeef. Membeli yang palsu hanya akan menghabiskan uang karena tentu ketahanan barang tersebut tidak seperti aslinya. Untung saja uang casnya cukup, tidak mungkin Nazeef menggunakan kartu yang katanya black card tadi. Jika Nazeef boleh jujur, kartu itu bukan black card sungguhan. Ia hanya menempelkan stiker saja di kartu ATMnya satu lagi seakan-akan terlihat seperti black card. Hal itu dilakukan sudah lama, ia mengambil stiker dari kamar sang adik. Ternyata berguna juga, pikirnya. Mala dapat bernafas lega, akhirnya ia dapat menyelesaikan pembayaran. Kebetulan Nazeef juga sudah selesai beberapa menit yang lalu, ia bahkan sudah menunggu di luar toko.
“Ada yang mau dibeli lagi?” tanya Nazeef. Mala menggeleng, ia merasa sudah cukup. Bagaimana mungkin Mala menambah barang belanjaan jika harga yang sudah dibeli saja tidak main-main. Nazeef mencari tempat untuk bisa mencharger ponselnya sebentar, ia tidak mungkin berjalan kaki untuk sampai di apartemen sang teman. Nazeef tidak olahragawan itu. Pilihannya jatuh pada cafe yang berada di dalam pusat perbelanjaan.
“Kamu mau ice cream?” Mala menggeleng kemudian mengangguk. “Kamu mau atau enggak?” Ulang Nazeef lagi dengan wajah datar. “Mau Om,” jawab Mala langsung.
Nazeef memesan kopi dan juga ice cream untuk Mala. Setidaknya beberapa menit saja daya ponselnya akan terisi beberapa persen. Sejak tadi Nazeef penasaran, ia langsung saja bertanya, “ponsel kamu mana?”
“Saya nggak punya Om.” Jawaban Mala mampu membuat Nazeef syok berat. Ini zaman apa? Anak umur 3 tahun saja sudah mempunyai ponsel sendiri sedangkan Mala tidak punya benda kotak tersebut. Jelas dong Nazeef kaget.
“Yang kamu panggil ibu kemarin itu ibu kandung kamu atau ibu tiri?” Nazeef sedikit penasaran, soalnya Mala selalu dibilang-bilang sebagai anak haram.
“Kalau kamu nggak mau jawab nggak apa-apa,” lanjut Nazeef lagi. Sebenarnya Mala ingin menjawab, namun karena Nazeef sepertinya tidak terlalu ingin mengetahui jawaban itu maka Mala mengurungkan niatnya untuk menjawab. Pesanan mereka sudah datang. Mata Mala sudah berbinar-binar seperti mendapat hal yang begitu menakjubkan padahal hanya ice cream saja.
Nazeef memperhatikan bagaimana Mala menikmati semangkuk ice creamnya, ia sengaja untuk memesan ukuran besar agar Mala merasa puas. Nazeef merasa benar-benar sedang berjalan dengan seorang anak kecil sekarang, lihat saja mulut Mala belepotan kemana-mana. Nazeef menyodorkan selembar tisu. Mala hanya menatap Nazeef saja tanpa mengambil tisu tersebut.
“Usap mulut kamu,” ujar Nazeef. Jangan harap ia akan senang hati melakukan tindakan terkesan romantis bagi beberapa orang. Ia hanya menyodorkan tisu saja bukan malah mengusap mulut Mala dengan tisu tersebut.
“Eh, makasih Om!” Mala buru-buru mengambil tisu tersebut. Ia bahkan tidak sadar jika ice creamnya sudah merambah kemana-mana. Akhirnya ponsel Nazeef terisi daya juga, ia segera mengaktifkannya. Ada beberapa pesan masuk, tenang saja pesan itu berasal dari teman-teman dan keluarganya. Jangan tanya tentang Mika karena Nazeef langsung memblokir nomornya. Sebenarnya ada beberapa panggilan suara dan juga pesan dari nomor yang tidak dikenal. Nazeef tidak akan membuka pesan tersebut sampai kapanpun juga. Biarkan waktu yang akan membuat lukanya kembali sembuh. Ia bukan tipe orang yang merusak hubungan orang lain. Ketika sudah mengkhianati kepercayaannya maka Nazeef tidak akan pernah menerima kembali apapun alasannya.